Tergerak Membangun Sumur Wakaf di Palestina, WNI Jual Rumah Rp 600 Juta

Triyanto. (ist)

BACAMALANG.COM – Tergerak hati untuk membangun sumur Wakaf di Palestina, seorang WNI bernama Triyanto menjual rumahnya seharga Rp 600 Juta.

“Saya senang, karena terinspirasi dari beliau (Sahabat Nabi Utsman Bin Affan). Sampai sekarang ya masih bermanfaat bagi kehidupan manusia, tidak pandang apa agamanya,” kata Triyanto.

Seperti diketahui, dia menghibahkan sebagian hartanya dari hasil penjualan rumah pribadinya untuk membantu warga Palestina, di tengah konflik militer dengan Israel.

Bukan untuk dibelanjakan senjata perang, melainkan melengkapi kebutuhan sumber kehidupan yakni sumur. Menurut informasi yang diperoleh, kebutuhan air bersih di Palestina sangat mendesak.

Meneladani Sahabat Nabi SAW

Utsman bin Affan adalah khalifah ketiga yang berkuasa pada tahun 644 sampai 656 dan merupakan Khulafaur Rasyidin dengan masa kekuasaan terlama.

Menurut Triyanto, Sahabat Utsman bin Affan pada zamannya membeli dan membangun sumur untuk diwakafkan kepada kepentingan masyarakat umum, tidak hanya muslim tapi juga orang Yahudi kala itu.

Menurut cerita, Sahabat Utsman membeli sumur dari seorang Yahudi. Kemudian, setalah terbeli, sumur tersebut langsung diwakafkan hingga juga dipakai oleh semua masyarakat, termasuk kaum Yahudi.

Bapak dua anak ini mengaku, sumur merupakan sumber kehidupan kehidupan masyarakat. Setiap saat manusia membutuhkannya.

Tiga Alasan

Ada beberapa alasan ia membulatkan tekad wakaf air di Palestina. Pertama, air itu sejuk, damai dan bersifat membersihkan. Kedua, air memiliki sifat sebagai sumber kehidupan dan energi. Ketiga, sebagai simbol perdamaian karena semua orang yang berkonflik, tetap akan membutuhkan air.

“Menurut saya (sumur) ini sangat fleksibel kegunaannya. Yang saya pegang adalah spirit perdamaian. Air sangat berharga disana. Siapapun bisa memakainya. Bisa untuk membersihkan diri, minum, menyiram tanaman, dan banyak manfaatnya,” terangnya.

Hal demikianlah yang menjadi motivasinya mengapa memilih untuk membangun sumur, daripada dibuat untuk belanja senjata.

“Kalau senjata, ujungnya untuk peperangan. Nah, disini saya tidak paham soal politik. Saya orang fakir. Apa itu zionis, apa itu Hamas. Saya tidak paham. Yang saya inginkan hanya perdamaian dan kemanusiaan,” sambungnya.

Dekat Kematian

Triyanto adalah eks penyintas Covid-19. Dirinya pernah divonis positif Covid-19 pada akhir Januari 2021 lalu.

Tidak ada bayangan lain dalam benaknya kecuali dekat dengan ajal. Ia berikhtiar mengikuti anjuran dokter, yakni melakukan isolasi mandiri di rumahnya.

Dengan seorang diri, dia mengurung di rumahnya. Istri sedang tugas kerja di Kalimantan, sedangkan kedua anaknya ada di Yogyakarta.

“Kemudian saya diberi kesembuhan oleh Allah. Ini peringatan sekaligus Allah memberi kesempatan kedua untuk hidup. Ini titik balik. Saya niat sebanyak-banyaknya mencari bekal akhirat,” ujar pria 47 tahun itu.

Berita membuatnya tergerak

Kemudian, Triyanto cemas karena melihat banyak pemberitaan tentang konflik Palestina dan Israel. Menjelang perayaan Hari Kemenangan Hari Raya Idul Fitri, ia tidak tega menonton adegan baku tembak dari serdadu Israel yang membabi buta kepada warga Palestina di Masjid Al Aqso.

Salah satu asetnya yang berada di Banyuwangi, yakni rumah di Puri Brawijaya Blok XE 4-8 ia tawarkan untuk dihibahkan kepada warga Palestina. “Ada sekitar 35 orang yang menawar kepada saya,” imbuh Triyanto.

Setelah mencari harga tertinggi, yakni berhenti di angka Rp 600 juta, rumah tersebut dilepas kepada warga asli Banyuwangi yang kini tinggal di Probolinggo atas nama Ira.

Ira sebagai pihak pembeli telah membayar uang muka sebesar Rp 5 juta. Uang muka itu dianggap tanda jadi olehnya. Sehingga langkah selanjutnya adalah pelunasan sambil lalu mengurus administrasi dan membawanya kepada notaris.

“Rencananya Sabtu besok kami bersama-sama ke notaris. Sudah dapat notaris dan sepakat pelunasan Juni nanti. Saya juga menunggu kedatangan istri yang kini sedang tugas di Kalimantan,” terangnya.

Sinergi lembaga donasi

Organisasi kemanusiaan bersifat kerelawanan Aksi Cepat Tanggap atau ACT dipilih oleh Triyanto sebagai mitra menyambung donasi.

Menurut keterangan proposal yang disampaikan ACT kepadanya, dibutuhkan anggaran sekitar Rp 275-300 juta untuk bisa membeli dan membangun sumur wakaf di Palestina.

Penyerahan donasi kepada ACT direncanakan pada pertengahan Juni. Begitu pelunasan, kami serahkan langsung,” tegasnya.

Setelah berkoordinasi dengan pihak ACT, proposal tersebut disetujui oleh Triyanto. Secara teknis, dirinya sepakat untuk menyerahkan sepenuhnya kepada pihak ACT sebagai pelaksana di lapangan.

Nantinya, di sekitar sumur wakaf yang dibangun tersebut akan dibuatkan prasasti atas nama keluarga besar dari keluarga Triyanto beserta istri. “Prasasti dituliskan nama donatur. Ya nanti mungkin keluarga besar kami,” tandasnya.

Sebagai donatur, Triyanto bersama keluarga besarnya hanya memiliki satu harapan: warga Palestina hidup damai dan tenang. Sumur wakaf darinya diharapkan memberi manfaat bagi seluruh masyarakat Palestina. (*/had)