Perkuat Jiwa Gotong-royong Kala Pandemi pada Milenial, YSKKI Gelar Sosialisasi Kebangsaan

Caption : Sosialisasi kebangsaan oleh YSKKI. (ist)

BACAMALANG.COM – Guna memperkuat jiwa nasionalisme pada generasi milenial, Yayasan Kebangsaan Kemanusiaan Indonesia (YSKKI) bersinergi dengan Kemenko PMK RI, dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Malang, menggelar sosialisasi kebangsaan, Sabtu (2/10/2021).

“Wawasan kebangsaan, wawasan keagamaan dan berbagai agama dan suku disatukan dalam satu komitmen membangun bangsa berupa nilai-nilai yang ada dalam Pancasila,” tegas Pegiat Media Sosial Positif dan Aktivis Kebangsaan, Masruri Mahali atau sering disapa Kang Ruri.

“Mengapa penguatan sikap jiwa kebangsaan penting? Cara pandang terhadap konsep bernegara melalui ajaran-ajaran agama agar tidak berlebihan “kebablasan” dalam memahami agamanya dan memiliki cara pandang yang moderat,” kata pria yang juga Pegiat Deradikalisasi Jawa Timur ini.

Seperti diketahui, dengan menerapkan prokes ketat, YSKKI bersama Kemenko PMK RI melatih generasi muda Kabupaten Malang menguatkan jiwa gotong-royong dalam melawan radikalisme.

Ia menjelaskan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melalui Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga menjalankan sosialisasi dan aksi nyata untuk menumbuhkan toleransi, kerukunan inter dan antar umat beragama di era new normal dengan tema kegiatan penguatan kebangsaan dan budaya gotong-royong bagi generasi muda dalam mencegah radikalisme di masa pandemi Covid-19.

Sebanyak 100 generasi milenial antusias mengikuti kegiatan yang digelar di Aula Papringan Dilem Kepanjen Kabupaten Malang tersebut.

Masruri mengatakan pada dasarnya perbedaan atau keberagaman yang ada di Indonesia semua dapat diwujudkan sebagai media membangun, menciptakan dan memelihara jiwa gotong-royong sebagai wujud nyata kasih sayang kepada sesama.

“Jadi jika ada orang yang mengaku beragama tapi tidak bisa mengamalkan kasih sayang maka perlu dipertanyakan prinsip dia beragama,” ujarnya.

Pada kegiatan itu, penguatan wawasan kebangsaan mengadopsi kearifan lokal yang ada di daerah masing-masing. “Misalnya di Malang ada budaya Sayan yang sebenarnya itu wujud dari gotong royong,” katanya.

Selain diberikan materi-materi Sosialisasi Penguatan kebangsaan dan menumbuhkan jiwa gotong royong, para peserta juga dilatih dan melakukan aksi nyata dengan konsep ngetweet bareng anti radikalisme sebagai upaya mewujudkan ekosistem media sosial yang positif

Sementara itu, Perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Malang, Didik Purwanto mengatakan, bahwa pembangunan di daerah tidak hanya berupa wujud infrastruktur saja, tapi membangun sumberdaya manusia itu sangat penting seperti kegiatan hari ini, terlebih Kabupaten Malang merupakan daerah yang multikultur.

“Maka dari itu, selain generasi milenial maka peran tokoh lintas agama juga perlu memberi contoh nyata bagaimana implementasi kehidupan yang moderat dan berwawasan kebangsaan, apalagi merawat jiwa gotong royong,” terangnya.

“YSKKI sangat menginspirasi dalam kegiatan ini dengan menjadikan generasi muda sebagai sasaran dari kegiatan penguatan kebangsaan seperti ini,” pungkasnya. (had)