Taurus Keras Kepala, Film Pendek Dari Oneng Sugiarta Yang Masih Berkutat Dengan Format Senada Dengan Film 18 KM

Produser Film Taurus Keras Kepala, Oneng Sugiarta (kiri), bersama sutradara Irfan Zahri dan Rulli Suprayugo. (ned)

BACAMALANG.COM – Film Taurus Keras Kepala adalah film pendek dengan sederet pendukung, mulai MC Kondang Oneng Sugiarta sebagai produser, Xiong dan Wahyu Kenzo sebagai Executive Producer serta dibesut tiga sutradara, Rulli Suprayugo, Irfan Zahri,Yusuf Nur Mahmudi.

Film ini dibintangi sejumlah pemeran seperti Belle Belz, Calvina, Delonix, Bintang, Ragilda, Rezha Tan, Dinna Notie, Oliv, Meme Angsa, Septian, Bisma Haryu dan Olle.
Film yang tayang di Movimax pada Sabtu 15 Mei 2021 ini adalah gabungan dari lima seri film Taurus yang akan bergantian tayang di youtube. Taurus 1 menceritakan Taurus yang seorang transgender harus berjuang dan tampil maksimal saat diputuskan pacarnya beberapa menit sebelum konser.

Taurus 2 menggambarkan kehidupan Lia sebagai seniman yang sukses membuat pameran dengan beragam masalah mendera. Taurus 3 Kisah Orlena yang hamil 9 bulan sahabat Taurus dan Lia menanti suaminya bertugas sebagai satgas covid yang terpapar. Taurus 4 kisah hidup orang tua Lia di masa lalu yang kelam dan meninggalkan keluarga demi selingkuhannya. Sedangkan Taurus 5 kenyataan hidup Taurus dan Lia bahwa mereka sebenarnya ditukar sedari bayi dengan sengaja.

Namun menyaksikan Taurus tidaklah menjadi semudah sinopsis yang ada. Senada dengan pendahulunya, 18 KM, film ini masih berkutat dengan video klip musik karya Oneng. Bahkan dapat dikatakan film ini lebih kuat menonjolkan video klip dbanding 18 KM yang cenderung lebih kuat pada alur cerita tokoh utamanya.

Sebagai penikmat film, jurnalis BacaMalang.com yang ikut menonton film Taurus ini mengumpulkan beberapa catatan. Pertama, video klip yang dominan secara durasi membuat film ini menjadi ambigu, apakah sebuah cerita pendek atau penayangan video klip musik, mengingat video-video tersebut disajikan secara utuh.

Kedua, banyak adegan yang diulang-ulang. Semua adegan dalam video klip yang ada ternyata dibeberkan kembali dalam adegan di film. Penonton seolah disuguhi sebuah film bergenre misteri karena masih harus mereka-reka bagaimana sebenarnya alur kisahnya. Apalagi dalam film ini lebih banyak karakter yang ingin ditampilkan, dibanding dengan karakter di film 18 KM.

Ketiga, masih ada kelemahan dalam cerita. Salah satu adalah bagaimana hampir semua adegan dalam film ini justru menjadi abai dalam penerapan protokol kesehatan yang justru menjadi premis yang ingin ditampilkan sejak awal lewat video klip Aku Setia tentang garda terdepan pejuang melawan covid-19, maupun kisah suami Lia yang terpapar virus tersebut. Sementara semua tokoh utama yang ada sama sekali tidak tampak menggunakan masker atau faceshield. Adegan tanpa pelindung diri ini hanya mungkin diwujudkan pada flashback yang menceritakan adegan beberapa tahun sebelumnya.

Mungkin memang kurang elok menampilkan film dengan para tokoh yang memakai masker, karena wajahnya tidak seluruhnya kelihatan dan karakternya pasti tidak dapat tereksplorasi dengan baik, khususnya saat berdialog. Namun logikanya menjadi tidak berjalan karena film ini justru menyuarakan betapa masih berbahaya virus ini di masa pandemi, di tengah drama kehidupan tragis para tokohnya.

Namun upaya Oneng Sugiarta untuk tetap berkarya di masa sulit ini tetap patut diacungi jempol. Apalagi project ini merupakan kolaborasi para pelaku seni dari berbagai bidang di Malang Raya. Akan tetapi mungkin untuk project selanjutnya mungkin perlu dipikirkan konsep yang berbeda agar karya bisa lebih diterima masyarakat luas. (ned)