Toko Buku, Sebuah Tempat Mencari Ruang Nilai

Sejarawan JJ Rizal (tiga dari kiri), di Rayz Hotel UMM, Senin (20/6/2022). (ned)

BACAMALANG.COM – Kehadiran New Book Store (NBS) UMM disikapi sejumlah penulis dan pegiat literasi dalam sebuah diskusi kecil yang digelar di Rayz Hotel UMM, beberapa saat sebelum peresmian, Senin (20/6/2022).

Sejarawan JJ Rizal menilai saat ini adalah sebuah krisis nilai dan untuk keluar dari harus mencari ruang nilai yang ada dua tempat di perpustakaan dan toko buku. “Semakin banyak eksistensi keduanya, semakin cepat pula keluar dari krisis nilai itu,” ujarnya.

Rizal menyebutkan, bahwa perpustakaan dan toko buku dapat menjadi referensi, untuk mencari nilai-nilai tersebut. Orang perlu pulang ke rumah sejarah untuk mencari sumber keteladanan, panutan dan sumber nilai itu, lewat buku-buku.

“Selanjutnya, Muhammadiyah besar oleh dua institusi yang selama ini sering dilupakan, yakni semangat Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), sebagai wujud keberadaan instansi kesehatan yang dimiliki Muhammadiyah, serta perpustakaan dengan buku atau literaturnya, sehingga toko buku ini juga sebagai langkah awal untuk pulang menuju rumah sejarahnya dan menemukan akarnya,” bebernya.

Pendiri penerbitan Komunitas Bambu ini juga mengingatkan bahwa Malang adalah tuan rumah Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional Pertama yang digelar pada tahun 1958, yang salah satunya menandaskan perlunya menyebarkan ilmu pengetahuan dengan memperbanyak penerbitan.

“Sekarang ada kecenderungan buku dinikmati dengan sifat klasiknya yakni dalam bentuk cetakan, seperti yang sudah terjadi negara-negara Amerika dan Eropa, dimana toko-toko buku tumbuh besar. Digital tidak lagi menjadi sesuatu yang dominan, karena budaya digital masih dalam sebatas digitalisasi atau penyelamatan naskah,” tukas penulis yang dalam kesempatan ini khusus hadir dari Jakarta.

Menurut dia, transformasi digital juga belum cukup kuat, masih tersendat-sendat, misalnya dengan bandwith yang relatif masih kecil dan jaringan internet yang masih terbatas.

Rizal sangat mendukung hadirnya NBS ini, karena semakin banyak toko buku, semakin cepat untuk pulih dari krisis.

Penulis yang aktif sejak tahun 1970-an Dwianto Setiawan dalam diskusi kecil yang digelar di Rayz Hotel UMM, beberapa saat sebelum peresmian NBS UMM, Senin (20/6/2022). (ned)

“Jadi bukan minat baca yang rendah, tapi akses terhadap buku yang masih kurang dengan kurangnya perpustakaan dan toko buku,” tegasnya.

Dalam diskusi yang dimoderatori Herman Aga ini, pemantik diskusi Rachmad Kristiono DS menilai tradisi membaca buku semakin menghilang, bahkan di kalangan kampus.

“Saat ini mindsetnya ke arah model tiktok, pesan dengan durasi singkat dan berbasis kesenangan,” ungkapnya.

Oleh karena itu dosen Sosiologi UMM ini menganggap giat literasi sat ini tak ubahnya seperti orang ‘tirakat’.

“Jadinya kayak orang yang sedang ‘nglakoni’ sesuatu, tinggal kuat atau tidak saja,” tukas penulis buku Sosiologi Lingkungan ini.

Rachmad berharap dengan hadirnya NBS, Malang menjadi spektrum di dunia perbukuan, serta menjadi oase maupun titik temu di dunia literasi.

Sementara penulis buku yang sudah aktif sejak tahun 1970-an, Dwianto Setiawan, menganggap ‘reading habbit’ harus ditumbuhkan sejak anak-anak.

“jika sejak kecil anak punya minat baca, kelak mereka akan punya banyak perbendaharaan kata, tapi tentunya harus ada bimbingan dari orang tua,” ujar kakak dari penulis Sindhunata ini.

Pegiat literasi Agung H Buana berharap NBS sebagai toko buku bisa memunculkan ide-ide baru di bidang literasi.

“Namun juga harus dicermati agar berkembang ke arah ekonomi kreatif,” tegasnya.

NBS ini merupakan rebranding dari toko buku bookstore yang telah berdiri sejak 2005 lalu, yang kini tidak hanya menyediakan buku-buku dari penerbit mayor, tapi juga menawarkan buku-buku indie yang jarang ditemukan di toko lain. Tersedia pula coffeshop, serta podcast corner yang bisa digunakan siapapun. (ned)