Soroti Climate Change, HMI Komisariat FISIP Unair Sodorkan 4 Point Penting

Caption : HMI Komisariat FISIP Universitas Airlangga gelar diskusi film. (ist)

BACAMALANG.COM – Turut berpartisipasi dalam menyorot Climate Change (perubahan iklim dunia) HMI Komisariat FISIP Universitas Airlangga menyodorkan 4 point penting.

“Dalam menyikapi Konferensi Tingkat Tinggi Iklim atau COP ke-26 di Glasgow, Skotlandia dimana Presiden terus berbicara terkait dengan krisis iklim di forum-forum internasional dengan percaya diri dan terus mengklaim bahwa dibawah pemerintahannya Ia berkomitmen untuk serius menangani isu perubahan iklim,” tegas Ketua Umum HMI Komisariat FISIP Airlangga, Iswandi Sumiadin, Selasa (16/11/2021) dalam rilis yang diterima media ini.

Seperti diketahui, HMI Cabang Surabaya Komisariat FISIP Airlangga melalui Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan (PTKP) melakukan bedah film sekaligus diskusi, baru-baru ini.

“Yang mana Kami melihat pernyataan-pernyataan Presiden Jokowi adalah sebuah paradoks yang nyata. Hal itu Kami telusuri melalui pemutaran film yang dibuat oleh jejaring Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STUEB) bersama Watchdoc yang mana mereka meluncurkan film dokumenter terbaru berjudul Bara Dwipa,” urainya.

Sekilas info, film dokumenter Bara Dwipa, menceritakan kehidupan masyarakat dan aktivis di Sumatera yang terus menyerukan pesan penting untuk mengingatkan buruknya dampak proyek batu bara yang sudah berdiri dan tengah direncanakan oleh Presiden RI Joko Widodo.

“Yang mana berdampak pada masyarakat di sekitar PLTU yang telah lama menderita akibat pembakaran batubara. Abu dan debu batubara telah menjadi sumber penyakit yang cukup serius yang membuat paru-paru masyarakat sekitar cepat rusak serta menyebabkan kerusakan terhadap sumber mata pencaharian warga baik di pertanian maupun di pesisir pantai berdampak pada banyaknya hewan laut seperti Penyu ditemukan mati di pinggir pantai karena pembuangan limbah PLTU,” terangnya.

Dikatakannya, tentunya masih banyak lagi proyek-proyek PLTU yang direncanakan oleh Pemerintah. ” Oleh karena itu HMI Komisariat FISIP Airlangga terus melakukan edukasi kepada masyarakat luas dan kader-kader HMI, untuk terus peka terhadap persoalan perubahan iklim, karena ini menyangkut dengan masa depan peradaban manusia. Bagaimana agar Kita senantiasa menolak industri-industri yang tidak ramah lingkungan dan mendukung serta mendorong industri-industri yang memakai konsep ramah lingkungan (industri hijau),” urainya.

HMI Komisariat FISIP Airlangga dari hasil bedah film dan diskusi tersebut, menghasilkan beberapa poin penting yang harus dilakukan dalam mengatasi perubahan iklim. Selengkapnya meliputi :

1). Reformasi kebijakan dengan menata ulang kebijakan dan mengkondisikan kebijakan nasional yang mendukung penerapan industri hijau.

2) Pengembangan sektor energi menuju sumber energi rendah karbon dengan beralih menuju penggunaan sumber-sumber energi rendah karbon dan model-model ekstraksi bernilai tambah dapat membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

3) Peningkatan nilai tambah dalam ekstrasi mineral, pengembangan industri melalui pendekatan yang tepat sasaran untuk meningkatkan nilai tambah, dalam pengolahan mineral dan menumbuhkembangkan industri pengolahan mineral di daerah dengan energi terbarukan.

4) Menilai investasi industri manufaktur untuk mewujudkan keberlanjutan lingkungan, penilaian yang sistematis dan revisi kebijakan diperlukan untuk memungkinkan investasi pada industri hijau yang dapat membantu mengurangi risiko investor dan menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif.

“Semoga aspirasi, dan sorotan Kami dapat segera direspon dan dicarikan solusinya demi keberkahan, kebarokahan dan kemaslahatan rakyat Nusantara,” pungkasnya.

Bagi yang ingin bersilaturahmi dan mengetahui lebih lanjut bisa klik : https://www.instagram.com/p/CWOME_UveFN/?utm_medium=copy_link.

Bagi yang ingin menonton film bisa klik:
https://youtu.be/45MizlWnsQ. (had)