Peranan Wanita Dalam Keluarga dan Masyarakat Menurut Islam

Lely Susiyani S.Pd (ist)

Oleh: Lely Susiyani S.Pd

Wanita mempunyai peranan baik dalam keluarga maupun masyarakat dan negara. Peranan wanita tidak dapat dianggap sepele terkait besarnya peranan yang mampu mereka berikan.

Keluarga adalah masyarakat yang terkecil yang terdiri dari suami, istri dan anak. Keluarga adalah komponen utama bagian masyarakat yang terkecil menentukan bagaimana bangunan dari masyarakatnya.

Negara yang kuat dan kokoh dibangun oleh perempuan-perempuan yang baik, kuat, tangguh, sabar dan sholehah adanya hubungan yang harmonis antara suami, istri dan anak-anak. Peran dan tugas perempuan dalam keluarga, banyak wanita yang mampu berdiri sendiri dan berhasil dalam kehidupannya. Walaupun lembut dan berperasaan.

Tugas yang sangat mulia, yaitu menjadi seorang ibu yang mampu menciptakan kenyamanan bagi keluarganya. Maka peran wanita sholihah tidak dapat diremehkan sebab sangat besar sekali peran wanita yang mampu diberikannya.

Wanita dalam keluarga mempunyai 2 peranan yakni;

1. Menjadi seorang istri

Sungguh peranan yang sangat besar dampaknya bagi sebuah keluarga. peranan wanita dalam menjadi seorang istri sangatlah besar. Seorang suami tidaklah mampu melakukan tugasnya tanpa adanya seorang istri disampingnya yang mampu untuk mendukung, membantunya.

Mengenai hal ini, contohlah apa yang dilakukan oleh teladan kaum Muslimah, Khadijah Radiyallahu anha dalam mendampingi Rasulullah di masa awal kenabiannya. Ketika Rasulullah merasa ketakutan terhadap wahyu yang diberikan kepadanya dan merasa kesulitan, Khadijah lalu berkata :

“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Pernah juga Aisyah cemburu terhadap Khadijah dan berkata kepada Rasulullah : “Kenapa engkau sering menyebut perempuan berpipi merah itu, padahal Allah telah menggantikannya untukmu dengan yang lebih baik?”

Lalu Rasulullah marah dan bersabda “Bagaimana engkau berkata demikian?  Sungguh dia beriman kepadaku pada saat orang-orang menolakku, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia mendermakan seluruh hartanya untukku pada saat semua orang menolak mambantuku, dan Allah memberiku rizki darinya berupa keturunan.” (HR Ahmad dengan Sanad yang Hasan).

Demikianlah kecintaan Rasulullah kepada Khadijah, dan demikianlah seharusnya bagi seorang wanita muslimah di dalam keluarganya. Tidak ada yang diinginkan bagi seorang suami melainkan seorang istri yang dapat menerimanya apa adanya, percaya dan yakin kepadanya dan selalu membantunya ketika sulitnya.

Bagi seorang istri juga diwajibkan menutup aurat jika hendak keluar rumah dengan menjulurkan jilbab keseluiruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, perintah ini sama halnya dengan yang diwajibkan pada para wanita umumnya, perintah ini terdapat dalam Q.S Al Ahzab: 59.

Seorang istri juga harus bisa menjaga kehormatannya dan kesuciannya bukan pada kecantikan atau keeksisnya dalam kehidupan. Seorang istri dapat meneladani atau melihat keteladanan sayyidati maryam dalam Q.S. At Tahrim: 12. Wanita sholehah yaitu memiliki ketaatan kepada ALLAH dan kepada suaminya dalam arti mentaati dalam hal kemanfaatan sehingga terjalin klrga yang sakinah

2. Menjadi seorang ibu

Sebutan yang diberikan pada seorang perempuan yang telah memiliki anak. Ibu merupakn seorang pejuang yang tangguh, pejuang tanpa jasa dalam hal mendidik anak-anaknya agar dapat menciptakan anak yang sholih sholihah.

Ibu adalah seorang yang rela mengorbankan nyawanya demi anaknya, yang mencintai anaknya sejak mulai dalam kandungan sampai menginjak dewasa, ibu selalu memberikan kebahagiaan pada anak dan selalu mengingatkan, menasehatinya dengan kasih sayang jika ada sikap atu perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Allah SWT.

Ibu yang sholihah adalah ibu yang cerdas, bertaqwa dan rela berkorban untuk kebaikan keluarganya dan anak-anaknya. Berjuang menciptakan kebahagian keluarga dan anak-anaknya serta untuk mencapai kebahagian akhirat.[1] Ibu merupakan madrasah pertama bagi anaknya maka ibu yang sholihah selalu berusaha memberikan yang terbaik.

Ibu menjadi teladan yang baik, memiliki prilaku yang baik, menjadi ibu yang sholihah maka harus beriman dan bertaqwa pad Allah SWT, memberikan pengorbanan dengan ikhlas dengan hanya mengharap ridlo Allah, memiliki keinginan untuk mecapai derajad tinggi di surga. Sebab wanita yang mulya  dihadapan Allah SWT  adalah wanita yang sholihah, taat pada Allah dan suami dan mampu menjaga diri.

Dalam mendidik anak seorang ibu harus mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya. Mengingat bahwa perilaku orangtua khususnya ibu akan ditiru yang kemudian akan dijadikan prototipe  dalam perilaku anak, maka ibu harus mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya. Seperti yang difirmankan Allah dalam: Surat Al-Furqaan ayat 74: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi golongan orang-orang yang bertaqwa.” 

Peran perempuan dalam masyarakat dan negara

Wanita disamping perannya dalam keluarga, ia juga bisa mempunyai peran lainnya di dalam masyarakat dan Negara. Jika ia adalah seorang yang ahli dalam ilmu agama, maka wajib baginya untuk mendakwahkan apa yang ia ketahui kepada kaum wanita lainnya. Begitu pula jika ia merupakan seorang yang ahli dalam bidang tertentu, maka ia bisa mempunyai andil dalam urusan tersebut namun dengan batasan-batasan yang telah disyariatkan dan tentunya setelah kewajibannya sebagai ibu rumah tangga telah terpenuhi.

Banyak hal yang bisa dilakukan kaum wanita dalam masyarakat dan Negara, dan ia punya perannya masing-masing yang tentunya berbeda dengan kaum laki-laki. Hal ini sebagaimana yang dilakukan para shahabiyah nabi.

Berkaitan dengan perkembangan zaman, masyarakat sekarang membutuhkan peran perempuan dalam segala aspek, pendidikan, sosial ekonomi, hukum, politik, dan lain-lain.

Hal tersebut juga dipengaruhi oleh tuntutan bangsa-bangsa atas nama masyarakat global bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan bagaimana bangsa tersebut peduli dan memberi akses yang luas bagi perempuan untuk melakukan aktifitas di ranah publik.

Problem tentang bagaimana bisa berperan dalam masyarakat adalah adanya kendala dengan izin suami, hal ini yang perlu untuk diuraikan supaya menemukan solusi. Pada dasarnya kehidupan rumah tangga suami istri adalah terbangunnya komunikasi dan terbukanya relasi, karena keberadaan suami istri adalah untuk saling melengkapi.

Seiring berkembangnya zaman, peran perempuan mengalami perubahan, di masa lalu, perempuan hanya berperan di lingkup rumah tangga saja, namun masa kini selain sebagai ibu rumah tangga, perempuan dapat berperan dengan bermacam profesi seperti, pendidik, pengusaha, politikus, pemberdayaan masyarakat, sehingga lingkungan interaksi perempuan menjadi sangat luas.

Ruang  pemberdayaan perempuan yang awalnya sedikit tertutup menjadi terbuka. Sehingga, perempuan mampu melebarkan sayap untuk mengembangkan potensi sesuai minat dan bakat yang diinginkan, dengan tidak mengorbankan tanggung jawab pribadinya.

Di zaman era globalisasi ini kesempatan terbuka lebar bagi warga negara untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam segala bidang, baik itu kaum laki-laki maupun kaum perempuan.

Perempuan sebagai hamba Allah yang lemah, memiliki peran amat besar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tanpa itu kehidupan tidak akan berjalan semestinya. Sebab perempuan adalah pencetak generasi baru. 

Apabila di muka bumi ini hanya dihuni oleh kaum laki-laki saja kehidupan mungkin sudah terhenti sejak masa lalu. Oleh sebab itu, perempuan tidak bisa diremehkan dan diabaikan karena dibalik semua keberhasilan dan kontinuitas kehidupan di situ ada perempuan. Peranan perempuan dalam keluarga sangat penting. 

Perempuan merupakan benteng utama dalam keluarga. Peningkatan kualitas  sumber daya manusia  dimulai dari peran perempuan dalam memberikan pendidikan kepada anaknya sebagai generasi penerus bangsa. Keluarga merupakan awal pendidikan dasar. Dengan demikian jika pada kelompok terkecil (keluarga) sudah bagus nanti akan merambah ke ruang lingkup yang  lebih besar, lingkungan  masyarakat, bangsa dan Negara.

Kaum perempuan adalah aset, potensi, dan investasi penting bagi Indonesia yang dapat kontribusi secara signifikan sesuai kapabilitas dan kemampuannya. Lebih spesifik dalam konteks pembangunan,   Mengingat, perempuan adalah pendidik pertama di dalam keluarga.

Perempuan dalam menjalankan perannya dalam masyarakat tergantung pada budaya masyarakat sekitar. Dari sudut pandang peran antara laki-laki dan perempuan,  terlepas dari semua bidang yang seyogianya bisa digeluti oleh kaum perempuan, sampai sejauh ini perempuan sudah mampu membuktikan keikutsertaannya di dalam proses pembangunan.

*) Penulis Lely Susiyani S.Pd adalah alumni IKIP BUDI UTOMO Malang dan PASCA SARJANA STAIMA AL HIKAM Malang. Kini bekerja di ASN Kemenag Kabupaten Malang sebagai Guru MI Miftahul Huda Karangploso Kabupaten Malang

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis