Tetap Mengabdi Meski Covid-19 Marak, Jurnalis, Tenaga Medis dan Relawan Patut Mendapat Apresiasi dan Reward

Foto : Hasan Abadi (ist)

Oleh : Hasan Abadi

Saat pandemi Virus Covid–19 melonjak eskalasinya, tiga profesi yakni jurnalis, relawan dan tenaga medis tetap bekerja dengan konsisten dan pengabdian tinggi.

Keberadaan mereka layak diapresiasi dan diberi penghargaan atas kinerja dan pengabdian dari jurnalis, tenaga medis dan relawan, di tengah maraknya Virus Covid–19.

Saat ini berdasar data gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 setelah ditambah 247 kasus baru maka tercatat ada 221 orang yang meninggal lantaran virus corona di Indonesia. Sebanyak 204 sembuh dan 2.313 dalam perawatan.

Sedangkan dari data jumlah kasus Virus Covid -19 di Jawa Timur diperoleh dari situs resmi satgas penanganan COVID-19 Provinsi Jatim hingga Selasa, 7 April 2020 pukul 16.09 WIB tercatat ada pasien positif COIV-19 : 194 kasus, sembuh (42), dirawat (136), dan meninggal (16).

Adapun untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) : 1083 kasus, Dalam Pengawasan (732), Selesai Pengawasan (296), dan Meninggal (55).

Orang Dalam Pemantauan (ODP) : 11.564 kasus, belum Dipantau (0), Dipantau (8001), Selesai Dipantau (3554), dan Meninggal (9).

Sedangkan untuk data di Kabupaten Malang : 1073 (ODR), 6 (OTG), 173 (ODP), 59 (PDP), dan 10 (Positif).

Sementara itu, hingga kini jumlah dokter yang meninggal terkait COVID-19 jumlahnya puluhan.

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mencatat, sebanyak 24 dokter meninggal dunia terkait Corona COVID-19. Data tersebut dihimpun hingga per 5 April 2020.

Dengan perincian ada 18 dokter dan 6 dokter gigi yang meninggal terkait COVID-19. Totalnya jadi 24 dokter yang meninggal.

*Apresiasi Untuk Jurnalis

Di tengah situasi krisis seperti ini, peran media sangat dibutuhkan untuk memberikan informasi yang akurat dan mendidik ke publik, selain juga untuk mengawal penanggulangan krisis dengan baik.

Di tengah pandemi ini, profesi jurnalis atau wartawan sama vitalnya. Meskipun ada kekhawatiran akan terjangkit Corona, para jurnalis tetap harus bergelut dengan tugas memberikan informasi ke masyarakat. 

Berita yang tepat, akurat, dan terpercaya harus terus dilahirkan untuk melawan hoaks yang menyesatkan.

Meskipun organisasi profesi kewartawanan mengeluarkan imbauan agar jurnalis mengurangi kegiatan fisik di luar, serta melengkapi dengan APD.

Namun pada kenyataannya beberapa informasi harus tetap dicari di lapangan. Bahkan, dengan langkanya APD di pasaran, kalangan jurnalis menjadi kelompok yang berisiko terpapar Corona.

Dalam melakukan peliputan harus tetap mengedepankan protokol kesehatan dengan menjaga jarak dengan narasumber.

Kendati demikian, jurnalis selayaknya tidak meninggalkan tugasnya yakni menyampaikan informasi kepada publik. Informasi yang akurat dari jurnalis dibutuhkan masyarakat di tengah wabah Covid-19 yang semakin meningkat.

Sadar atau tidak, sebelum atau sesudah wabah ini heboh di masyarakat, jurnalislah yang sering melakukan kontak langsung ke narasumber, yang rata-rata rentan terpapar corona.

Jurnalis Rentan Terpapar

Baru-baru ini, berita duka datang dari seorang jurnalis otomotif senior, Willy Dreeskandar karena menderita sakit dan tak terurus selama lima jam di sebuah rumah sakit di Tangerang,.

Pria yang dikenal dengan inisial F-16 ini akhirnya meninggal dunia kemarin subuh, Kamis (26/3/2020). Sebelumnya, Willy menyampaikan keluh kesahnya melalui Twitter pribadinya kepada Presiden RI, Joko Widodo.

Dia mencurahkan isi hatinya dan meminta tolong kepada Presiden Joko Widodo serta Menteri Kesehatan, untuk diberikan jalan agar bisa dirawat di rumah sakit rujukan.

Sementara itu di Bogor, sedikitnya 22 jurnalis harus menjalani isolasi selama 14 hari, setelah sebelumnya mereka menghadiri acara konferensi pers bersama Wali Kota Bogor, Bima Arya.

Bima Arya, beberapa hari kemudian dinyatakan positif terinfeksi virus Corona, sedangkan para jurnalis ketika menghadiri konferensi pers bertatap muka langsung tidak mengenakan alat pelindung, seperti masker.

Jurnalis dalam situasi seperti ini menjadi salah satu profesi yang rentan di tengah mewabahnya virus Corona atau COVID-19, disamping para dokter atau petugas medis yang kini berjuang di garda terdepan.

Petugas medis itu selalu bersentuhan langsung dengan pasien. Potensi penularan itu sangat besar terhadap mereka. Apalagi, secara kontak fisik mereka yang langsung bersentuhan dengan pasien.

Banyak kasus petugas medis yang dinyatakan positif COVID-19. Di Jakarta saja, petugas medis yang dilaporkan positif terpapar virus Corona mencapai 61 orang, bahkan ada yang meninggal dunia. Begitu juga di Medan, Sumatera Utara.

Kerja berat dan beresiko jurnalis, terkadang tidak diimbangi dengan jaminan sosialnya. Meski dokter juga mungkin juga mengalami hal yang serupa.

Pastinya, dalam konteks saat ini, kedua profesi itu sangat rentan menjadi korban pertama tertular virus Corona. Tapi tentu apa yang diharapkan dari pemerintah adalah adanya jaminan sosial atau stimulus untuk kedua profesi ini layak dan memadai. (*)

*Penulis adalah Rektor Universitas Raden Rahmat (UNIRA) Malang