Pengabdian Masyarakat di Masa Pandemi dengan Berdayakan Pekerja Musik di Kota Malang

Foto: Dr. Wahdiyat Moko, SE., MM., CPHR. Wakil Direktur Bidang Inkubasi. (kiri), Wahyoe GV Arema Voice (kanan) saat berada di AV Cafe Story, Jl. Trunojoyo (wahyu)

BACAMALANG.COM – Pertunjukan musik adalah sesuatu hal yang paling ditunggu-tunggu oleh penikmat musik. Sudah hampir setahun lebih, keramaian even musik di Indonesia libur atau tidak terselenggarakan. Hal ini membuat banyak musisi harus rela menggantungkan alat musiknya, bahkan menjualnya untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Menyikapi hal ini, maka pada saat ini perlu adanya kolaborasi antar semua pihak agar pekerja musik tetap produktif dan ada pemasukan. Seperti yang dilakukan  oleh Wakil Direktur Bidang Inkubasi Universitas Brawijaya (UB) Dr. Wahdiyat Moko, SE., MM., CPHR. dengan menggandeng sejumlah musisi yang ada di Kota Malang.

Bentuk kolaborasinya yakni dengan menggelar acara musik secara virtual sebagai bentuk pengabdian masyarakat bertema “Pemberdayaan Pekerja Seni Musik Pada Masa Pandemi di Kota Malang”. Acara ini bertempat di AV Cafe Story Kota Malang dengan melibatkan sejumlah musisi seperti Jojo (musisi muda) Arema Voice, Antok Yunus, Wordhy Fals hingga S.O.G band.

Dr Wahdiyat Moko menuturkan, acara ini didasari oleh Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terdiri dari 3 poin, yaitu : Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, Pengabdian kepada Masyarakat. Hal inilah yang membuat Moko ingin merealisasikan point ke-3 dengan terjun langsung berkolaborasi dengan para musisi di Kota Malang.

“Pada dasarnya acara ini merupakan salah satu bentuk dari aktivitas dosen. Dosen itu aktivitasnya ada tiga, ada mengajar, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Dan ini adalah bentuk pengabdian masyarakat, yang mana semua dosen itu dituntut untuk bisa memecahkan masalah yang ada di masyarakat.” tutur Moko, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UB ini.

Permasalahan musisi ini pada masa pandemi, lanjut dia, menjadi salah satu fokus yang harus di pecahkan. Pasalnya, adanya pandemi ini membuat banyak musisi menjadi lesu, karena selama ini mereka bergantung dari keramaian penonton acara musik.

“Masing-masing dosen ini memiliki bentuk sendiri-sendiri, bentuk saya sekarang ini adalah Pemberdayaan pekerja seni musik pada masa pandemi di Kota Malang. Karena memang sekarang banyak pemusik yang sudah menggantung alat musiknya, bahkan ada yang digadaikan dan dijual. Jadi banyak yang tidak bisa aktif, maka dari problem seperti ini saya punya ide bagaimana kalau saya memulai dengan pemberdayaan pekerja seni musik di kota Malang ini. Karena di masa pandemi ini kan banyak yang harus di garap, maka saya fokus dulu di musik ini.” paparnya.

Moko pun berharap, apa yang bisa dilakukannya ini dapat dikembangkan lagi agar para musisi kembali produktif dan beraktivitas. Pengembangan yang dimaksud yaitu membuat beberapa rekaman musik, konten-konten edukasi tentang musik yang dapat dinikmati semua orang.

“Maka dari itu saya ingin nanti acara seperti ini rutin, seminggu sekali atau bagaimana. Seterusnya kepingin saya seperti itu. Nah nanti kalau memang dananya belum cukup, saya akan gandeng pihak-pihak lain ya seperti teman-temn kampus, pengusaha-pengusaha atau beberapa pihak lainnya.” tandasnya.

Pemberdayaan ini, terang dia, hanya memfasilitasi bukan untuk mewadahi sehingga kedepannya bisa menyesuaikan keinginan musisi tanpa bermaksud mengarah-ngarahkan.

“Pesan saya untuk musisi di Malang ya tetap berkarya, dan berkolaborasi sesama musisi karena kita hidup tidak bisa sendiri. Dengan berkolaborasi bisa saling membantu dan memunculkan sinergi dan kualitas musik yang semakin baik. Jadi kita harus berkolaborasi, saling memberikan informasi dan berbagi ilmu.”

Selain itu, Moko juga berpesan kepada para mahasiswa FEB UB agar produktifitasnya lebih ditingkatkan lagi, dan berani berkarya. “Saya berharap mahasiswa saya juga bisa seperti saya, kalau di masyarakat dia harus peka dan juga bisa membantu,” ungkapnya.

Menurutnya, mahasiswa sekarang memang berbeda tidak seperti dahulu. “Karena sekarang mahasiswa harus berkarya juga di luar, supaya siap menghadapi dunia nyata yang lebih ganas, apabila mahasiswa hanya di kampus saja bagaimana nanti kalau sudah lulus, dia bisa mengalami kesulitan,” lanjutnya.

Foto: Penampilan Wordy Fals. (ist)

Sementara itu, Wahyoe GV sebagai salah satu musisi senior di Kota Malang mengaku sangat mengapresi adanya program pengabdian masyarakat dari akademisi FEB UB.

“Kami sangat senang apabila ada beberapa pihak yang peduli dengan para musisi di Kota Malang ini, karena saat ini memang para musisi ini dalam keadaam masa sulit,” tuturnya.

Mewakili para musisi, pihaknya ingin program ini dapat berkelanjutan dan bisa bermanfaat besar. “Ya paling tidak kita punya teman lagi di UB yang bidangnya memang untuk kemasyarakatan. Apalagi niatnya ingin peduli untuk membantu teman-teman musisi untuk bisa aktif kembali, bisa menyemangati,” ungkap Wahyoe.

Dalam kesempatan ini, pendiri band Arema Voice ini juga berharap agar even-even musik di Kota Malang dapat berjalan kembali. “Acara ini juga mengawali untuk acara lainnya dapat berjalan, dan juga sebagai tanda bahwa semua sektor khususnya seni musik harus saling berkolaborasi dan saling menguatkan,” pungkasnya.

Ia menjelaskan, acara yang terselenggara ini memang spontanitas dan tidak tersiar secara luas, dikarenakan juga masih mentaati peraturan pemerintah terkait protokol kesehatan.

“Acara musik ini disiarkan live melalui instagram dan channel youtube  karena kita mengikuti protokol kesehatan. Jadi saya memang tidak undang-undang, yang datang hanya spontanitas saja. Intinya acara ini bisa terselenggara dulu, sambil menunggu level di Malang ini menurun, sehingga paling tidak kita bisa beraktivitas meskipun terbatas kita juga tidak masalah,” tukasnya.

“Yang terpenting kita sudah mulai. Kan kita sudah setahun lebih, jadi kasihan teman-teman yang biasanya main di Mal, di kafe dan tempat yang lainnya. Dan juga banyak alat-alat musik itu pada dijual untuk kebutuhan hidup, karena mereka semua (mayoritas) berkeluarga,” imbuhnya. (why/red)