Pedagang Pasar Besar Resah, Made Rian Sebut Revitalisasi Belum Resmi

Foto: Ketua DPRD Kota Malang (baju merah) bersama perwakilan pedagang Pasar Besar Malang. (ist)

BACAMALANG.COM – Terkait adanya wacana Pasar Besar Kota Malang (PBM) direvitalisasi, HIPPAMA (Himpunan Pedagang Pasar Besar Malang) dan DPRD Kota Malang melakukan hearing.

Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika menjelaskan bahwa apa yang disampaikan oleh Walikota Malang terkait revitalisasi PBM belum resmi. Hal tersebut dikarenakan sampai dengan hari ini, tidak ada surat masuk kepada DPRD Kota Malang terkait rencana revitalisasi Pasar Besar tersebut.

“Walikota belum ada satu suratpun kepada DPRD terkait revitalisasi pasar besar,” tutur Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika, S.E.

Ia juga menerangkan sampai saat ini masih belum ada surat yang diajukan oleh PT. Matahari selaku pengelola Pasar Besar kepada Pemkot Malang untuk merubah perjanjian kerjasama yang ada.

“Matahari juga belum ada jawaban dan surat resmi ke pemerintah kota. Tidak mungkin dibangun, matahari pada bulan juli belum merubah adendum tahun depan tidak mungkin dibangun,” jelasnya.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang tersebut juga berkomitmen dalam setiap perumusan program yang berkaitan dengan renovasi maupun revitalisasi Pasar Besar, pihaknya akan terus berkomunikasi dengan para pedagang.

“Saya dalam memutuskan adendum itu pasti saya melibatkan pedagang sebagai subjek dan objek yang harus memiliki hak dan tanggung jawab yang harus dipenuhi. Supaya kita bisa mendeteksi kebutuhan-kebutuhan para pedagang lebih dini, sehingga komunikasi terbangun,” bebernya.

Akhir kata, pria yang akrab disapa Made tersebut juga meminta pedagang untuk tidak perlu khawatir revitalisasi akan dilakukan dalam waktu dekat ini. Ia meminta para pedagang untuk beraktifitas seperti biasa dan apabila ada perkembangan terkait rencana Pemkot untuk merevitalisasi pasar, pihaknya akan terus berkomunikasi dan menampung aspirasi para pedagang.

“Mau membangun tanpa melibatkan dewan itu tidak mungkin. Jadi menurut saya tidak perlu ditanggapi secara berlebihan, jalan saja seperti biasa,” tegasnya.

Pelibatan Pedagang

Sementara itu, adanya wacana revitalisasi PBM memantik keresahan pedagang pasar. Menurut Ketua HIPPAMA Muhammad Hatta mengutarakan, mereka dalam proses penyusunan kebijakan revitalisasi yang tidak melalui tahapan hearing dengan para pedagang.

“Kita punya pemikiran selain penyakit pandemi covid-19, sekarang banyak orang susah dibawah. Saya menghimbau kepada Bapak pimpinan, pembangunan ini supaya dihentikan walikota jangan koar-koar ingin lapak pedagang dibongkar,” ujar Hatta.

Senada dengan yang disampaikan Hatta, Sekretaris HIPPAMA Zainul menerangkan ketakutan pedagang akan adanya rencana revitalisasi pasar ini. Menurutnya pedagang sudah seharusnya dilibatkan dalam proses perencanaan revitalisasi pasar besar sebagai pihak yang terdampak kelak. Terutama setelah Pemerintah Kota Malang bicara di media bahwa anggaran untuk revitalisasi Pasar Besar disiapkan sebesar Rp. 125 Miliar, ini semakin membuat pedagang resah.

“Proses yang harus dilakukan pengumpulan pembicaraan dengan matahari dan relokasi pedagang. Pasar besar akan dibangun tahun berikutnya ditahun 2022, 125 M itu sudah ditetapkan, ujar Walikota disalah satu media. Pedagang perlu dilibatkan, langkah perdana seolah olah pemkot tidak mau mendengar suara pedagang. Ini membuat pedagang resah,” terang Zainul.

Pihaknya juga menanyakan rasionalisasi dari Pemkot Malang dalam melakukan revitalisasi. Menurutnya kebutuhan pedagang hanya sekedar renovasi di beberapa titik di Pasar Besar yang terdapat kebocoran pada saat hujan.

“Atas dasar apa pemda mau melakukan pembangunan ulang pasar besar padahal hanya cukup renovasi. Keluhan pedagang pasar itu hanya kebocoran yang merupakan tanggung jawab dari pihak matahari selaku penanggungjawab perjanjian kerjasama,” ucapnya. (*/had)