Tagana Lakukan Trauma Healing, Bantu Pulihkan Korban Gempa Malang

Caption : Kegiatan trauma healing Tagana Kabupaten Malang. (ist)

BACAMALANG.COM – Guna membantu memulihkan kondisi psikologis korban gempa Malang yang mengalami trauma, Tagana (Taruna Siaga Bencana) Kabupaten Malang melakukan treatment Trauma Healing.

“Harapannya, dengan begini, anak-anak bisa melupakan musibah yang terjadi, dan bisa kembali bermain dengan gembira,” ungkap anggota Tagana Kabupaten Malang, Hari Subakti di Desa Sumbertangkil, Kecamatan Tirtoyudo.

Seperti diketahui, Taruna Siaga Bencana, selanjutnya disingkat Tagana adalah relawan sosial merupakan Tenaga Kesejahteraan Sosial yang berasal dari masyarakat dan memiliki kepedulian serta aktif dalam penanggulangan bencana bidang perlindungan sosial.

Sekilas informasi, rasa traumatik bisa saja terjadi bagi masyarakat yang terdampak gempa bumi, Sabtu (10/4/2021). Apalagi bagi anak-anak yang masih berusia dini.

Mengantisipasi hal itu, Kementerian Sosial melalui Tagana Kabupaten Malang melakukan trauma healing dengan menyediakan Pos Layanan Dukungan Sosial di Desa Sumbertangkil, Kecamatan Tirtoyudo, Rabu (14/4/2021)

Tampak, anak-anak yang rumahnya ambruk akibat gempa bermain berbagai permainan. Mulai dari permainan ular tangga, hingga permainan tradisional.

Sesekali, mentor dalam permainan itu mengiming-imingi hadiah, agar anak-anak semangat dalam bermain.

Penanganan trauma healing itu, menurut Hari akan berjalan selama 4 hari pada suatu daerah terdampak gempa bumi.

“Kali ini, sedang terlaksana di Kecamatan Tirtoyudo dan Dampit. Empat hari kemudian kami akan pindah ke Kecamatan Ampelgading,” tuturnya.

Sementara itu, anggota Tagana Kabupaten Malang yang lain, Hernika Wati, yang juga berperan sebagai mentor permainan itu merasakan dampak permainan yang ia ciptakan.

Pasalnya, paska kejadian gempa tersebut, sejumlah anak-anak tampak ketakutan dan cenderung murung. Menurutnya, saat ini mereka sudah mulai riang kembali. Perlahan-lahan mereka mulai melupakan peristiwa yang traumatis itu.

Dalam sekali permainan, menurut Hernika anak-anak yang ikut sedikitnya sebanyak 10 hingga 12 orang. Dikatakannya, permainan ini akan terus dilakukan selama anak-anak ada kesempatan, yakni selama 4 hari ke depan. (*/had)