PTM, Klaster Covid Sekolah, dan Lost Learning

Caption : dr Umar Usman MM. (ist)

BACAMALANG.COM – Meski mengalami perbaikan kondisi setelah beberapa saat memburuk, kini kita kembali dihadapkan pada potensi ancaman pada sisi klaster Covid 19 di sekolah sejalan dibukanya Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

“Kita harus waspada saat dijalankannya Pembelajaran Tatap Muka di sekolah. Yakni terhadap adanya potensi klaster yang harus dicarikan solusinya. Diharapkan bisa sejalan antara pelaksanaan PTM dengan berjalannya prokes, dan percepatan Vaksinasi,” tegas Wakil Ketua Satgas Covid 19 NU Malang Raya dr Umar Usman MM, Minggu (26/9/2021).

LOST LEARNING

Salah satu sektor korban petaka pandemi Covid-19 adalah pendidikan yang menjadi fondasi kokoh guna membangun kehidupan yang utuh di kemudian hari. Pendidikan juga dibentuk agar manusia tidak selalu salah dalam bertindak maupun berpikir.

Pendidikan dimodifikasi sedemikian rupa untuk tetap berjalan dengan semestinya. Modifikasi lahir dalam istilah Pembelajaran Daring yang digaungkan untuk mendorong kalangan pendidik maupun peserta didik untuk tetap belajar.

Namun modifikasi ini kurang pas pada beberapa sisi, sehingga tujuan adanya pendidikan yaitu memanusiakan manusia, penguasaan skill tidak tercapai. Hilangnya tujuan ini biasa disebut dengan istilah Lost Learning. Peserta didik yang seharusnya dapat menguasai kompetensi pada tingkatan kelasnya hampir tidak bisa melakukan apa-apa.

Kompetensi membaca dan menulis seharusnya bisa dikuasai saat seorang peserta didik duduk di kelas 3 atau 4, namun di kelas 6 masih ada peserta didik yang belum menguasainya.

Alasan paling kuat dari gagalnya penanganan lost learning melalui modifikasi pembelajaran daring adalah koneksi jaringan dan ketersedian gawai bagi peserta didik.

Cara terbaik adalah dengan memberlakukan pembelajaran tatap muka dengan skema-skema tertentu sebagai langkah awal penanggulangan lost learning.

“Skema seperti penjadwalan masuk sekolah berdasarkan tingkatan kelas perlu diberlakukan dengan dibarengi protokol kesehatan yang ketat sembari percepatan menuju herd immunity,” terang pria yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Malang ini.

PERCEPATAN VAKSINASI

Percepatan Vaksinasi harus dilakukan kepada semua elemen pendidikan, pengajar, siswa umum termasuk santri. Sebab, proses belajar mengajar dilakukan secara tatap muka. Terutama bagi wilayah dengan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 ke bawah.

“Vaksinasi untuk pelajar haruslah diakselerasi dan dipercepat, mengingat kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah, khususnya di daerah yang masuk Level 3 ke bawah. Para pelajar harus divaksin supaya jangan sampai terjadi klaster baru di sekolah,” kata pria yang juga Ketua PC NU Kabupaten Malang ini.

Seluruh daerah diharapkan menghentikan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah, jika ditemukan kasus positif baru. “Jika ada kasus positif, segera lakukan penutupan sekolah untuk segera dilakukan pelacakan, dan pemeriksaan kontak erat,” ujar Pria alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Dari 47.033 sekolah yang disurvei hanya 2,77 persen sekolah yang menimbulkan klaster baru kasus penularan COVID-19 selama PTM dilakukan. Hal itu berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).

“Diharapkan kepada satuan pendidikan agar dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka secara hati-hati dan selalu mengutamakan kesehatan dan peserta didik dari penularan Covid-19,” kata Pria yang juga senior KAHMI ini.

Selain itu, perhatikan juga peluang penularan di luar rumah, perjalanan dan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. “Pastikan siswa dan tenaga pengajar secara disiplin mematuhi protokol kesehatan,” tuturnya.

Sekecil apapun angka kasus yang ada jika tidak ditindaklanjuti, baik dengan tracing maupun treatment yang tepat maka akan memperluas penularan.

Saat ini dashboard perkembangan kasus di lingkungan sekolah per wilayah dapat diakses di sekolah.data.kemdikbud.go.id/kesiapanbelajar. “Dengan fitur ini pemerintah daerah dan masyarakat dapat ikut memonitor angka kasus dan kejadian klaster secara aktual,” ujarnya.

DETEKSI DINI DENGAN TES BERKALA

Hal itu dilakukan sebagai bentuk deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya klaster di lingkungan sekolah akibat Pembelajaran Tatap Muka (PTM). “Terlepas ada atau tidak ada klaster sekolah, memang itu sudah menjadi program. Diharapkan siswa dan guru dilakukan testing secara reguler bukan insidentil untuk menilai sedini mungkin,” katanya.

Testing berkala terhadap siswa Sekolah Dasar (SD) penting dilakukan. Sebab, rata-rata mereka belum disuntik vaksin karena faktor usia yang masih di bawah 12 tahun. Berbeda dengan siswa di SMP dan SMA yang sudah mulai disuntik vaksin. “Justru untuk SD ini akan kita kuatkan testingnya. Karena SD kelas 6 pun ada yang belum boleh vaksin,” jelasnya.

TINGKATKAN PROKES

Diharapkan lembaga pendidikan agar meningkatkan kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan atau prokes guna mengantisipasi Covid-19. “Paling penting itu disiplin dalam penerapan prokes di sekolahan. Begitupula hingga di rumah, juga wajib disiplin menerapkan prokes,” ujarnya.

Pencegahan utama dari penularan Covid-19 di sekolah adalah mematuhi prokes. Apabila terjadi penularan, maka langsung dilakukan 3T. Sehingga, bisa diketahui sejauh apa penularan virus yang berasal dari Wuhan, China tersebut.

“Maka dari itu, koordinasi dengan Dinas Pendidikan penting. Begitu pula dengan sekolah maupun lembaga pendidikan alangkah baiknya memiliki kesadaran tinggi untuk disiplin Protokol Kesehatan, Sekolah maupun lembaga pendidikan semestinya juga berkoordinasi dengan faskes terdekat. Sehingga, penanganannya lebih cepat dan mudah,” imbuhnya.

DATA LAMA

Kabar kemunculan klaster Covid-19 di sekolah membuat resah sejumlah pihak. Terutama bagi orang tua maupun siswa yang kini telah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM).

Namun menanggapi hal itu, Satgas Penanganan Covid-19 Jawa Timur (Jatim) membantah kabar yang mengatakan bahwa muncul klaster selama masa pembelajaran tatap muka. Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), mengenai daerah dengan klaster Covid-19 sekolah terbanyak, merupakan data lama.

”Sebenarnya data tersebut adalah kumulatif sejak 2020. Bukan selama satu bulan terakhir ini. Data itu merupakan catatan kumulatif dan bukan data terbaru saat pembelajaran tatap muka (PTM) mulai kembali digelar sebulan belakangan,” jelas Pria berjuluk Dokter Rakyat ini.

Hingga kini, sejak PTM terbatas mulai dilakukan sebulan yang lalu, belum ada sekolah SMA, SMK, maupun SLB di Jatim yang dilaporkan menjadi klaster penyebaran Covid-19. ”Mari bersatu melawan Covid. Terapkan prokes, 3T, 5 M, dan percepatan vaksinasi. Semoga Covid terkendali, pendidikan dan ekonomi membaik,” pungkasnya. (had)