Pengaruh Kinerja UMKM Selama Masa Pandemi Covid-19

Foto: Dampak Corona ke Ekonomi (Tim Infografis Fuad Hasim)

Pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini mau tidak mau memberikan dampak terhadap berbagai sektor. Pada tataran ekonomi global, pandemi COVID-19 memberikan dampak yang sangat signifikan pada perekonomian domestik negara-negara termasuk keberadaan UMKM di Indonesia. Laporan Organisation for Economic Co- operation and Development (OECD) menyebutkan bahwa pandemi ini berimplikasi terhadap ancaman krisis ekonomi besar yang ditandai dengan terhentinya aktivitas produksi di banyak negara, jatuhnya tingkat konsumsi masyarakat, hilangnya kepercayaan konsumen, jatuhnya bursa saham yang pada akhirnya mengarah kepada ketidakpastian. Jika hal ini berlanjut, OECD memprediksi akan terjadi penurunan tingkat output antara seperlima hingga seperempat di banyak negara, dengan pengeluaran konsumen berpotensi turun sekitar sepertiga. Prediksi ini tentu mengancam juga perekonomian nasional Indonesia.

Aknolt Kristian Pakpahan menyebutkan ada tiga implikasi bagi Indonesia terkait pandemi COVID-19 ini yakni sektor pariwisata, perdagangan, dan investasi. Indonesia yang didominasi oleh keberadaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor perdagangan saat ini dihadapkan pada masalah penurunan penjualan, kesulitan memperoleh bahan baku, terhambatnya produksi dan distribusi., kesulitan permodalan, ujisebagai tulang punggung perekonomian nasional juga terdampak secara serius tidak saja pada aspek total produksi dan nilai perdagangan akan tetapi juga pada jumlah tenaga kerja yang harus kehilangan pekerjaannya karena pandemi ini. Data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KemenkopUKM) menunjukkan bahwa pada tahun 2018 terdapat 64.194.057 UMKM yang ada di Indonesia (atau sekitar 99 persen dari total unit usaha) dan mempekerjakan 116.978.631 tenaga kerja (atau sekitar 97 sementara 3 persen sisanya dibagi-bagi pasa sektorindustri besar  Angka ini menunjukkan fakta yang lebih tinggi dari yang dilaporkan oleh Bank Indonesia yaitu sebesar 72,6% dan lebih rendah dari yang dilaporkan oleh LIPI yaitu sebesar 94,7%. Kedua riset terakhir dilakukan pada bulan Juni 2020, akhir Kuwartal II tahun 2020.

Berbekal dari data Kemenkop UKM, dilaporkan bahwa sejumlah 56% UMKM mengaku mengalami penurunan pada hasil omzet penjualan akibat pandemi Covid-19, 22% lainnya mengalami kesulitan dalam mendapatkan pembiayaan/kredit, 15% mengalami permasalahan dalam distribusi barang, dan 4% sisanya melaporkan kesulitan mendapatkan bahan baku mentah.   Dari seluruh UMKM yang terdata dalam riset ini, komposisi UMKM yang bergerak dalam industri mikro menempati angka 87.4%. Alhasil, dampak awal pandemi Covid-19 pada sektor UMKM terdeteksi pada level UMKM mikro ini.   Angka ini menunjukkan fakta yang lebih tinggi dari yang dilaporkan oleh Bank Indonesia yaitu sebesar 72,6% dan lebih rendah dari yang dilaporkan oleh LIPI yaitu sebesar 94,7%. Kedua riset terakhir dilakukan pada bulan Juni 2020, akhir Kuwartal II tahun 2020.

Lalu UMKM sektor apa sajakah yang terdampak dari pandemi Covid-19 saat ini?

Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa UMKM eksportir merupakan yang paling banyak terpengaruh, yaitu sekitar 95,4% dari total eksportir. UMKM yang bergerak dalam sektor kerajinan dan pendukung pariwisata terpengaruh sebesar 89,9%. Sementara sektor yang paling kecil terimbas pandemi Covid-19 adalah sektor pertanian, yakni sebesar 41,5%. Sementara itu, pada level pengusaha, data riset Kementerian Koperasi dan UKM, melaporkan UMKM yang terdiri dari pedagang besar dan pedagang eceran mengalami dampak pandemi Covid-19 yang paling tinggi (40,92%), disusul UMKM penyedia akomodasi, makanan minuman sebanyak (26,86%) dan yang paling kecil terdampak adalah industri pengolahan sebanyak (14,25%).

Merujuk pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 19/2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat pada Wilayah Pulau Jawa Bali, dalam rangka Pembatasan Mobilitas Sosial ditengah melonjaknya angka kasus COVID-19  di Indonesia. Selama kebijakan diberlakukan kegiatan pembatasan dari pemerintah menetapkan dengan adanya PPKM yang baru direvisi yang mana mengharuskan sektor non-esensial wajib menerapkan Work From Home (WFH) sebesar  50 persen dan di bolehkan Work From Office (WFO) 50 persen uang sebelumnya  diharuskan bekerja dirumah secara total, Mall ditutup untuk sementara dan Rumah makan atau Restoran di haruskan untuk dibawa pulang (take away) dan tidak menerima makan ditempat (dine-in).

Ditakutkan dengan jika hal ini terus berlanjut maka aktivitas ekonomi terutama produksi, distribusi, dan penjualan akan mengalami gangguan Kinerja UMKM yang sudah terancam akan semakin merosot. Tidak salah jika muncul kekhawatiran apalagi jika melihat besarnya jumlah UMKM di Indonesia dan jumlah tenaga kerja yang terserap dalam UMKM. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 61,41 persen pada tahun 2018. Tentu kontribusi ini menunjukkan peran UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional Indonesia.

Implikasi negatif akibat pandemic covid 19 mulai memukul usaha Mikro ini mulai mengalalmi penurunan kinerja yang cukup signifikan di mana penurunan ini akibat dari tidak adanya pendapatan UMKM yang terpaksa harus tutup  disebabkan karena konsumsi dan daya beli masyarakat yang menurun. Konsumsi dan daya beli masyarakat menurun disebabkan dari pengurangan dan mengalami pemutusan hubungan kerja, Di samping banyak pekerja lepas yang tidak lagi mendapat panggilan kerja.

Permintaan sangat menurun juga diakibatkan masyarakat takut untuk keluar rumah. Mereka takut tertular ataupun terpapar virus corona. Ini mengakibatkan menurun secara drastis permintaan dari daya beli masyarakat terjadap usaha kecil maupun menengah UMKM di berbagai wilayah indonesia. Untuk itu harapanya semoga wabah pandemi ini segera berakhir dan mengembalikan kehidupan normal masyarakat.

Penulis : Reza Ayu Amanda, Luqman Dzul Hilmi (Universitas Muhammadiyah Malang, FEB / Manajemen)

Sumber : OCDC ,Humas LPI, Kemenkop UKM, BI, BPS