Selamat Hari Bumi 2022, Selamatkan Bumi Ini

Dodiq Mahabbah dalam viedoklip "Selamatkan Bumi Ini". (YouTube)

Oleh : Bachtiar Djanan *)

SELAMATKAN BUMI INI

Selamatkan bumi yang mengering
Tanpa cinta, mereka semua akan mati
Selamatkan bumi yang mengering
Kita harus membuat bumi ini tersenyum

Hari ini saya diingatkan kembali oleh sahabat saya, Dodiq Mahabbah, seorang vokalis, musisi, dan pencipta lagu dari kota dingin Malang, Jawa Timur, tentang sebuah lagu yang menurut saya luar biasa, lagu yang diciptakannya pada tahun 2002.
Selamatkan Bumi Ini. Demikian judul lagu yang diciptakan Dodiq bersama band-nya saat itu: Devals, band indie dari kota Malang yang berdiri pada tahun 2000.
Lagu ber-genre rock ini menceritakan bagaimana bumi yang semakin memanas, bumi yang mengering. Tanpa ada cinta (kepada bumi), maka para penghuni bumi akan mati.
Bila kita cermati, lirik lagu tersebut sampai hari ini sebenarnya menjadi makin relevan dengan berbagai data ilmiah yang memotret kondisi pemanasan global dan perubahan iklim di bumi kita ini.
Seperti dari laporan riset Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), yaitu Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim dari Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) yang dirilis 28 Februari 2022, yang menyebutkan bahwa suhu global telah meningkat sebesar 1,1° Celcius (2° Fahrenheit) sejak abad ke-19.
Sementara data dari World Economic Forum pada The Global Risk Report 2019, menyatakan perubahan iklim adalah penyebab utama terjadinya musibah global, seperti bencana alam, cuaca ekstrim, krisis pangan dan air bersih, hilangnya keanekaragaman hayati, dan runtuhnya ekosistem.
Bahkan laporan New York Times menyebutkan bahwa dampak dari pemanasan global ini akan mengakibatkan 50 persen dari seluruh spesies yang ada di bumi akan mengalami kepunahan pada abad ini.
Di Indonesia sebagai negara kepulauan, dampak pemanasan tersebut tentu sangat dirasakan. Sejumlah wilayah pesisir telah mengalami kenaikan permukaan air laut dalam beberapa tahun terakhir, yang membuat banyak pemukiman terendam dan rusaknya infrastruktur di wilayah pesisir.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) juga mencatat adanya lonjakan 16 kali lipat kejadian bencana hidrometeorologi, yaitu bencana yang dampaknya dipicu oleh kondisi cuaca dan iklim dengan berbagai parameternya, antara lain badai siklon tropis, hujan lebat, gelombang panas, kekeringan, dan banyak lagi.
BNPB melaporkan, sejak tahun 2002 sampai 2016 terjadi peningkatan ekstrim dari bencana hidrometeorologi, dari 140-an kejadian di tahun 2002, meningkat drastis menjadi 1.300-an kejadian di tahun 2016.
Sedangkan berdasarkan data dari 89 stasiun pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada tahun 2021 menyebutkan, normal suhu udara pada periode tahun 1981-2010 di Indonesia adalah sebesar 26.6° Celcius, sedangkan suhu udara rata-rata pada tahun 2021 meningkat menjadi 27.0° Celcius.
Angka kenaikan suhu ini seolah terlihat kecil, hanya 0,4° Celcius. Tapi perlu kita ketahui, dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences, berdasarkan riset disebutkan bahwa setiap kali Bumi mengalami kenaikan suhu sebanyak 1 derajat Celcius, hal itu akan menyebabkan permukaan air laut secara global akan naik sekitar 2,3 meter, secara bertahap.
Penyebab utama kenaikan permukaan air laut adalah mencairnya gletser, mencairnya lempengan es di Greenland, mencairnya lempeng es di Antartika, dan meluasnya lautan sering dengan meningkatnya suhu.
Kembali ke lagu Selamatkah Bumi Ini. Mulai dari bagian pertengahan sampai akhir lagu ini, sang pencipta lagu mencoba menggugah kesadaran kita semua untuk merasakan dan peka terhadap kondisi memprihatinkan yang sedang terjadi di bumi ini.
Lagu ini membawa pesan moral penting, yang berupaya membangkitkan kepedulian kita untuk berbuat sesuatu bagi alam. Mumpung masih ada waktu dalam menyelamatkan bumi kita tercinta ini.
Sampai hari ini lagu yang diciptakan 20 tahun yang lalu oleh Dodiq, musisi alumnus Universitas Brawijaya ini, terasa masih relevan dengan jaman. Bahkan semakin relevan. Musiknya pun masih cocok untuk didengarkan oleh telinga musik kekinian.
Dalam proses pengkaryaannya, lirik lagu ini semula tercipta secara spontan, bersamaan dengan ide awal chord dan melodi dari petikan gitar Dodiq Mahabbah. Kemudian lirik awal dan nada-nadanya dikembangkan lebih lanjut, mengalir begitu saja.
Selanjutnya, personil Devals lainnya menyempurnakan musik dasar lagu ini, dengan meng-aransemen-nya untuk kemasan musik band penuh.
Saat itu band Devals sedang merekam album pertamanya yang memuat 12 lagu karya mereka. Dalam proses rekaman lagu Selamatkan Bumi yang dilakukan di Nero Studio Malang ini, lahirlah gagasan untuk mengajak musisi-musisi kota Malang lainnya terlibat keroyokan membawakan lagu ini, agar makin kuat vibrasi-nya.
Sekitar tahun 2000-an di kota Malang banyak lahir band indie yang belum saling kenal. Agar terjadi kolaborasi yang guyub, maka Devals mengajak beberapa pegiat musik indie dan pegiat seni lainnya untuk menyumbangkan suaranya, dengan style masing-masing.
Selain personil Devals yang terdiri dari Dicky Nur Swastono Gondrong (lead guitar), Sonny Sudaryana (guitar), Tomi (drums), Kiki (Bass), dan Dodiq Mahabbah (vocal), lagu ini juga melibatkan 16 orang vokalis dan musisi dari lintas band dan litas genre, serta beberapa sastrawan dan budayawan.
Lagu ini menjadi kaya warna. Ada warna vokal rap rock dari Irung dan Meme dari C4 band, berpadu dengan vokal aliran grindcore dari Andre Bangkai band, dan suara vokal jazzy dari Rany Widiyanti Agustin Simple Funk band dan Dita Homeband Universitas Brawijaya
Tak hanya itu, vokal renyah Novan dari grup jenaka Tani Maju juga ikut menyemarakkan lagu ini, yang berinteraksi manis dengan vokal Ronald dari Putih band, Aldi dari Rel band, Mesa dari Mailbox, Dawang Januar dari Niki Sae, Dalup dari Seven Vibes, Ivan Heryanto Pakde dari Bikers, dan suara berat Bambang dari band Morning After yang beraliran alternative rock, di mana Bambang juga berperan penting dalam proses recording dan mixing lagu ini.
Ada perpaduan unik di lagu ini yang terjadi antara garukan gitar yang garang dari Norman Tolle C4 band, dengan langgam tembang Jawa yang dilantunkan budayawan Mukhtar Effendi, juga suara polos anak-anak dari Sasha, serta jeritan puisi dari pujangga Agus R. Subagyo, yang menjadi penutup dari lagu berdurasi 7 menit 18 detik ini.
Delapan belas tahun kemudian, pada tahun 2020 lagu ini di-remixing, komplit dengan pembuatan video klipnya, yang mengawinkan topik Hari Bumi dengan tema pandemi covid-19 yang sedang melanda dunia. Proses remixing dan pembuatan videoklip ini digawangi oleh DKdewan.
Dalam videoklip ini dilibatkanlah Oceb’Rock Percussion sebagai drummer, Irfan Ibrahim sebagai pembetot bass, MC kondang Oneng Sugiarta, dan MC Eka. Untuk casting dokter serta perawat diperankan oleh Carolina Kuntardjo, Galih, Elvira, Seno, Septa, dan Nawang.
Saya pun sempat “dipaksa” oleh Dodiq untuk ambil bagian syuting beberapa detik untuk videoklip ini dengan pengambilan gambar melalui kamera handphone. Dodiq juga mengajak dua keponakannya, yaitu Lui dan Cerel, untuk mengisi peran visual dari suara anak kecil di lagu ini.
Itulah spirit seorang Dodiq Mahabbah dan Devals band-nya. Semangat untuk menularkan vibrasi dan berkolaborasi. Khas spirit para musisi dari kota Malang, yang dulu pernah dikenal sebagai kota barometernya musik rock Indonesia.
Sebuah catatan kecil tentang perjalanan panjang Devals band, di era tahun 2000-an mereka pernah berangkat recording ke Jakarta untuk merekam single Cinta Berkata, dengan produser Wawan, gitaris SKET (alm), namun sayangnya single ini gagal rilis.
Di lain kesempatan, Devals juga pernah berproses merekam album dengan produser Donny Suhendra, gitaris Krakatau Band. Lebih setahun mereka berproses, sayangnya album tersebut juga gagal rilis. Dan kembalilah mereka ke kota Malang untuk berkarir secara indie.
Dodiq sampai hari ini tetap konsisten di jalur musik. Ia masih berprofesi dan berkarya sebagai musisi, dengan semua suka duka, serta dengan segala resiko dan konsekuensinya.
Dua puluh tahun sudah usia lagu Selamatkan Bumi Ini. Sampai hari ini, lagu tersebut masih terus bervibrasi. Lagu ini masih sangat sejalan dengan perjuangan panjang para pegiat lingkungan hidup dalam menyuarakan penyelamatan alam.
Demi menjaga agar bumi ini tetap lestari.

Indrapura, Sumatera Utara, 22 April 2022

*) Founder Perkumpulan HIDORA (Hiduplah Indonesia Raya)