Siklus April – Oktober Tangkapan Ikan Meningkat, Nelayan Sendang Biru Bersyukur

Kehidupan nelayan Sendang Biru, inzet Wahyu Nugroho. (ist)

BACAMALANG.COM – Berdasar siklus tahunan, pada Bulan April hingga Oktober, hasil tangkapan ikan melimpah di Pantai Timur (Sendang Biru) Kabupaten Malang.

Hal ini menjadikan Nelayan Muda Sendang Biru Wahyu Nugroho merasa bersyukur dan dirinya berharap ada bantuan untuk bisa menambah pendapatan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Hasil tangkapan ramai itu ya biasanya pada bulan 4 (April) sampai bulan 10 (Oktober) tiap tahunnya,” tegas Wahyu Nugroho, Sabtu (18/6/2022).

Dikatakannya untuk hasil uang kalau 3 ekor Tuna misalnya, maka dapat uang Rp 5-7 juta. “Kalau rejeki agak banyak ya bisa dapat 3 ekor dengan hasil sampai 7 juta. Kalau mentok (minimal) ya balik modal Rp 100 ribu. Itu ijolan (ganti) untuk bahan bakar Solar,” tuturnya.

Ia menceritakan tentang harga ikan. “Harga gak sama dengan lelang (tempat lelang). Misal di pelelangan Rp 75 ribu, kalau di Kita langsung pengepul harganya kisaran Rp 30-45 ribu. Alhamdulillah tahun ini bagus di pelelangan Rp 70 ribu, di Kami dibayar Rp 45-50 ribu. Tahun kemarin-kemarin dibayar Rp 35 ribu paling mahal,” papar pria yang menjadi nelayan sejak tahun 2014 ini.

Dijelaskannya harga ikan kecil Baby Tuna 1 kg Rp 18-20 ribu, Cakalang (Blereng) Rp 15 ribu, Lemadang Rp 17 ribu. “Untuk Ikan Lemadang ada penurunan harga dari tahun kemarin. Sekarang murah, dulu pernah Rp 27 ribu, sekarang maksimal Rp 17 ribu. Tergantung ukuran juga sih,” imbuhnya.

Ia mengungkapkan untuk pekerjaan sampingan adalah ngojek (jasa antar penumpang menggunakan sepeda motor). “Ya gak ada pekerjaan sampingan. Paling-paling ya ngojek Mas, kayak orang-orang disini juga,” urainya.

Ia mengatakan sebagian nelayan lain memiliki beragam mata pencaharian. Yaitu berkebun Pisang, Cengkeh, Kelapa. “Ya itu yang punya ladang bisa diolah untuk pendapatan sehari-hari. Kalau seperti saya gak punya ladang. Ladang Kita ya di lautan saja,” jelasnya.

Ia mengatakan hasil jerih payah sebagai nelayan dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Uang dari nangkap ikan dipakai untuk kebutuhan sehari-hari sebagian untuk tabungan, dan biaya sekolah anak,” tukasnya.

Selanjutnya ia mengatakan soal bantuan. “Untuk bantuan ada sih kadang dapat, kadang tidak. Prosedur melalui kelompok. Ada saja sih bantuan. Pernah juga ada bantuan perahu dan mesin kuras. Bantuan ada namun bergulir. Kita ingin ada rapat rutin, agar komunikasi lancar. Harapan Kami bantuan itu bisa disalurkan ke Kami kelompok kecil biar ada pemerataan,” sambungnya.

Mewakili suara nelayan kecil ia ingin dibuatkan tempat pelelangan ikan. “Kami nelayan kecil ingin ada tempat pelelangan sendiri, ada retribusi, juga dapat perhatian. Jadi gak cuman orang tahunya tangkapan Kami berupa Ikan Kerapu, Ikan Suluk mata lebar putih, Ikan Sisik, Udang Mutiara, dan Udang Pasir,” ungkapnya.

Diungkapkannya ia ingin mendapat bantuan Rumpon. “Kita selama ini nunut / menumpang, jika sewaktu-waktu rumpon dipakai pihak lain, maka otomatis pendapatan kita menurun (sulit). Semisal dapat bantuan Sepitan (perahu speed boat bertenaga 15 pk) ya gak papa. Tapi alhamdulillah beberapa waktu lalu tempat tinggal Kita ada bantuan untuk pembebasan lahan sampai dapat sertifikat resmi,” pungkasnya. (had)