Sandyakalaning Kampus

Dr Riyanto. (ist)

Oleh : Dr. Riyanto

Angkara murka merajalela.
Kampus memendam bara.
Prahara cendekia.
Hantu-hantu berwajah ilmu.

Gedung berlantai mulai sepi.
Musholla menjanjikan dunia dan akherat.
Tempat diskusi mengalahkan ilmu Kampus ibu kandung sendiri.

Anakmu berjumpa dosen baru.
Bawa tasbih, Resi Durno.
Mengajari ilmu, jalan swargaloka.
Sesekali berbisik, “segera tiba waktunya ……

Mata elang “resimen anak pandawa” sering terlena. Maklum setiap tugas tidak harus tuntas.
Pendidikan kejar materi.
Setan berjalan membawa bara-bara api.

Asrama pedukuhan Karang Kedempel makin terasa pengab.
Kyai Semar Bodronoyo, mengelus dada.
“Kamu kesini !, Kyai Semar memanggil Petruk Kantong Bolong. Santri kinasih yang kebetulan anaknya sendiri.
“Ada apa Romo ?
“Coba pikirkan, mengapa kampus-kampus makin menakutkan. Apakah bandaramu terpapar Corona, tidak vaksin ?
Apakah hanya bersemangat pergi keluar negeri karena akan pada habis masa jabatannya ?

Beberapa hari, Petruk mencari “sisik melik”. Penangkapan mahasiswa tampak seperti rekayasa. Pasca penangkapan, dan akhir pilihan rektor, suasana seperti bara terbungkus sekam kembali.

Sabtu Pon, hari ke tiga belas, barulah terkuak. Gonjang-ganjing kampus karena ada investor asing masuk tidak terdeteksi.

“He, bagaimana hasilnya ?
“Begini Kyai.
Sambil duduk, Petruk nyruput kopi, ambil rokok.
Kyai Semar, “stop, tidak boleh ! Korek baru tak kasih, kalau laporanmu sudah clear.
Kyai Semar yakin akan dapat berita rahasia yang dapat memecahkan teka-teki.

Secara gamblang Petruk membeberkan suasana “gerakan bawah tanah” pasca penangkapan mahasiswa. Terdiri dari penggerak, jaringan, dan tokoh intelektualnya.

Bahkan Petruk lebih hebat. Dia bisa mendengar bisikan Putra Pandawa.
Gatutkaca: “adiku Antareja dan Antasena. Kakakmu, komandanmu ini malu. Sudah sangat lama berita tersebar, tapi hasilnya kosong. Kalau toh, ada satu radikalis kau tangkap, tidak salah kalau ada yang mengatakan rekayasa”.
“Terus, bagaimana sekarang ?
“Dalam satu minggu ini, tokoh dalam kampus harus kamu rangket, termasuk mahasiswa lain yang terlibat.
Ingat, investornya jangan kau beri jalan meloncat.

Suasana hening kembali. Seperti benderang di siang bolong. “Kalau satu minggu tidak ada hasil, ketiganya akan saya masukkan ke Kawah Candradimuka”.

Mengepalkan kuat tangannya, berangsur-angsur lemah kembali. Di kejauhan, kokok Ayam mulai terdengar, selimut tersibak angin dingin masuk menerobos kaki-kaki …..

Semangat densus 88.
Masyarakat sedang menunggu
Hasil kerjamu …..
Kyai Semar: “Atau tak kirim lagi ke panas neraka Candradimuka ?!”
🇲🇨

Penulis adalah Akademisi Universitas Brawijaya yang juga Budayawan. Tulisan ini sebagai respon, tanggapan dan apresiasi atas penangkapan terduga teroris IA yang merupakan mahasiswa UB.