Refleksi Harlah NU Ke -97, Begini Kata dr Umar Usman

Foto : Ketua PC NU Kabupaten Malang dr Umar Usman MM. (ist)

Oleh : Ketua PC NU Kabupaten Malang dr. Umar Usman.

BACAMALANG.COM – Nahdatul Ulama (NU) memperingati Hari Lahir ke-97 tahun yang diharapkan menjadi spirit baru sesuai tema nasional “Kemandirian Nahdlatul Ulama Untuk Kemaslahatan Umat’.

Saya mendukung penuh upaya PBNU mengeluarkan surat instruksi dan anjuran agar semua tingkatan jajaran pengurus NU di seluruh Indonesia menggelar istighotsah serta membaca qunut nazilah untuk mengantisipasi persebaran virus Corona atau Covid-19.

Alhamdulillah instruksi ini telah kami jalankan dengan menggelar Istighotsah Akbar yang sangat bermanfaat.

Hal ini karena semakin hari, pasien positif terserang virus Corona atau Covid-19 semakin banyak jumlahnya di Indonesia.

Jadi selain upaya menjaga kesehatan badan, juga diimbangi dengan kekuatan Doa kepada Allah SWT.

NU Jadi Lumbung Suara

Suara Nahdliyin di kancah perebutan kursi pemerintahan selalu menarik perhatian tak hanya di tingkat pusat namun sampai daerah, menjadi penentu kemenangan dalam berbagai kontestasi politik di negeri ini. 

Dari jejak Pilpres 2019 lalu, Jokowi-Ma’ruf meraih suara perkasa Nahdliyin di Jawa Timur (Jatim) yakni di 32 kabupaten/ kota. 6 kabupaten/ kota di Jatim berada di pihak Prabowo-Sandiaga.

Keunggulam itu tak lepas dari pengaruh NU sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, serta yang paling solid dan banyak anggotanya di Jatim.

Jejak itu pun dimungkinkan berlanjut dalam Pilkada serentak 2020 di Jawa Timur (Jatim) umumnya dan Kabupaten Malang pada khususnya.

Terutama setelah PKB Kabupaten Malang yang memiliki sejarah lekat dengan NU mampu bersaing dengan PDI-Perjuangan dalam perebutan suara legislatif di tahun 2019 lalu, yakni sama-sama mendulang 12 kursi.

Patron Nahdliyin yang berada di berbagai pondok pesantren di Kabupaten Malang inilah yang juga menjadi kekuatan utama NU selama ini.

Para patron Nahdliyin dan pondok pesantren inilah yang menjadi kekuatan suara pada nantinya. Walau mereka tak berpolitik praktis, tapi hak politik mereka sama dengan warga lainnya. 

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang, keberadaan pesantren mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dari tahun 2013 hanya 590 ponpes di Kabupaten Malang, meningkat dalam kurun waktu 4 tahun (2017) menjadi 638. Dimungkinkan besar di awal tahun 2020 ini pun angkanya semakin naik.

Peta inilah yang menjadi lumbung emas di mata parpol di Kabupaten Malang. Walau Nahdliyin tersebar di berbagai organisasi maupun parpol itu sendiri, tapi peran para kiai dan pondok pesantren tak mungkin diabaikan oleh parpol yang akan berkontestasi di tahun ini.

Kantong NU pasti menjadi rebutan dalam Pilkada Kabupaten Malang. Karena suara Nahdliyin ini besar dan menentukan.

NU Dan Politik Patron

Kelahiran NU memiliki akar politik, karena disamping terlibat langsung dalam proses-proses kemerdekaan, para pendirinya merupakan tokoh-tokoh pergerakan nasional yang aktif dalam struktur-struktur pemerintahan, sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia.

Salah satu pendirinya, KH Hasyim Asy’ari pernah diangkat menjadi kepala jawatan agama (Shumubu) oleh pemerintahan Jepang.

Putranya KH Wahid Hasyim adalah salah satu perumus Piagam Jakarta dan menjadi menteri agama pertama di era Presiden Soekarno.

Martin Van Brinessen menyebut NU lebih berorientasi patronage—melalui berbagai penguasaannya dalam struktur politik—menjalin ikatan-ikatan kultural yang kuat dengan sesama anggota dan para aktivisnya.

Sejarah panjang NU sebagai ormas Islam dan organisasi politik memang menunjukkan realitas pasang-surut. Mungkin satu-satunya ormas Islam dengan corak politik yang paling khas dan konsisten.

Ciri akomodasionis yang dilekatkan pada NU terhadap kekuasaan memang sulit dihilangkan, sekalipun NU pernah menunjukkan kritiknya yang keras kepada penguasa, namun itu masih dalam batas-batas yang masih wajar.

Sekalipun rezim Orde Baru memberlakukan siasat depolitisasi dan “deparpolisasi” yang mewajibkan seluruh ormas Islam bernaung dalam satu parpol dan seluruh ormas dan parpol diwajibkan menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam keorganisasiannya, NU tampak menerima dan hampir tak ada gejolak yang timbul secara berarti.

Penegasan NU atas penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas, disamping asas Islam, memperteguh dirinya untuk setia kepada negara tanpa harus mengorbankan satu incipun komitmen mereka terhadap perjuangan Islam.

NU Dan Kemandirian Finansial

Saat ini NU di Kabupaten Malang semakin mandiri dan swadaya utamanya dalam hal finansial.

Dalam semboyan Kita, Kita ingin agar peringatan 100 tahun ini menjadi kebangkitan kedua annahdoh ahsaniyah.

Sekarang ini di beberapa grass root kita tidak lagi menunggu uluran tangan dari pihak donatur atau pihak lain karena sudah mandiri secara finansial.

Salah satu contoh kemandirian finansial yang patut dicontoh adalah di MWC NU Turen.yang mampu mengumpulkan donasi sebesar Rp 250 juta dalam sebulan dan dalam setahun bisa total mengumpulkan Rp 2 M.

Dana yang terkumpul dipergunakan untuk beragam kegiatan meliputi bidang sosial, ekonomi, pendidikan dan organisasi NU sendiri. (Had)