PFI Malang Gelar Talk Show dan Bedah Buku Foto “Ibu” karya Trisnadi Marjan

Fotografer dan penulis buku "Ibu", Trisnadi Marjan saat talkshow dan bedah buku di Ruang Arjuna Bakorwil III Malang, Senin (14/2/2022). (ned)

BACAMALANG.COM – Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang menggelar Bedah buku “Ibu” karya Trisnadi Marjan dan Fatimatuz Zahroh, Senin (14/2/2022).

Acara yang dihelat di Ruang Arjuna Bakorwil III Malang dengan penerapan protokol kesehatan tersebut diikuti sedikitnya 60 peserta, yang terdiri dari personel hubungan masyarakat (humas) berbagai institusi di Malang Raya hingga peserta dari beragam komunitas.

Fotografer dan penulis buku “Ibu”, Trisnadi Marjan mengungkapkan, buku foto ini menceritakan sosok “Ibu” dari Khofifah Indar Parawansa, yang juga Gubernur Jawa Timur saat ini.

“Saya terinspirasi menjadikan buku foto setelah mengikuti perjalanan Khofifah saat bertugas sejak tahun 2008, tepatnya mulai pencalonan gubernur yang pertama, hingga beliau menjadi Menteri Sosial RI,” akunya saat mengawali talkshow. 

Meski demikian, pria yang akrab disapa Tris ini menegaskan bahwa buku “Ibu” ini jauh dari politik. “Buku ini tidak ada kaitannya dengan politik, launchingnya pun di tahun yang tidak ada agenda politik,” tukasnya.

Tris mengaku bahwa ada kebanggaan tersendiri sebagai fotografer bisa mengikuti perjalanan seorang Khofifah.

“Sosoknya yang dianggap gesit oleh Jokowi karena kinerjanya yang cepat tanggap sebelum diperintahkan sangat inspiratif, sehingga harapan saya sosok perempuan hebat yang bekerja sekaligus menjalankan peran sebagai ibu yang tercermin dalam foto-foto dalam buku ini dapat menginspirasi pembacanya, khususnya perempuan muda milenial,” urai dia.

Bedah buku ini berlangsung sangat menarik. Para undangan mengajukan sejumlah pertanyaan yang kritis dan skeptis.

Seperti Jazuli, dari Bagian Humas IKIP Budi Utomo Malang yang menilai buku ini masih belum tampak mengungkapkan sisi lain dari Khofifah sebagai seorang ibu saat lepas dari kedinasannya sebagai pejabat publik.

Pertanyaan senada juga disampaikan Monica Anantyowati yang menganggap sisi lain tersebut justru akan menjadi informasi baru bagi pembacanya.

“Kebetulan saya dari komunitas fotografer Malang Female Motret, yang semua anggotanya wanita, namun terdiri dari beragam latar belakang, sehingga wajar jika ingin mengetahui bagaimana sosok Ibu ditampilkan dalam foto hasil karya seorang jurnalis,” ujar Monica.

Menanggapi hal tersebut Tris mengaku bahwa dirinya sudah mempersiapkan foto-foto dengan tema tersebut di hardisknya. “Tunggu saja tanggal mainnya itu untuk buku bagian dua nanti,” jelasnya.

Talkshow dan Bedah buku “Ibu” karya Trisnadi Marjan dan Fatimatuz Zahroh, Senin (14/2/2022). Acara yang dihelat di Ruang Arjuna Bakorwil III Malang dengan penerapan protokol kesehatan tersebut diikuti sedikitnya 60 peserta, yang terdiri dari personel hubungan masyarakat (humas) berbagai institusi di Malang Raya hingga peserta dari beragam komunitas. (ned)

Senada dengan Tris, penulis buku Fatimatuz Zahroh dalam sambutannya berharap buku ini bisa membawa manfaat dan inspirasi bagi semua pembaca.

“Suatu kebanggaan bagi saya untuk ikut berkontribusi menulis untuk buku ‘Ibu Khofifah Indar Parawansa’ yang merupakan buku foto karya Trisnadi Marjan,” ungkapnya.

Buku “Ibu” mendapatkan sejumlah apresiasi dari tokoh-tokoh nasional. Dr (HC) Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid M.Hum mengungkap bahwa foto sebagai sumber sejarah dan inspirasi. Dalam kata pengantar buku “Ibu”, Sinta Nuriyah menyebut bahwa foto merupakan bagian dari jejak kehidupan seseorang yang bisa dilihat sebagai arsip yang bobotnya sama dengan dokumen tertulis: naskah, surat, kontrak dan sejenisnya.

Foto memiliki peran penting untuk membuktikan suatu peristiwa sejarah suatu bangsa. “Bukti-bukti tekstual akan menjadi semakin kuat dengan adanya foto,” tulis Sinta Nuriyah.

Sementara kurator fotografi dari Mata Waktu Foundation, Oscar Motuloh juga menuliskan dalam pengantarnya bahwa pesan visual yang terngiang dari penerbitan buku foto ini adalah betapa sudut pandang fotografi jurnalistik tetap menjadi landasan utama dalam mengemukakan sebentuk kesaksian.

“Suatu pendekatan yang pas dalam menjawab zaman gadget yang cuek, di mana berita mainstream tak lagi menjadi acuan mendasar dalam mengungkap kebenaran. Padahal fotografi jurnalistik dalam bentuk fundamentalnya tak sekadar berfungsi sebagai mata dunia. Namun juga menjadi cahaya yang inspiratif untuk peradaban dan kemanusiaan,” tulisnya.

Ketua PFI Malang, Darmono mengatakan, kegiatan bedah buku “Ibu” dilangsungkan bertepatan dengan hari kasih sayang. “Hari kasih sayang diisi dengan membedah isi buku “Ibu”. Ibu yang punya kasih sayang sepanjang masa,” ungkap Darmono.

Menurut Darmono, saat ini semua orang bisa punya kamera dan semua orang bisa membuat foto. Namun, tidak semua bisa menghasilkan foto yang bermakna.
“The man behind the gun adalah lebih utama dari alat. Mas Tris membuktikan sebagai seorang fotografer profesional mampu membuat karya-karya foto yang keren dan sarat makna,” tandasnya. (ned/lis)