PMK Meluas, Pakar Ekonomi Unair Mendesak Pemerintah Mitigasi Optimal untuk Stabilkan Harga Ternak

Vaksinasi ternak dan inzet Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Rossanto Dwi Handoyo. (ist)

BACAMALANG.COM – Atas meluasnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Rossanto Dwi Handoyo mendesak Pemerintah melakukan mitigasi optimal untuk menstabilkan harga ternak.

“Mewabahnya Penyakit Mulut dan Kuku pada hewan di 178 kabupaten/kota di Indonesia menimbulkan efek samping terhadap harga Sapi menjelang Idul Adha 1443 Hijriyah,” terang Rossanto, baru-baru ini.

Dikatakannya harga sapi saat ini terbagi menjadi dua bagian. Bagi daerah yang terindikasi terkena wabah PMK, harga sapi akan terjun bebas dan bagi daerah-daerah yang tidak terindikasi terkena wabah PMK maka harga sapi akan membubung.

Diungkapkannya masyarakat cenderung tidak percaya untuk membeli sapi pada daerah-daerah yang terindikasi terkena wabah PMK. “Tentu hal ini berpengaruh pada supply dan demand sapi di suatu daerah dan mempengaruhi harga pasarnya,” katanya.

Diungkapkannya harga sapi bisa kembali normal jika pemerintah melakukan mitigasi yang optimal, apalagi saat ini predikat Indonesia sebagai negara bebas PMK telah dicabut.

Dijelaskannya pemerintah harus bisa menyediakan vaksinasi sebagai upaya mitigasi secara masif untuk mengatasi wabah PMK. “Karena kalau tidak maka penyebaran akan semakin meningkat dan tentunya akan merugikan produsen dan juga masyarakat itu sendiri sebagai pembeli,” tukasnya.

Ia menyarankan sejumlah solusi yang bisa dilakukan untuk mengendalikan harga sapi, salah satunya dengan melakukan impor karena menjadi salah satu solusi untuk menjaga ketahanan pangan.

Karena daging juga memberikan kontribusi terhadap inflasi, sehingga bisa melebar ke sektor-sektor yang lain. “Selain itu, revolusi industri di peternakan juga bisa dilakukan pemerintah agar wabah PMK dapat terkendali dengan baik,” pungkasnya. (*/had)