Temu Ilmiah Ecoliterasi untuk Edukasi Siswa

Foto: Dirut PJT 1, Raymond Valiant. (ist)

BACAMALANG.COM – Guna memberikan edukasi tentang literasi ekologi, Perum Jasa Tirta (PJT) I, Jaring-jaring Komunikasi Pemantauan Kualitas Air (JKPKA) dan Universitas Negeri Malang (UM) menggelar Temu Ilmiah secara online (daring).

“Saya mengapresiasi kegiatan temu ilmiah yang digelar JKPKA ini, karena air menjadi komponen dasar kehidupan manusia. 70 persen lebih tubuh manusia terdiri dari air. Tentunya juga tidak bisa dilepaskan dari sumber daya ini,” ungkap Direktur Utama (Dirut) PJT I, Raymond Valiant Ruritan, baru-baru ini.

Sekilas informasi, PJT I, JKPKA dan UM menggelar Temu Ilmiah secara online untuk memberikan pembelajaran terkait hubungan antara air, lingkungan, serta manusia agar dapat menumbuhkan wawasan akan pentingnya kelestarian alam, demi keberlangsungan kehidupan di bumi.

Temu ilmiah tersebut, merupakan kegiatan yang ke-23 kali, dan kali ini mengangkat tema Konservasi Partisipatif untuk Meningkatkan Ecoliterasi Siswa, yang diikuti oleh para siswa SMA dan SMP di wilayah kerja PJT I.

Raymond Valiant Ruritan mengatakan, dengan kegiatan temu ilmiah tersebut diharapkan bisa memberikan pendidikan lingkungan dan wawasan akan pentingnya kelestarian alam.

Raymond menuturkan, air, lingkungan dan manusia adalah hal yang menyatu. Seperti kalimat Marilyn Ferguson, seorang visioner yang pada tahun 1995 menulis buku tentang The Aquarian Conspiracy, dimana Masa depan manusia ditentukan, bagaimana caranya mengatasi krisis, dan saat itu yang dibahas adalah krisis lingkungan dan pemanasan global, dan krisis itu menjadi penentu apakah manusia menghadapi berbagai perubahan.

Ia mengatakan, sampai sekarang, masih berhadapan dengan krisis tersebut. Ecoliterasi menjadi salah satu jawaban untuk menentukan masa depan. Ecoliterasi menjadi salah satu jawaban untuk menentukan masa depan.

Sementara itu, Ketua UM Green Campus, Vivi Novianti menyampaikan, Indonesia menyimpan cadangan air dunia sebanyak 6 persen.

“Namun ironisnya, Pulau Jawa sebagai pulau terpadat penduduknya diramalkan akan menghadapi ancaman krisis air di tahun 2040,” terangnya.

Dampak Negatif Alih Fungsi

Dengan begitu, lanjut Vivi, Indonesia dengan iklim tropis memiliki kelebihan dalam hal ketersediaan air. Dikarenakan curah hujan rata-rata 2.500 mm per tahun.

“Banyaknya air tersebut, malah menjadi kendala, karena banyak lahan seperti hutan yang beralih fungsi, sehingga tidak dapat menyerap air dalam tanah dan cenderung menjadi run off atau luapan air seperti banjir,” ulasnya.

Sebab, lanjut Vivi, saat ini ketersediaan air dan pemanfaatan untuk kebutuhan manusia di Indonesia cukup beragam. Di Jawa, per orang memiliki ketersediaan air sebanyak 1.169 M³ per tahun, di Bali sebanyak 4.224 M³ per tahun, di Papua 296,84 M³ per tahun. Sedangkan di Sumatera 15.892 M³ per tahun dan Kalimantan menjadi yang terbanyak yakni 80.167 M³ per tahun atau sekitar 80 kali lipat ketersediaan air bagi perorangan di Jawa.

“Krisis air kini juga banyak terjadi di Pulau Jawa. Bahkan warga harus membeli air bersih dengan harga mahal yang seharusnya bisa diperoleh secara gratis dari alam. Untuk itu manajemen air hujan menjadi sangat penting untuk bisa dipelajari bersama untuk menjaga ketersediaan air di masa yang akan datang,” terang Vivi mengakhiri. (*/had)