Pejabat Negara, Dubes dan Musisi Ramai Beri Pandangan tentang Sound of Borobudur

Sound of Borobudur wujud revitalisasi yang sudah direkonstruksi. (ist)

BACAMALANG.COM – Tinggal menghitung hari, event bergengsi Sound of Borobudur digelar pada 24 Juni 2021 mendatang. Pejabat Negara, Dubes dan Musisi ramai memberikan pandangan positif tentang Sound of Borobudur.

“Dalam pentas diplomasi Borobudur sudah diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Warisan tangible sudah jelas, secara fisik terlihat. Sementara warisan intangible sebetulnya tidak ada habisnya kalau kita gali, dan seharusnya bisa menjadi daya hidup untuk mereka yang mewarisinya,” tegas
Dubes RI untuk Venezuela, Mayjen TNI (Purn) Imam Edy Mulyono.

“Bisa jadi borobudur ini memang sebuah super komputer untuk mengarsipkan seluruh pengetahuan yang dimiliki di dalam relief-reliefnya. Baik yang bersifa musikal, maupun pengetahuan-pengetahuan yang lain. Termasuk dalam hal pengetahuan-pengetahuan astronomi. Mungkin kita saja yang belum bisa menerjemahkan dan memahaminya.
Hal sejenis juga ditemukan di beberapa negara di Amerika Selatan. Ada kecerdasan-kecerdasan yang tinggi, yang hari ini kita sudah kehilangan.
Dalam segi diplomasi, budaya, termasuk musik, menjadi sesuatu yang cukup penting untuk menjadi media dalam membangun persahabatan antar bangsa,” jelasnya.

SEBAGAI REVITALISASI

Sementara itu, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, Dr. Hilmar Farid mengatakan, Sound of Borobudur ini merupakan revitalisasi nilai dari Borobudur itu sendiri, bagaimana menarik Borobudur keluar dari batunya, tapi “hidup”.

“Bahwa pada saat ini Sound of Borobudur menjadi sebuah bukti kongkrit, di mana eksistensi Borobudur sebagai sebuah substansi bisa ditarik ke luar candi, dalam nilai, spirit, maupun material, namun tetap tidak keluar dari koridor substansi Borobudur itu sendiri. Proses revitalisasi itu sudah di-rekonstruksi, kemudian dimainkan dengan reinterpretasi kekinian. Ini sebuah pembuktian bahwa Borobudur itu adalah sebuah perpustakaan, bukan sekedar gagasan dan kajian, tapi bisa dibuktikan,” ungkapnya.

TANTANGAN DAN NIAT BAIK

“Ini adalah kerjaan gila, Mbak Iik (Trie Utami) itu memang suka ngasi masalah. Borobudur itu gambar, relief, yang coba dibunyikan. Awalnya Mbak Iik mengenalkan saya dengan alat musik Borobudur bersama Jaringan Kampung Nusantara,” tandas Musisi Papan Atas, Dewa Budjana (Sound of Borobudur).

“Bagi saya, Sound of Borobudur adalah sebuah tantangan dan niat baik untuk bangsa ini. Saya cukup puas, setelah 5 tahun kami berproses diawali dengan komposisi-komposisi yang kamipun saat ini sudah lupa, dan bersyukur bahwa sekarang Sound of Borobudur telah berkembang menjadi seperti ini.
Ada ratusan alat musik yang tergambar di relief Candi Borobudur. Diantara alat musik itu juga ada yang bukan dari Jawa, melainkan dari Kalimantan, bahkan ada yang dari Thailand atau India. Dari situ kami menduga, dulu Borobudur merupakan pusat seni dunia,” paparnya.

“Atau kalau tidak, disini merupakan pusat berkumpulnya seniman-seniman dari seluruh dunia, dengan alat-alat musik yang berbeda. Mungkin zaman dulu di sini pernah ada konser besar seluruh dunia. Mengenai bunyi pada tiap-tiap alat musik ini, memang kami interpretasikan, karena kita nggak tau dulu bunyinya bagaimana, atau bahannya apa. Kita hanya tau bentuknya. Kami melihat dari gambar relief, diwujudkan, baik secara bentuk maupun skala,” imbuhnya.

“Pada awal berproses antar musisi, kami menyepakati dulu tuning-nya, kemudian dibuatlah dalam notasi not balok untuk memudahkan orang-orang lain dalam memainkannya. Namun dalam berproses ini, kami berkreasi dengan kesensitivan tinggi, akhirnya Mas Purwa lah yang memandu, menjaga alur,”: tuturnya.

“Bagi saya, Jawa itu sentralnya adalah Borobudur. Maka, melalui Sound of Borobudur ini bukan hal yang mustahil untuk mengembangkannya menjadi pusat musik. Partitur sudah ada, dari Mas Purwa, di Jawa Tengah sudah ada beberapa sekolah musik, tinggal disinergikan saja,” tukasnya.

BERDENTANG, BERBUNYI DAN BERGEMA

“Bagaimana Borobudur berbunyi dulu, berdentang, dan bergema. Itulah target kami lima tahun kemarin ini. Tentu masih banyak PR, dan masih banyak yang harus dibenahi serta disempurnakan. Tuning yang ada pada instrumen ini tidak baku, hanya sebagai kesepakatan bersama untuk bisa memulai membunyikannya pada saat ini. Jadi alat-alat ini sangat terbuka kemungkinannya untuk dimainkan dengan berbagai tuning, dan berbagai re-interpretasi,” tutur Trie Utami (Sound of Borobudur).

“Adanya interpretasi, dan bukan preservasi seperti museum. Namun kajian masa lampau tetap dibutuhkan untuk menjadi basic berpikir, agar dapat diolah selanjutnya secara kekinian.
Saat ini relief Borobudur sudah berbunyi. Ini baru permulaan. Sound of Borobudur adalah lokomotif. Lokomotif ini bukan di museum tempatnya, tapi di rel kereta api. Dan untuk membaca masa depan, maka kita harus tahu dulu apa yang terjadi dan ada di masa lalu
Setelah 13 abad berlalu, gerakan Sound of Borobudur mengantar pulang alat-alat musik ini kembali ke “rumah”nya. Spirit dan revitalsi candi borobudur sudah direkonstruksi dan di-re-interpretasi kekinian. Di mana keberadaan entitas Sound of Borobudur ini nantinya harus dapat dinikmati oleh masyarakat di kawasan di mana Borobudur berdiri. Caranya adalah dengan bekerja sama, dan kerja bersama-sama,” imbuhnya.

“Kami ini menemani masyarakat desa, sebagai fasilitator untuk desa-desa. Menyambungkan situasi riil di lapangan dengan jejaring stakeholders terkait. Masyarakat harus jadi pelaku, bukan sekedar jadi penonton, harus terjadi tumbuh berkembang secara bottom-up dan tidak hanya menjadi program top down. Turunan dari program ini, khususnya yang untuk masyarakat langsung, adalah adanya kurasi produk-produk dalam berbagai level grade, karena sebetulnya sangat banyak ceruk-ceruk produksi yang mendorong dan mendukung sektor pariwista. (*/had)