Pilihan Kata, Suara Sakti, Tan Kena Wola Wali

Dr Riyanto Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya (UB) Malang. (ist)

Oleh : Dr Riyanto *

“Tidak !, saya tidak akan mencabut kata-kataku. Prabu Duryudono bersumpah. Kata-kata yang sudah terucap akan diperjuangkan sampai titik darah penghabisan.

Berderai air mata, pendeta Durna mendekap sang Kurupati. Awan hitam pekat, menutup bintang. Resi Durna melangkah. Baratayuda segera pecah.

Tekat Prabu Duryodono, selintas mengingatkan Bapak Walikota Malang.
Berseloroh dengan pilihan kata “halal.
Sebagian masyarakat, sampai pada somasi, untuk beliau mencabut kata-kata itu.

Di pelataran DPRD terpampang spanduk, Malang Tolerant City, not Halal City, Malang Kota Toleransi.
Spanduk dilepas oleh satuan polisi pamong praja, hari berikutnya muncul spanduk baru, Malang Kota Pancasila.

Sebenarnya halal itu, kata biasa saja.
Memudahkan komunikasi yang empunya bahasa. Bahkan masyarakat faham arti halal.

Halal, halal, halal !, artinya, di pasar itu, Kurma boleh di coba. Haram, haram, haram !, bisa jadi itu sudah dibeli orang. Boleh di coba dan tidak boleh dicoba.

Menjadi luar biasa, kala muncul pembeda. Halal ditafsir sebagai kata yang berhadapan dengan haram. Bisa jadi sama halnya, muslim dengan kafir, surga dengan neraka. Ada ketersinggungan.

Mengapa bisa terjadi ? Kota Malang dalam perjalanan sejarah, adalah kota heterogen. Suku bangsa, nilai budaya, bahasa, dan agama saling menyapa. Kehangatan itulah yang dirasakan terusik oleh walikota.

Di sini membuktikan, bukan hanya aturan tertulis, tapi ekspresi, intonasi, kata-kata pejabat adalah kebijakan.
Bahkan cara jalanpun ditafsir sangat mendalam.

Pelesir Pantai Kondang Merak, kata kata halal, kini disambung lagi, studi banding ke Yogjakarta di musim pandemi. Bagaimana ini ?

“Anak prabu ngger. Cabutlah kata-kata itu. Malang akan menjadi Kurusetra, kalau panjenengan tetap “meguguk mangutho waton”, tetap bersikukuh.
Ingatlah, kau dipilih untuk “mengasuh.
Masyarakat Kota Malang, adalah “momonganmu sendiri.

Di kejauhan, Sri Kresno juga berlinang air mata. Menerawang jauh, akan malangnya Kota Malang.

Ki Dalang berbisik; “akan saya tutup sebelum fajar datang. Biarlah rame hanya dalam perdebatan. Untuk perjalanan politik ke depan.
Perang hanya kemungkinan.

  • Penulis adalah Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya (UB) Malang
  • Tulisan ini dibuat menanggapi keresahan masyarakat tentang kata halal di kota Malang
  • Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi