Sengketa Tanah di 2 Desa di Ngajum Tak Kunjung Usai

Sujarwo didampingi rekannya saat memberikan keterangan di Kantor Yayan Riyanto & Partners. (ist)

BACAMALANG.COM – Adanya perkara segketa tanah di Desa Balesari dan Desa Maguan di Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang, hingga kini ternyata tidak kunjung usai lantaran kedua belah pihak saling melapor. Bahkan yang terbaru, pihak ahli waris dilaporkan dan dituduh atas tindakan pengrusakan.

Tanah yang menjadi objek sengketa tersebut diketahui seluas 23.715 meter persegi dengan nomor persil 86 dan nomer 266 dari buku C desa dengan letak di Dusun Balesari Desa Balesari Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang. Namun sejak SISMIOP tahun 2011, SPPT tanah berbunyi milik Mustakim, Sutrisno Murdi dan Tamsir.

Sedangkan, berdasarkan surat pernyataan almarhumah Saerah Erah tertanggal 23 Januari 2019, ahli warisnya adalah Sujarwo, Sunarsih dan Su’ud Faidah warga Jalan Raden Sapu Jagat RT 06 RW 03 Desa Maguan. Surat pernyataan ahli waris ini disaksikan Giman (Kasun Maguan), Adi Widodo (perangkat Desa Maguan), serta dibenarkan Suwoto (Kepala Desa Maguan) dan dibenarkan Tito Fibrianto (Camat Ngajum).

“Tanah tersebut sudah jelas milik Saerah Erah berdasarkan buku karawangan, sehingga seharusnya menjadi milik Sujarwo, Sunarsi dan Su’ud Faidah,” terang Law firm Dr. Yayan Riyanto yang ditunjuk sebagai kuasa hukum.

Untuk itu, pihaknya meminta ketiganya dalam hal ini Mustaqim, Sutrisno Murdi, Tamsir dan Mustaqim segera mengembalikan tanah tersebut karena secara bukti yang ada menjadi milik ahli waris Saerah erah. “Saya berharap ada sebuah win win solution, tanpa harus ke ranah hukum. Tetapi sekarang ini justru malah klien saya yang dilaporkan atas tuduhan pengrusakan,” ujar Yayan, yang dikenal sebagai pengacara senior.

Sujarwo, salah satu ahli waris menambahkan, bahwa tanah tersebut bagian dari luas yang ada di 2 desa yakni Desa Balesari dan Desa Maguan sebagai warisan dari sang nenek Saerah erah. Bahkan, terang dia, sejumlah pejabat di Malang juga menempati tanah milik almarhumah Saerah erah yang berpindah secara sepihak tanpa adanya komunikasi.

“Pada intinya saya mau duduk bersama, bukan menempuh jalur hukum agar kalau nanti semua sudah meninggal tidak meninggalkan persoalan hukum kepada anak cucu kita. Kalau saling lapor ya tidak kunjung usai, karena sudah hampir 38 tahun dan 20 pengacara sudah saya pakai dan hasilnya begini-begini saja,” ungkapnya.

Ia pun berharap, dengan bantuan Yayan Riyanto & Partners bisa menemukan titik terang dengan bisa disaksikan oleh Wakil Bupati atau Bupati.

Sementara itu, Sutrisno Murdi saat dikonfirmasi melalui whatsaap hanya menjawab agar tidak melanjutkan persoalan ini. (yon)