Tawarkan 3 Solusi Pendidikan Daring Selama Pandemi, Mahasiswa UMM Menangi Kompetisi Opini Nasional

Foto: Sabet juara kompetisi opini. (ist)

BACAMALANG.COM – Menawarkan 3 solusi dalam tulisan opini, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Aldi Bintang Hanafiah dari Prodi Ekonomi Syari’ah UMM berhasil menangi kompetisi event University Opinion Writing Competition.

Dalam opininya, mahasiswa kelahiran Lampung ini memberikan tiga solusi. Pertama, pembangunan akses media yang merata mengingat situasi pandemi masih belum ada jalan terang. Kedua, peran guru harus memiliki kompetensi literasi. khususnya dalam dunia digital. Terakhir, lembaga pendidikan juga dituntut untuk membuat kurikulum yang interaktif dan inovatif serta dapat menumbuhkan perkembangan peserta didik.

“Tiga solusi tersebut saya tawarkan agar pendidikan Indonesia tidak stuck dan berhenti pada kebijakan pendidikan online saja,” ujarnya.

Seperti diketahui, ingin rawat literasi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengharumkan nama kampus di lomba penulisan opini. Perlombaan tingkat nasional ini diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasisiwa (BEM) UMM dalam event University Opinion Writing Competition, yang diselenggarakan secara daring pada Mei 2021 lalu. Aldi Bintang Hanafiah Mahasiswa Prodi Ekonomi Syari’ah UMM ini berhasil meraih juara 2 pada kompetisi tersebut. Adapun juara satu dan tiga masing-masing diraih mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya dan UIN Syarif Hidayatullah.

Pada gelaran ini, Aldi mengikutsertakan opini karangannya yang berjudul “Pendidikan Era Pandemi: Melangkah di Tengah Krisis”. Tulisannya membahas tentang gambaran pendidikan Indonesia dan dunia yang umumnya berdampak pada anak-anak. Dilansir dari UNESCO, terdapat 1,5 miliar anak-anak yang harus mengikuti pendidikan secara daring. Sedangkan di Indonesia ada sekitar 60 juta anak yang terdampak. Ia juga memberikan kritik atas kurangnya pemerataan fasilitas pendidikan di nusantara.

Lebih lanjut, Aldi menuturkan bahwa pendidikan daring menghasilkan lulusan atau pendidikan yang berbeda dengan pendidikan luring sebelum pandemi. Maka perlu adanya evaluasi efektivitas pembelajaran daring yang telah dan sedang dilakukan. Dia juga mengajak masyarakat serta pemerintah bersama-sama memenuhi kebutuhan akses media dan juga jaringan yang dibutuhkan untuk memperoleh pendidikan.

Dia mengaku sempat mengalami hambatan terkait dengan data pendukung, menentukan sudut pandang yang menarik, hingga menyempatkan waktu menulis. Meski mendapat segelintir kendala, namun ia sanggup menyelesaikan opini ini dalam waktu satu minggu. Tentunya dukungan dari kawan-kawan dan para guru membuatnya bersemangat menggarap opini ini.

Terakhir, Aldi berharap setelah menjuarai lomba opini ini, ia bisa lebih meningkatkan skill menulis dan juga analisis. Menurutnya, secara umum opini ini bisa memberikan alternatif bagi lembaga pendidikan Indonesia. “Semoga teman-teman lain bisa termotivasi dan akhirnya memberikan karya serta kontribusi. Saya tentu ingin terus memberikan yang terbaik agar bisa mengharumkan nama baik UMM ke depannya,” pungkasnya. (*/had)