Terapkan Javanese Day, SMPN 2 Sumberpucung Lestarikan Budaya Adiluhung Jawa

Foto : Kepala SMPN 2 Sumberpucung menunjukkan perunggu penghargaan. (Had)

BACAMALANG.COM – Banyak cara dilakukan untuk melestarikan budaya adiluhung Jawa, yang sarat makna pendidikan budi pekerti luhur, sopan santun dan nilai-nilai kemanusiaan.

Salah satunya adalah dengan menerapkan Javanese Day seperti yang dijalankan di SMPN 2 Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang.

“Sekolah kami memenangkan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Nasional 2019 meraih medali perunggu mengangkat tema Santun berbahasa Jawa. Sebagai program lanjutan kami menerapkan Javanese Day untuk melestarikan budaya adiluhung Jawa, yang sarat makna pendidikan budi pekerti luhur, sopan santun dan nilai-nilai kemanusiaan,” tutur Kepala SMPN 2 Sumberpucung, Santoso, Senin (10/2/2020).

Dikatakannya, praktik baik hasil OPSi ini akan terus dilanjutkan dengan pembiasaan bahasa Jawa tidak hanya lingkup kecil, namun juga bagi semuanya melalui Javanese Day.

Seperti diketahui, SMPN 2 Sumberpucung Kabupaten Malang berupaya membangun lingkungan sekolah ramah dan santun melalui bahasa Jawa Krama.

Hal ini dijalankan usai sukses menyabet juara 3 Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia Nasional 2019 oleh siswanya beberapa waktu lalu.

Dalam final OPSI Nasional tim SMPN 2 Sumberpucung mengangkat hasil penelitian bertema Santun berbahasa Jawa.

Tim yang berhasil meraih medali perunggu ini terdiri dari Utari Suryaningrat (ketua), Ilmi Roudlotun Nafi’ah dan Ayu Cahyaning Tyas.

Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang santun dengan berbahasa Jawa Krama ini, adalah karena apresiasi khusus dari perwakilan penyelenggara OPSI dari Direktorat Pembinaan SMP Kemendikbud.

Santoso menjelaskan, ke depan pihaknya berharap torehan prestasi ini menjadi pendorong siswa lain untuk mendapatkan prestasi serupa, bahkan lebih baik lagi.

“Kami yakin bisa mengukir prestasi lebih baik ke depan, mengingat ini kali pertama bagi SMPN 2 hingga tingkat nasional. Diharapkan ketiga bidang lomba penelitian akan diikuti semua. Kami siapkan guru pendamping dan siswanya,” urai Santoso.

Sementara itu, Guru Pembina Siswa Ninik Sri Utami mengatakan, final OPSI Nasional sendiri digelar di Hotel El Royal Kelapa Gading Jakarta, selama 26-30 November 2019.

Dalam kompetisi, mereka diberi waktu maksimal 20 menit, terdiri dari presentasi 10 menit dan sisanya tanya jawab.

“Istimewanya pendahuluan presentasi ditampilkan berbeda dari peserta lainnya. Ketiganya memerankan drama berbahasa Jawa Krama, bertema cara belajar Macapat,” terang Ninik.

Diungkapkannya, pihaknya memiliki produk buku Kamus Kecik yang disusun ketiga siswi berprestasi itu.

“Buku Kecik menjadi sarana penggunaan bahasa Jawa Krama, di lingkup kecil ‘Javenese Area’ di kelas mereka. Kamus kecik ini berisi banyak kosakata bahasa Jawa Krama,” pungkas Ninik. (Had).