Terkait Pandemi dan Kemiskinan Desa, Begini Harapan Mensos pada Puskesos-SLRT

Foto: Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini. (ist)

BACAMALANG.COM – Adanya sikon Pandemi Covid-19 memicu munculnya kemiskinan di desa. Pemerintah lewat Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) – Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT) hadir dalam upaya membantu masyarakat desa eksis di tengah pandemi dan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

“Kehadiran Puskesos diharapkan mendekatkan layanan SLRT dengan masyarakat pedesaan, sehingga warga tidak harus menempuh jarak jauh ke lokasi SLRT, sekaligus menjadi salah satu perwujudan Negara Hadir di tingkat desa,” kata Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini.

Tri Rismaharini, mengharapkan Puskesos dapat membantu memberikan gambaran dan analisa kemiskinan yang lebih lengkap.

ANALISIS PENANGANAN KEMISKINAN

Dalam keterangan resmi pada Sabtu (14/8/2021), Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini mengimbau Puskesos-SLRT juga memberikan analisis yang lebih tajam, supaya strategi penanganan kemiskinan berjalan pada jalur yang lebih tepat.

Mensos Rismapun mendorong peran Puskesos menjadi bagian dari layanan rujukan satu pintu di tingkat desa yang merupakan miniatur SLRT di tingkat Kabupaten/Kota.

Mensos Risma menuturkan, pada masa pandemi, Puskesos – SLRT berhasil menunjukkan peran sebagai bagian dari garda terdepan penanganan dampak COVID-19, mulai dari mensosialisasikan protokol kesehatan, mensosialisasikan berbagai bantuan sosial (bansos), membantu memvalidasi data penerima bansos, hingga menjadi posko aduan penanganan bansos.

Melalui mekanisme yang dibangun Puskesos – SLRT memungkinkan seluruh pemangku kepentingan saling terkoneksi dalam program perlindungan sosial yang mendorong terbangunnya keterpaduan baik terkait dengan data, informasi maupun layanannya.

“Ke depan penanganan berbagai permasalahan masalah sosial tidak bisa ditangani oleh satu Kementerian/Lembaga (K/L) saja, melainkan harus berkolaborasi, gotong-royong serta menjalin sinergitas, sehingga masalah bisa diatasi dan diakselerasi dengan komprehensif dan terpadu,” kata Mensos Risma.

Menurutnya, Kementerian Sosial (Kemensos) menerapkan paradigma baru dalam pengelolaan data kemiskinan.

Bila selama ini bantuan sosial didasarkan pada ukuran-ukuran statistik, Mensos Risma menginstruksikan jajarannya untuk melihat kemiskinan secara lebih dalam dengan merekam profil penduduk miskin dari berbagai pendekatan.

Menurut Mensos Risma, pemerintah perlu membedah lebih dalam, mengapa seseorang mengalami kemiskinan.

“Ada budaya yang hidup di tengah masyarakat kita dimana seseorang hanya bekerja 3 jam dalam sehari, mulai jam 07.00 sampai jam 10.00. Padahal secara normal, biasanya kita bekerja 8 jam sehari. Ya tentu saja dengan 2-3 jam bekerja, produktifitasnya tidak bisa diharapkan lebih tinggi,” kata Mensos Risma.

Dia menambahkan, kemiskinan bisa juga disebabkan oleh keterbatasan dalam penguasaan terhadap alat produksi. Misalnya, data kemiskinan menunjukkan seseorang merupakan petani, namun setelah didalami tidak memiliki sawah.

“Pada nelayan, setelah ditelaah ternyata tidak memiliki perahu, atau memiliki perahu tapi sangat kecil sehingga tidak memungkinkan mendapatkan hasil tangkapan lebih banyak,” ujarnya.(*/had)