PKI Bangkit ?

Caption : Dr. Riyanto M.Hum. (ist)

Oleh : Dr. Riyanto M. Hum

Partai Komunis Indonesia pernah ada. Menorehkan sejarah mengenaskan. Karena hitam kelam, “arwahnya” masih dianggap melayang layang.

PKI bagai Rahwana, darah yang tersesat di hutan belantara. Akhir kitab, Rahwana jadi Sukma “nglembara”, sukma mengembara melintas jaman Ramayana, Mahabarata, dan jaman Nusantara.

Diabadikan dalam jargon “PKI” bangkit.
Kemunculannya, di tengarai tepat di hari kematiannya.

Romodayapati, “kekuatan Senopati. Pikiran sepuh yang selalu ada di barisan depan, juga hidup melampaui kitabnya.

Dua tokoh kontroversial ini akan selalu ada, selama Ki Ardy Purboantono dkk masih kuat mengikuti irama gendang, ndalang.

Orde Reformasi, arwah Rahwana merasuk dalam jiwa jiwa hampa. Diksinya berubah, “kafir, murtad, jurang api neraka”.

Di masa Orde baru, jargon PKI, mampu menghentikan tokoh-tokoh perlawanan.

Masa reformasi, jargon “kafir, murtad, jurang api neraka, menghentikan orang memeluk agamanya sendiri.

Ibarat menepuk air di dulang, muncrat ngena muka sendiri.

Baru baru ini terdengar lagi. Rahwana sukma mengembara, PKI bangkit kembali.

Disusupkan pada presiden, wakil rakyat, dan TNI. Bukankah yang terakhir itu Romodayapati ?

Mengapa jargon “PKI bangkit” muncul lagi ?

Sebab butuh kecerdasan untuk mencari kosa kata baru, menggantikan jargon kafir, murtad, dan jurang api neraka.

Daripada menderita hidup dengan istri baru, lebih baik kembali kepada istri tua.

Sayangnya, istri tua sudah tidak berdaya. Jargon PKI sudah tidak ada apa-apanya.

Mengapa di jaman “bumi mengkerut” masih suka menyalahkan ?

Adakah yang salah dengan sejarah ?
Sejarah tidak mungkin dihapuskan. Tapi kebencian berkepanjangan hendaknya dapat dihentikan. Tengadahkan ke langit, konon disana ada Tuhan Yang Maha Wikan.

Lihat diluar sana. Laut China Selatan akan makin membara. Pintu Timur Nusantara menganga. Masih rentan alutsista yang harus dipersiapkan.

Dalam negeri, anak-anak merasa tidak ikut merajut Pancasila. Lupa dengan lagu-lagu nasional dan daerah.
Terputus dengan guru-guru yang mengajarkannya.

Mulut-mulut bersuara hampa. Nasionalisme etnisitas, nasionalisme kebangsaan, gotong-royong, berdikari, sekedar lewat saja.

Bendera itu bukan untuk gugurnya Rahwana, tapi untuk Senopati bangsa. Darah tersesat di rimba belantara, jangan dibangkitkan lagi.

Karena saya tahu, sebelum gendang terakhir, Ki Ardi akan marah, keluar kata-kata kasar, memaki maki.

Penulis : Dr. Riyanto M. Hum. Akademisi Universitas Brawijaya yang juga Budayawan Malang. (*)