Semua Berawal dari Kata-Kata (Catatan Reflektif Nandur Kamulyan Eps.1:)

Kelompok musik etnik di Kota Malang, Duo Etnicholic. (ist)

Oleh: Akmad Bustanul Arif

Wingi nandur benih
Saiki methik
Saiki nandur
Sesok ngunduh uwuh
Kemarin menanam benih
Sekarang memetik (hasilnya)
Sekarang menanam (benih)
Besok (pasti akan) mengetam buahnya

Bait itu adalah penggalan syair yang saya kutip dari lagu Tandur Kamulyan yang merupakan bagian dari album bertajuk Nandur Kamulyan karya Duo Etnicholic, sebuah kelompok musik etnik di Kota Malang.

Kali pertama mendengar kata-kata “Nandur Kamulyan” saya langsung jatuh cinta. Mengapa? Pertama, karena saya penyuka kata-kata positif. Saya sangat percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mempengaruhi apapun, bahkan perubahan dunia.

Jika kita belajar Neuro Linguistic Programming (NLP) kita pasti paham bahwa kata-kata bisa mengubah kerangka berpikir kita, kondisi emosional kita, perilaku kita, bahkan menentukan takdir dan masa depan kita.

Kedua, saya menangkap energi positif dari frase Nandur Kamulyan sebagai sengatan kesadaran bahwa hidup ini sejatinya adalah berbuat. Berbuat apapun yang berdampak bagi diri kita dan orang lain atau lingkungan. Berbuat inilah yang pada hakikatnya menanam. Maka apapun yang kita tanam, suatu saat akan kita ketam, bahkan akan menjadi warisan.

Ketiga, di tengah badai pesan-pesan negatif yang kita serap setiap hari melalui media massa dan media sosial, baik berupa perseteruan politik, narasi kebencian, sumpah serapah, perang stigma, dan lain-lain, lambat laun jiwa kita menjadi sakit.

Karena itu kita butuh asupan pesan yang lebih damai, yang lebih positif, yang lebih produktif dan lebih konstruktif. Dan semua itu bisa dimulai dari kata-kata positif.

Karena kata-kata membentuk rasa. Kata-kata menggerakkan jiwa. Dan kata-kata bisa membangkitkan energi dengan cara yang luar biasa.

Jadi, lebih dari sekadar kata-kata, Nandur Kamulyan adalah spirit dan ajakan sosial (campaign) untuk bersama-sama menanam benih-benih kebaikan, sekecil apapun, seremeh apapun, setidak populer apapun, dengan harapan: suatu saat kebaikan itu akan tumbuh subur, terawat oleh alam, terjaga oleh kasih Tuhan, dan terasakan manfaatnya untuk sebagian ataupun seluruh alam.

Mengapa diksi yang dipilih adalah nandur (menanam) dan kamulyan (kemuliaan)? Saya menangkap adanya sebuah kesadaran bahwa manusia diciptakan di dunia ini, ditetapkan sebagai penghuni bumi, karena mengemban tugas khusus, yakni untuk menjaga dan merawat kehidupan.

Coba bayangkan jika di bumi ini tidak ada manusia, maka tidak akan ada peradaban, tidak akan ada kebudayaan.

Yang ada hanya sekumpulan organisme, bakteri, tumbuhan, dan binatang yang saling memakan.

Selebihnya adalah lengang.
Jadi, manusia dalam fitrah penciptaannya memang memiliki tugas khusus untuk melakukan sesuatu; memimpin, menggerakkan, memandu kehidupan, sehingga tercipta apa yang kita sebut makna.

Manusia itu sendiri adalah ciptaan yang paling sempurna, paling paripurna. Di dalam diri manusia diinstall nafsu (tempat baik dan buruk berseteru) dan nurani (tempat segala benih kebaikan tersembunyi). Dan nilai kesempurnaan hakiki manusia ada di “proses menjadi” yang mereka jalani.

Lalu, mengapa yang ditanam adalah kemuliaan? Karena kemuliaan adalah puncak dari kebaikan. Sebuah capaian tertinggi dari kebaikan. Sebuah nilai paripurna dari kemanusiaan.

Kemuliaan adalah ramuan ajaib yang memadukan kebaikan, ketulusan, tanggung jawab, pengabdian, dan cinta. Kemuliaan kemudian menjadi orientasi derajat tertinggi dari proses menjadi manusia.

Al-Quran membahasakannya sebagai “maqaman mahmuda” (tempat yang mulia). Dan derajat kemuliaan ini hanya bisa dicapai dengan tindakan-tindakan yang kita lakukan, yang diantaranya adalah menanam benih-benih kebaikan.

So, mari kita sadari kembali keberadaan kita di dunia ini sebagai entitas yang bermakna, makhluk yang dititahkan untuk bekerja, yakni merawat dan menjaga. Mari kita syukuri keberadaan kita dengan berbuat kebaikan dan kemuliaan.

Semua itu bukan hanya untuk kita, tetapi untuk kelangsungan masa depan anak cucu kita. Untuk kelangsungan hidup generasi-generasi kita berikutnya.
Dan semua itu hanya bisa kita lakukan jika kesadaran nurani kita bicara, jika di hati kita dipenuhi rasa tanggung jawab, ketulusan, dan cinta.

Malang, 5 Juni 2022 https://youtu.be/Gyk9OoyV9PY.

Penulis adalah Konsultan CSR dan Pemberdayaan Masyarakat, dan Direktur Yayasan Imadaya Suluh Nusantara. Tinggal di Singosari Kabupaten Malang.