Tingkat Inflasi di Indonesia Saat Masa Pandemi

ilustrasi. (ist)

Oleh : Syanaa Putri Herla Dita Ayuningtyas

Dunia saat ini tengah menghadapi pandemi covid-19 yang berdampak luas terhadap krisis kesehatan maupun ekonomi secara global. Di Indonesia, krisis ekonomi dapat dilihat dari adanya laju inflasi yang tinggi. Sebagai negara berkembang, Indonesia sering mengalami banyak kesulitan dalam menjaga stabilitas kegiatan ekonomi. Di tahun 2020 menjadi momen dimana berbagai pukulan berat menghantam sendi-sendi perekonomian dunia, hal ini tercermin dari salah satu indikator yang memengaruhi PDB tanah air. Pandemi covid-19 membuat target inflasi yang diperkirakan oleh pemerintah jauh meleset. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi bulanan pada Desember 2020 sebesar 0,68% dan inflasi tahunan sebesar 1.68%, ini menjadi inflasi terendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, inflasi yang rendah ini tidak berdampak terhadap naiknya daya beli masyarakat. Seperti yang diketahui bahwa tingkat inflasi tidak boleh terlalu tinggi dan tidak boleh terlalu rendah, karena pemerintah menargetkan sebelumnya kurang lebih 3%. Namun, pada kenyataanya hanya menunjukkan angka 1,68%. Inflasi yang terlalu rendah dapat menekan daya beli, sedangkan inflasi yang terlalu tinggi dapat menekan pertumbuhan ekonomi. Pada kenyatanya inflasi tahunan 1,68% tidak berpengaruh terhadap daya beli masyarakat, yang mana daya beli masyarakat tetap rendah karena terjadinya pandemi covid-19.

Dapat dilihat pada catatan inflasi sepanjang tahun 2020, yang mana pada 3 bulan pertama, yaitu bulan Januari, Februari, dan Maret masih pada kisaran target inflasi. Namun, semenjak pandemi covid-19 inflasi di Indonesia beranjak turun, bahkan dalam tahun 2020 Indonesia mengalami deflasi atau penurunan indeks harga yaitu terjadi di bulan Juli, Agustus, dan September. Indonesia resmi mengalami pelemahan ekonomi pada dua kuartal berturut-turut, yaitu pada kuartal dua dan tiga yang kemudian menjadikan Indonesia masuk ke dalam lembah resesi.
Berdasarkan catatan dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang mana target inflasi Indonesia terkontrol pada tahun 2018, namun jatuh pada tahun 2020 di angka 1,68%. Tetapi dengan hal ini bisa menjadi peluang. Karena dengan inflasi yang rendah, meskipun tidak didorong dengan daya beli masyarakat yang juga naik, pemerintah menetapkan tren suku bunga rendah. Tren suku bunga rendah ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berinvestasi ataupun perbankan untuk menyalurkan kredit, yang kemudian hal ini bisa memulihkan keadaan ekonomi. Inflasi inti pada tahun 2020 sebesar 1,6% dan sektor-sektor makanan serta minuman menyumbang andil terbesar  dalam inflasi yaitu 0,38% kemudian disusul dengan sektor transportasi, yaitu transportasi udara. Meskipun ada pengetatan pemerintah melarang atau menghimbau agar tidak melakukan perjalanan, tetapi adanya transportasi perjalanan di libur natal dan tahun baru ternyata juga menyumbang inflasi yang cukup yaitu sebesar 0,06%. Kemudian dilanjutkan dengan sektor  penyediaan  makanan restoran sebesar 0,02%. Walaupun sempat terjadi lockdown dan pembatasan sosial berskala besar, sektor-sektor itulah yang bisa mendorong inflasi 1,68%. Biarpun ini tidak terlalu tinggi dari perkiraan serta target pemerintah, tetapi lebih baik dibandingkan inflasi pada bulan November 2020.

Selain itu, Badan Pusat Statistik selalu menghitung inflasi di 90 kota yang ada di Indonesia dan inflasi terjadi di 87 kota. Inflasi tertinggi terdapat di kota Gunungsitoli yaitu 1,87% dan yang terendah terdapat di Tanjung Selor sebesar 0,05%. Sementara ada tiga kota yang mengalami deflasi atau indeks harga konsumen yang berkurang. Deflasi tertinggi terdapat di kota Luwuk yaitu sebesar 0,26% dan Ambon sebesar 0,07%. Selain stimulus untuk dunia usaha tentunya ada beberapa hal yang bisa diharapkan untuk mengangkat atau menaikkan inflasi Indonesia agar bisa terkontrol yaitu dengan cara pengadaan bantuan sosial. Presiden Jokowi mengatakan bahwa pemerintah menggelontorkan bantuan sosial pada bulan Januari 2021. Bantuan sosial ini berupa bantuan sosial program harapan, sembako, dan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Itulah beberapa hal yang diharapkan dapat menaikkan serta mengontrol inflasi di Januari 2021 dan juga membangkitkan perekonomian di tahun 2021.

*) Penulis : Syanaa Putri Herla Dita Ayuningtyas, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang
Jurusan Akuntansi

*)Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksiĀ BacaMalang.com