Pergantian Nama Kabupaten Malang, Mendapat Tanggapan Kritis Budayawan

Peta Kabupaten Malang. (ist)

BACAMALANG.COM РPergantian nama Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen, mendapat tanggapan kritis, salah satunya dari Budayawan Malang, Dwi Cahyono.

“Wacana Bupati Malang HM Sanusi untuk mengganti nama Kabupaten Malang, menjadi Kabupaten Kepanjen tersebut merusak pakem budaya,” terang Budayawan Malang, Dwi Cahyono, Jumat (24/9/2021).

Dikatakannya nama Kabupaten Malang muncul sejak berabad-abad lalu di masa kerajaan, dimana nama Malang tersebut telah hadir dalam prasasti ukir negara di akhir masa kerajaan Kadiri.

“Nama Malang itu merupakan suatu daerah kecil yang dijadikan tempat berburu, yang ada sebuah gunung bernama gunung Malang, peta topografi tahun 1811 masih menyebutnya gunung Malang, gunung tersebut saat itu bernama gunung Buring,” ucap Dwi Cahyono.

Pria yang juga sebagai arkeolog dan sejarawan Universitas Muhammadiyah (UM) Malang ini menjelaskan, munculnya wacana pergantian nama tersebut sangat disayangkan, terlebih yang melontarkan wacana tersebut merupakan pucuk pimpinan di Kabupaten Malang.

“Wacana itu kan dilontarkan formal dan ditujukan pada pusat, wacana itu ya serius bukan sekadar slengekan. Oleh karena itu ini harus ditanggapi serius,” jelasnya.

Seharusnya, lanjut Dwi Cahyono, Bupati Malang HM Sanusi, sebelum menggulirkan wacana pengganti nama Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen, seharusnya melakukan kajian akademik terlebih dahulu.

“Tidak boleh gegabah dan harus didahului kajian akademik. Hasil kajian akademik itu pun masih wacana. Penggantian nama itu bukan seperti mengganti nama, opak dengan kerupuk,” pungkasnya.(*/had)