Tegang dan Ricuh, Eksekusi Rumah di Jalan Semanggi Kota Malang

Foto : Eksekusi ricuh di rumah Jalan Semanggi Kota Malang. (ist)

BACAMALANG.COM – Suasana sekitar jalan Semanggi Kota Malang menjadi tegang dan panas karena adanya prosesi eksekusi yang berjalan alot.

Peristiwa kisruh dipicu adanya penolakan eksekusi pengosongan lahan yang dilakukan Pengadilan Negeri Malang di Jalan Semanggi Barat, Nomor 19 A, RT 01, RW 03, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Kericuhan meletus tatkala Juru sita Pengadilan Negeri Malang membacakan surat penetapan eksekusi di lahan tersebut.

Kuasa Hukum Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Malang, Wiwied Tuhu, SH, MH mengatakan, bahwa pihaknya menolak untuk terjadinya eksekusi. Karena secara prinsip terkait perkara perkara ini masih ada proses hukum yang sedang berjalan di Mahkamah Agung (MA).

“Artinya, tidak ada keputusan hukum yang berkekuatan hukum tatap. Eksekusi memang didasarkan atas lelang, akan tetapi lelang itu yang sedang dipermasalahkan secara hukum,” kata Wiwied Tuhu.

Ia menjelaskan, dari perkara yang berjalan diputusan tingkat pertama itu sudah dimenangkan oleh kliennya. Dan dinyatakan perjanjiannya batal. Akan tetapi kemudian diputusan tingkat tinggi itu masih di NO.

“Artinya, secara prinsip ini belum ada yang menang, karena putusan Pengadilan Tinggi masih NO. Jadi, itu alasan pokok. Kenapa kita menolak dengan adanya eksekusi. Karena memang faktanya masih ada perkara yang berjalan di Mahkamah Agung (MA),” ungkap Wiwied Tuhu.

Untuk itu ia mempertegas, kepada penegak hukum, terutama kepada pengadilan untuk membatalkan atau menunda adanya eksekusi.

“Setidaknya sampai ada putusan hukum yang berkekuatan tetap. Kalau ada pemaksaan melakukan eksekusi maka Kami menyampaikan dengan tegas Kami menolak. Kalau sampai ada tindakan yang memaksakan tanpa berdasarkan hukum ya Kami tidak bertanggung jawab atas apapun yang terjadi nanti,” tegas Wiwied Tuhu.

Sementara itu, Ketua LBH Malang Andi Rachmanto, SH menambahkan, agar pengadilan memahami situasi dan kondisinya. Sebab, ini masih ada perkara yang berjalan di Mahkamah Agung.

“Jadi, tolonglah saling menghormati. Kami sebagai warga negara, Kami sebagai penegak hukum saling menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Jadi batalkan eksekusinya dan tunda sampai ada putusan yang inkracht,” pinta Andi.

Wakil Ketua Pemuda Pancasila MPC Kota Batu, Edwin Setyo Adwiranto, SH mengatakan, berkaitan dengan eksekusi hari ini sebenarnya PP Kota Batu dan Malang tidak berurusan dengan hukum dan tidak melawan eksekusi.

“Akan tetapi Kami mendapat undangan resmi pengamanan Istighosah oleh Pak Rusdianto. Kebetulan sekali Kami juga pernah ke Koperasi Delta yang ada di Kota Batu. Kami pun juga berempati ingin memediasi dalam rangka anak bangsa yang terdzolimi,” terangnya.

Lebih lanjut, Edwin jelaskan, karena merasa iba dengan tindakan-tindakan yang tidak adil yang dilakukan oleh rentenir yang berkedok sebagai koperasi yang meresahkan masyarakat. Dan kebetulan juga, di Kota Batu telah ada Satgas Koperasi.

“Jadi, Kami murni dari Ormas Pemuda Pancasila yang turut serta ingin membantu ketidakadilan yang ada di Kota Batu dan Malang,” terangnya.

Dua Diamankan

Polisi terpaksa harus mengamankan dua orang. Karena kedua orang tersebut melakukan perlawanan ke petugas.

Di mana satu orang menyiramkan air ke arah petugas. Sedangkan satu orang lainnya menyiramkan bensin ke teras rumah yang akan dieksekusi, bermaksud untuk membakar rumah tersebut.

“Ada dua orang yang diamankan. Saat ini masih menjalani pemeriksaan di Polsek,” ujar Kabag Ops Polresta Malang Kota, Kompol Sutantyo. (*/had)