Tanamkan Cinta Budaya dan Lingkungan, SDN Tunjungsekar 1 Kota Malang Kembangkan Batik Eco Print

Para siswa SDN Tunjungsekar 1 Kota Malang menunjukkan Batik Eco Print karya mereka pada akhir tahun 2019. Foto diambil sebelum masa pandemi. (ist)

BACAMALANG.COM – Saat ini tren gaya hidup ramah lingkungan semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga menjaga kelestarian alam. Tren inilah yang mendasari civitas akademi SDN Tunjungsekar 1 Kota Malang, Jawa Timur mengembangkan batik eco print yang ramah lingkungan.

Seperti diungkapkan Dra Sri Astuti, Koordinator Bidang Pembinaan Karakter SDN Tunjungsekar 1 bahwa sejatinya pihaknya sudah mengembangkan kegiatan batik tulis untuk seluruh siswa, termasuk wali murid sejak tahun 2010. “Namun saat itu kami masih membatik secara konvensional, dengan alat dan bahan seperti pada umumnya,” ujar Sri Astuti kepada Bacamalang.com, Sabtu (26/6/2021).

Lambat laun Sri Astuti mulai menyadari bahwa membatik ini menimbulkan limbah kimiawi. Sementara di sisi lain SDN Tunjungsekar telah menyandang sekolah Adiwiyata yang berbasis lingkungan di tingkat ASEAN sejak tahun 2016. “Dari sini saya mencoba mencari tahu apa dan bagaimana metode yang tepat agar kegiatan membatik ini dapat tetap berlangsung sebagai pendidikan karakter dan cinta budaya bangsa namun tetap sadar akan kondisi lingkungan di sekitarnya,” urai dia.

Akhirnya sekitar tahun 2018, Sri Astuti belajar dan menemukan metode Eco Print ini dari browsing lewat internet dan menyimak di media berbagi Youtube. “Awalnya Ecoprint ini dikembangkan karena orang bule (barat) kulitnya cenderung sensitif jika menggunakan kain batik biasa,” katanya.

Sesuai namanya, eco asal kata ekosistem (alam) dan print yang artinya mencetak, jadi batik ini dibuat dengan cara mencetak dengan bahan-bahan yang terdapat di alam sekitar sebagai kain, pewarna, maupun pembuat pola motif. Bahan yang digunakan berupa dedaunan, bunga, batang bahkan ranting. Tidak seperti batik tulis atau cap yang pada tahap tertentu menggunakan bahan kimia, ecoprint menggunakan unsur-unsur alami tanpa bahan sintetis atau kimia. Karena itulah batik ini sangat ramah lingkungan dan tidak menimbulkan pencemaran air, tanah atau udara.

Ia memaparkan, ternyata di sekolah banyak tanaman yang bisa dipakai bahan untuk membatik. Mulai daun jati, daun mangga, daun mengkudu bahkan sejumlah tanaman toga. “Dan yang dibutuhkan ternyata tidak banyak, jadi intinya bahan hanya diambil seperlunya saja,” imbuhnya.

Para siswa diajari teknik pounding yang merupakan dasar membatik dengan mencetak daun di atas kain. Kegiatan membatik ramah lingkungan ini membuat SDN Tunjungsekar 1 mampu meraih predikat juara dalam Green School Festival tingkat Kota Malang pada tahun 2019. “Namun membatik dengan cara ini tidak dapat membentuk motif khas Malangan seperti topeng, tugu atau teratai,” ungkapnya.

Virus membatik ini ternyata tidak berhenti di tingkat siswa, namun berlanjut ke kelompok ibu-ibu. Bukan hanya pada kain biasa, batik ini berkembang pada kain sutera bahkan kertas dan kulit. “Hasilnya ternyata luar biasa dari sisi produk maupun nilai ekonomisnya, dari modal hanya sekitar Rp. 100 ribu bisa mendapatkan keuntungan berlipat,” aku Sri Astuti.

Bahkan saat ini produknya bukan hanya beredar di tingkat lokal, namun mampu menembus dunia internasional, yakni Malaysia, Singapura, hingga Hong Kong.
“Bagi yang paham, Batik Eco Print itu sifatnya eksklusif, karena dibuat tangan dengan edisi terbatas,” tambahnya.

Masa pandemi membuat kegiatan membatik untuk para siswa di sekolah menjadi terhenti, namun Sri Astuti mengaku dirinya tetap berkarya di rumah bersama kelompok-kelompok UMKM yang ada. “Intinya kami menanamkan cinta budaya sekaligus cinta lingkungan utamanya kepada anak-anak sejak usia dini, dengan harapan anak-anak tidak hanya pandai secara akademis tapi juga punya ketrampilan atau softkill yang berguna di masyarakat, serta menanamkan jiwa kewirausahaan,” papar Pembina Ekstra Kurikuler Eco Print SDN Tunjungsekar 1 ini.

Menurut Sri Astuti, dari Batik Eco Print ini ada hal prinsip tentang lingkungan yang harus dipahami sejak usia dini yang disebutnya sebagai Eco Family. “Eco Family itu hanya mengambil seperlunya, setelah diambil harus ditanam lagi agar tumbuh kembali,” tandasnya. (ned)