Pasar Seni DKM, Kerinduan Akan Eksisnya Pasar Seni di Kota Malang

Foto: Panitia Pasar Seni DKM siap menyajikan Pasar Seni dengan berbagai agenda. (ned)

BACAMALANG.COM – Saat ini Kota Malang semakin dikenal sebagai kota tujuan wisata dengan keunikan heritage dan seni budaya. Namun ironisnya, Kota Malang sampai sekarang tidak punya agenda sebagai daya tarik wisatanya. Hal ini diungkapkan salah seorang seniman Malang, Uddin Noor saat jumpa pers di gedung Dewan Kesenian Malang (DKM), Minggu (27/12/2020). “Sebagai kota wisata, seharusnya Malang seperti Bali dan Yogyakarta yang sudah punya pasar seni,” terangnya.

Oleh karena itu, lanjut Uddin, Dewan Kesenian Malang akan menyelenggarakan Pasar Seni dalam rangka merayakan Ulang Tahun ke-47. Uddin Noor, sebagai Ketua pasar Seni DKM 2020 menambahkan, Pasar Seni akan digelar Senin, 28 Desember 2020 hingga Jumat, 1 Januari 2021 di Gedung Dewan Kesenian Malang Jl.Majapahit 3 Kota Malang.

Ia menguraikan, bahwa keberadaan pasar seni akan menghidupkan seni budaya maupun perekonomian kreatif yang ada di dalamnya, mulai musik, tari hingga kuliner.
Uddin mengatakan, dari pasar seni, akan tampak karakter budaya suatu wilayah.
“Misalnya per kecamatan di Malang, ada salah satu batik yang menonjol. Maka bisa diupayakan bagaimana batik menjadi Pusat Kemapanan, dengan bermitra dengan Pemerintah,” ujarnya.

Jadi untuk tahun ajaran baru dapat dibuat seragam batik siswa dengan ciri khas masing-masing wilayah, yang digarap perajin di daerah itu sendiri. “Ini dalam artian bukan melarang siswa beli seragam ke toko, tapi bagaimana membuat suatu kemapanan,” tegasnya.

Sementara kerjasama juga bisa digiatkan di bidang lain seperti perajin topeng dengan PHRI misalnya, hingga di bidang sastra dengan banyaknya konten yang menarik untuk dipublikasikan. “Pasar Seni yang digarap DKM ini sebagai upaya menghadirkan pasar seni yang harusnya ada dan abadi, bukan sekedar expo,” tandasnya.

Uddin berharap ke depan Pemerintah Daerah dapat menyelenggarakan Pasar Seni ini sebagai agenda yang kontinyu. Pasar Seni ini didukung enam bidang seni Dewan Kesenian Malang meliputi musik, tari, sastra, teater, rupa, film dan media baru.
Selama seminggu, Pasar Seni akan menggelar workshop kerajinan tradisi, topeng bubur kertas, raket jabung, musik (didgeridoo, rinding), mulas wayang kulit, pagelaran tari dari Sanggar Citra Natya Budaya, Shakuntala, Sentra Budaya, Nava Kendedes, dan Sekar Tanjung.

Ada launching antologi puisi penyair Malang Raya “Sajak Dwiawangga Dunia Tak Lagi Dingin”, pentas musik Kak Fery, Bejo Rinding, Azis Franklin, Soegeng Rawoeh dan orasi kebudayaan oleh Yusri Fajar. Ada pula stan industri kreatif, yang menampilkan sosok seniman di Kota Malang yang piawai membuat dan memproduksi instrumen musik tradisi Indonesia: Arik Sugianto, Isa Ansori, Azis Franklin, Bejo Rinding, Budi Ayin. Tersedia pula berbagai instrumen musik tradisi dari rinding malang, angklung towel, rainstick, sapek, kulcapi, hasapi, fujara, kajoon, gamelan, seruling, didge bamboo, didge kayu, gendang, occarina kayu, bansi minang, saluang, siter, solawa, yang dijual dengan harga dipatok dari 50 ribu hingga 100 juta rupiah.

Pada Pasar Seni ini juga terdapat stan Museum Musik Indonesia menampilkan koleksi instrumen musik dari Sumatera hingga Papua, sebagai kepentingan edukasi dan apresiasi kepada masyarakat, serta pemutaran dokumentasi Digitalisasi Relief Candi Jago oleh Syarifuddin, penerima Fasilitasi Bidang Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud tahun 2020. (ned)