Spirit Kartini dan Aktualisasi Diri Perempuan Masa Kini

Foto: Silvia Rachman. (ist)

Oleh : Silvia Rachman

Bulan April tahun ini terbilang istimewa, karena selain bertepatan dengan bulan Ramadan, dalam bulan ini juga terdapat hari lahir pahlawan wanita yang sangat familiar dengan sebutan pahlawan emansipasi.  Raden Ajeng Kartini Djojo Adiningrat, lahir pada tanggal 21 April, sekitar 142 tahun silam memiliki semangat luar biasa dalam membuka jalur ‘kebebasan’ bagi kaum perempuan. Perjuangan itu yang kini terus memberi nyala kepada para perempuan untuk dapat mengaktualisasi dirinya dalam bersosialisasi dan beraktivitas menjalankan tugas mulianya. 

Kebaya dan Semangat Hari Kartini

Salah satu yang identik dengan perayaan hari Kartini adalah acara penghormatan dengan memakai busana kebaya dan jarit oleh para perempuan di beberapa komunitas dan lapisan masyarakat pada hari kelahiran ibu Kartini. Pemakaian kebaya dan jarit ini menjadi penyemangat bagi perempuan masa kini agar senantiasa menjunjung tinggi istiadat dan sisi fiminisme perempuan dalam balutan budaya Jawa yang luhur. Seorang perempuan tidak boleh melupakan norma-norma kesantunan, nilai-nilai tata krama dan istiadat yang berlaku di tengah-tengah masyarakat yang heterogen.

Meneladani semangat Ibu Kartini tidak hanya cukup dengan berbusana kebaya dan jarit, tetapi para perempuan harus dapat memaknai lebih dalam terhadap pesan-pesan perjuangan yang ditinggalkan oleh Kartini. Peringatan hari kelahiran Ibu Kartini tidak hanya sebagai ajang untuk menampilkan busana kebaya. Parade busana kebaya hanya sebagai simbol atas penghargaan terhadap jasa sang pahlawan secara lahiriah. Sedangkan ruh dari peringatan hari kartini seyogyanya tidak hanya simbolik, namun para kartini masa kini harus dapat meneladani semangat Ibu Kartini Yang tidak kalah penting, bagaimana perayaan dan pemakaian kebaya ini dapat menggugah kesadaran jiwa sebagai perempuan yang memiliki tugas mulia dalam membentuk generasi hebat di masa depan. Meneladani dan menggelorakan semangat Ibu Kartini, dapat diwujudkan melalui kontribusi nyata untuk orang-orang di sekitarnya. Dalam lingkup keluarga, kontribusi dan perjuangan seorang ibu adalah bagaimana ia dapat mendidik dan menanamkan kebaikan kepada anak-anaknya. Dalam lingkup masyarakat, ia dapat berperan sebagai inspirator perubahan, memberi sumbangsih pemikiran, melibatkan diri dalam kegiatan yang dapat mensejajarkan kualitas pengetahuan dan keterampilan para perempuan.  Sedangkan dalam lingkup lembaga pendidikan, perempuan yang berkiprah sebagai pendidik harus menjadi mentor dalam capaian prestasi akademik dan non akademik serta membekali peserta didik dengan kecakapan soft skill dan hardskill agar kompetitif di era globalisasi .

Proses pendidikan adalah sebagai sarana untuk memberdayakan potensi para perempuan dalam menunjukkan eksistensi dirinya. Hadirnya para perempuan yang dapat menunjukkan eksistensi diri adalah bagian dari cita-cita ibu Kartini. Pada era yang semakin maju, sangat dibutuhkan kartini-kartini tangguh yang berkarakter cerdas, santun, bertata karma, visioner, pantang menyerah dan senang belajar tanpa melupakan kodratnya sebagai madrasah yang utama dalam keluarga..  Untuk menghidupkan kembali semangat, perjuangan dan cita-cita Kartini yang luhur, maka perempuan yang hidup di era modern harus selalu mereposisi diri, mengembangkan potensi diri untuk mewarnai kemajuan peradaban.

Kartini dan spirit literasi

Raden Ajeng Kartini memiliki kemampuan literasi yang sangat bagus. Sebagai perempuan yang hidup pada masa kolonial, beliau tidak mau berdiam diri dan pasrah menerima keadaan. Meski tidak dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan masyarakat luas, Ibu Kartini menyibukkan diri dengan membaca dan menulis . Kegemaran membaca ibu Kartini itu dipengaruhi oleh lingkungan, teman di Europeesche Lagere School (ELS) dan kakak yang selalu mengirimkan buku bacaan kepada Kartini. Dalam banyak artikel tentang sejarah Kartini, diulas juga tentang kegemaran ibu Kartini dalam menulis surat dan korespondensi. Surat-surat kartini yang dikirim kepada teman dan sahabat di Belanda itu yang kemudian dibukukan. Buku “ Dari Kegelapan Menuju Cahaya” atau sering disebut “Habis Gelap Terbitlah terang” adalah karya yang hingga hari ini dapat menjadi inspirasi. Karya buku dari ibu Kartini itu menjadi bukti bahwa semangat belajar beliau sangat tinggi. Melalui buku tersebut, kita dapat membaca tentang sebuah keberanian yang diungkap melalui tulisan. Ibu Kartini telah menunjukkan bahwa tulisan dapat menjadi kekuatan hebat dalam mengubah pemikiran. Perempuan masa kini, yang hidup di era digital akan sangat mudah untuk menjadi penulis. Media sosial seperti Facebook, Whatsapp, Instagram, Twitter dan media online lainnya harus dapat dioptimalkan dan dimanfaatkan untuk membagikan konten bermanfaat dan mengedukasi. Melalui konten sederhana yang dibuat akan mengasah kemampuan literasi dan meningkatkan produktivitas diri. Menulis konten-konten sederhana seperti tips kuliner, kecantikan, pendidikan, kesehatan atau konten lain sesuai dengan passion adalah ringan bagi penulis pemula.. Berlatih untuk menulis dari yang sedikit, akan membawa kita pada perubahan-perubahan besar yang tanpa disadari akan membentuk intelektualitas diri. Dari sisi kesederhanaan materi, memulai untuk menulis tentu dapat dilakukan oleh siapapun (Imam Robandi, 2017).

Hidup di era teknologi yang serba cepat dan canggih, memungkinkan siapa saja, terlebih para perempuan akan memperoleh pengetahuan, wawasan dan informasi untuk meningkatkan literasi. Untuk meningkatkan kemampuan literasi pada masa ini tidak harus ditunjang dengan bacaan berupa buku-buku, namun banyak sekali informasi yang dapat diakses melalui media sosial oleh para perempuan. Selain itu, para perempuan juga dapat aktif dalam kegiatan social kemasyarakatan yang dapat memberi kesempatan untuk memperoleh wawasan social yang dapt meningkatkan intelekstualitas diri.. Seperti keyakinan Kartini dengan memiliki pendidikan dan kemampuan literasi yang baik, para perempuan akan menjadi ujung tombak perubahan masa depan.

Selain habit membaca dan menulis, Ibu Kartini juga memiliki kemampuan berbahasa Asing yang bagus, khususnya Bahasa Belanda. Kemampuan berbahasa asing yang diperoleh Ibu Kartini tidak lepas dari pemikiran progresif sang ayah. Sebagai puteri dari priyayi Jawa, R.A Kartini sangat beruntung karena dapat memperoleh pendidikan barat yang dikhususkan untuk pejabat Hndia Belanda. Kesempatan belajar itu memberi pengaruh positif kepada R.A Kartini sehingga dengan mudah menguasai Bahasa Belanda. Lingkungan, komunitas dan kesempatan yang diperoleh R.A KArtini kala itu menjadi faktor yang mendorong kemampuannya dalam menguasai Bahasa asing, lebih dari itu, ia memiliki semangat belajar yang tinggi. Bila dikaitkan dengan situasi dan kondisi saat ini, setiap perempuan tentu memperoleh kesempatan yang luas untuk belajar Bahasa asing. Keteladanan yang dapat dipetik dari Ibu Kartini adalah pentingnya menguasai Bahasa asing, terutama bagi generasi penerus Kartini. Era Globalisai menuntut para generasi penerus bangsa, termasuk perempuan untuk dapat beradaptasi melalui penguasaan bahasa asing. Banyak manfaat yang diperoleh dari penguasaan Bahasa Asing. Bahasa asing dapat menjadi pembuka jalan dalam meraih kesempatan untuk belajar ke luar negeri. Selain itu tidak dapat dipungkiri bahwa pada era yang semakin maju, sumber daya manusia Indonesia harus sejajar dengan bangsa lain terutama dalam kemampuan berbahasa asing. Jika para perempuan dapat menguasai Bahasa asing maka kesempatan untuk menjalin networking dalam segala aspek kehidupan akan terbuka lebar.

Semangat Edukasi di era teknologi

Raden Ajeng Kartini adalah putri bangsawan yang memiliki semangat edukasi yang tinggi. Meski hidup dan dibesarkan di dalam lingkungan yang kental dengan etiket feodal Jawa, namun tidak menyurutkan tekadnya untuk menyuarakan hak perempuan untuk memperoleh pendidikan. Emansipasi yang digagas oleh Kartini disebabkan oleh adanya diskriminasi dan anggapan terhadap kaum wanita sebagai warga kelas dua. Para perempuan yang hidup di era Kartini tidak memiliki akses terhadap pendidikan serta pengembangan diri yang setara dengan kaum laki-laki. Kondisi tersebut semakin menguatkan Kartini untuk menyuarakan kesetaraan perlakuan terhadap perempuan. Perempuan harus diberi kesempatan untuk dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki agar dapat mengambil peran dalam pengembangan pendidikan dan keterampilan untuk kebermanfaatan diri juga lingkungan.

Cita-cita ibu Kartini terhadap kemajuan pendidikan bagi para perempuan harus dapat dimaknai dan diwujudkan sesuai jaman. Pendidikan era Kartini adalah berbeda dengan Pendidikan era millennial. Bila Ibu Kartini memperoleh kesempatan untuk belajar di Europeesche Lagere School (ELS) adalah menjadi standar minimal saat itu, maka bagi kartini masa kini tidak demikian. Perempuan masa kini tidak hanya cukup memperoleh pendidikan dasar, namun ia juga membutuhkan pengetahuan dan wawasan sesuai perkembangan jaman. Sebagaimana kita tahu, kemajuan peradaban sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan digitalisasi. Seorang perempuan berkemajuan diharapkan memiliki kemampuan intelektual yang lebih baik dari jaman ke jaman.

Sejalan dengan pemikiran Kartini yang merujuk pada nilai-nilai kemodernan, maka kemampuan intelektualitas perempuan masa kini harus disandingkan dengan penguasaan dan literasi teknologi yang memadai. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada era digitalisasi, teknologi sudah menjadi kebutuhan hidup saat ini. Oleh sebab itu para perempuan masa kini harus memiliki awareness untuk membekali diri dengan penguasaan teknologi. Perempuan sebagai pencetak generasi masa depan, harus dapat memanfaatkan tekonologi dalam beragam kebutuhan, baik untuk komunikasi, pendidikan serta aktivitas yang mendukung eksistensi diri. Kiprah dan kapabilitas perempuan masa kini adalah menjadi emansipasi dalam menentukan masa depan dan kemajuan bangsa.

Penulis: Silvia Rachman, Guru SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi Kabupaten Malang