Tak Putus Asa Terdampak Pandemi, Alumnus UMM Ini Sukses Usaha Jasa Perawatan Kecantikan

Weny Tiffany, beserta sampel Nail Art. (ist)

BACAMALANG.COM – Adanya pandemi beberapa waktu lalu menghancurkan banyak usaha yang terpaksa tiarap bahkan gulung tikar.

Namun tidak dengan perempuan muda satu ini, yang berbekal inovasi tetap bersemangat dan optimis menjalani usaha jasa di bidang perawatan kecantikan.

Alhasil, perlahan namun pasti, kini usahanya semakin maju dan kisahnya diharapkan menjadi motivasi dan kebangkitan bagi pengusaha lain untuk bersama memajukan perekonomian di tanah air.

‘Kapan buka usaha ? Ya awal menikah sudah mulai merintis cuman belum terlalu diseriusin,” tegas Pemilik Usaha Kecantikan Tiffany Beaute, Weny Tiffany.

Perempuan alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2017 dan berdomisili di Purwodadi Pasuruan ini menceritakan awal mula membuka usaha. ” Berapa modal awal?. Modal awal nggak banyak,” paparnya.

Ia menjelaskan usaha Make Up Artis (MUA) yang digelutinya sempat terhenti gegara pandemi. “Apa alasan buka usaha? Ya karena pandemi, MUA pada saat itu sedang kacau karena gak diperbolehkan menggelar hajatan dimana-mana,” imbuhnya.

Sehari-harinya kini ia melayani jasa :
facial, nail art dan eyelash extension. “Paling ramai sekarang ya nail art,” tuturnya.

Ia mengatakan jika potensi pasar masih terbuka lebar. “Bagaimana gambaran potensi pasar? Menurut saya
pasar masih terbuka lebar pada segmen (kelas menengah) karena Kami ada diantara pedesaan dan agak jauh dari kota. Saat ini kastamer saya banyak dari Lawang Malang” tuturnya.

Ia menceritakan tentang kisaran omset yang diperoleh. ‘Berapa omset ?

Omset satu bulan kalau ramai misal mau Lebaran/Natal/tahun baru bisa sampai Rp 6 juta per bulan. Tapi Lebaran paling banyak. Kalau, hari-hari biasa ya bisa dapat Rp 3 – 4 juta,” sambungnya.

Sebagaimana usaha lainnya, usaha yang dijalani juga menjumpai kendala.

“Apa kendala usaha? Kendalanya lokasi usaha yang masih jauh dari kota dan tempat yang masih kurang paten untuk usaha seperti ini,” lanjutnya.

Selanjutnya Ia menjelaskan kiat bertahan, dan segmen konsumen. “Bagaimana kiat bertahan pada bisnis ini?. Ya tetap promosi di sosial media dan selalu upgrade ilmu dan upgrade alat dan bahan. Pembeli dari mana saja? Customer awalnya dari teman-teman dekat, lalu merambah banyak dari Facebook dan instagram,” terangnya.

Ia mempunyai harapan yang tidak berlebihan, yakni bisa membuka cabang baru. “Apa harapan ke depan? Ke depannya berharap bisa membuka cabang di perkotaan,” pungkasnya.(had)