Tranformasi Tren Baru Teknologi Berbasis Digital Dengan Pola Perilaku Konsumen Terhadap Perubahan Model Bisnis Di Indonesia

ilustrasi (sumber : logique.co.id)

Pada tahun 2000 merupakan puncak kemajuan teknologi yang sangat pesat perkambangannya, teknologi informasi dan telelkomunikasi menjadi trend kehidupan setiap individu, tiap saat, tiap waktu dan tiap detik manusia memanfaatkan teknologi ini. Kegiatan mulai dipermudah dengan bebagai kemudahan yang ditawarkan, mulai dari komunikasi, informasi, transaksi, edukasi, hiburan sampai pada kebutuhan paling pribadi sekalipun dapat terlayani dengan teknologi ini. Pemanfaatkan teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK) semaksimal mungkin menjadi tujuan utama untuk mendapatkan pengetahuan baru, dan menciptakan nilai-nilai baru dengan membuat hubungan antara “manusia dan mesin” dan antara dunia “nyata dan dunia maya”, sebagai cara yang efektif dan efisien untuk menyelesaikan masalah di masyarakat. Untuk dapat mewujudkan hal seperti itu melalui digitalisasi, penting untuk mengatasi tantangan-tantangan ini melalui pelibatan berbagai orang yang berkepentingan di berbagai tingkatan untuk berbagi visi bersama di masa depan.

Westernman et al. (2011) mendefinisikan transformasi digital sebagai penggunaan teknologi dengan tujuan untuk secara umum meningkatkan kinerja atau jangkauan dari sebuah perusahaan. Defenisi lain juga diberikan oleh Lankshear dan Knobel (2008) dimana transformasi digital adalah tingkat ketiga dan tertinggi dari keterampilan digital yang dicapai ketika penggunaan digital yang dilakukan juga menfasilitasi inovasi dan kreatifitas serta mendorong perubahan signifikan dalam bidang profesional ataupun pengetahuan. Pengertian lain yang cukup umum dari digital transformasi adalah perubahan yang disebabkan atau dipengaruhi oleh pemakaian teknologi digital dalam setiap aspek kehidupan manusia. (Kaplan et al. 2010) Model bisnis menentukan bagaimana sebuah perusahaan menciptakan serta mendistribusikan nilai nya kepada konsumennya dan kemudian melanjutkannya ke tahap pembayaran yang akan menghasilkan keuntungan. (Tecce, 2010). Digital transformation atau transformasi digital adalah sebuah perubahan cara penanganan sebuah perkerjaan dengan mengunakan teknologi informasi untuk mendapatkan efisiensi dan efektifitas. Bebarapa bidang yang telah melakukan transformasi ini seperti pendidikan dengan e-learningnya, bisnis dengan e-bisnis, perbankan dengan e-banking, pemerintah dengan e-government dan masih banyak lagi yang lain, intinya adalah peningkatan efisiensi dan efektivitas pekerjaan dan berkas pendukungnya dengan menggunakan database. Paperless adalah tujuan utamanya, semua bukti transaksi yang berupa dokumen telah tergantikan dengan database sehingga lebih simple, fleksible dan dapat diakses setiap saat. Dalam bisnis dengan transformasi digital, memberikan kemudahan para pelanggan untuk memesan produk atau melakukan pemesanan tentang berbagai hal lainnya dengan mudah dan murah. Tidak lagi semua harus bertransaksi langsung namun secara online transaksi ini dapat dilakukan dengan berbagai media teknologi informasi, mulai dari pemesanan, pembayaran, konfirmasi sampai pada proses pengecekan pengiriman barang semua dilakukan secara digital. Efek berlanjut ke harga produk yang akan semakin murah, hal ini karena proses pemasran dan administrasinya tidak membutuhkan biaya yang besar. Akhirnya mereka yang berbisnis secara tradisional akan menuai kerugian karena beralihnya pelanggan ke transaksi digital yang mudah, murah, cepat dan efisien. Seperti transformasi digital saat ini sangat berpengaruh di dunia e-Commerce. perusahaan e-Commerce pasti berhubungan dengan dunia digital, kita bisa ambil contoh dengan banyaknya e-Commerce di Indonesia seperti Tokopedia atau Bukalapak yang berkembang dan jarang ada e-Commerce yang gulung tikar karena besarnya minat belanja di Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh Kotler dan Keller (2008) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai berikut: “Perilaku konsumen adalah studi bagaimana individu, kelompok dan organisasi memilih, membeli, menggunakan dan menempatkan barang, jasa, ide atau pengalaman untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka.” Dharmmesta dan Handoko (2000) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai berikut: “Perilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tertentu.”

Dari sumber data penelitian yang menggunakan data sekunder yang berasal dari kuesioner dengan menggunakan skala likert yang disebarkan ke kurang lebih 100 responden yang merupakan karyawan dari salah satu perusahaan di Indonesia. Dalam penelitian ini menggunakan pendekeatan Partial Least Square (PLS). PLS merupakan pendekatan yang berubah dari pendekatan SEM dengan basis kovarian menjadi berbasis varian (Ghozali, 2006). PLS lebih bersifat predictive model jika dibandingkan dengan SEM berbasis kovarian yang cenderung menguji kausalitas atau teori. Analisa PLS yang dilakukan dimulai dengan Outer Model yang mengukur uji validitas dengan loading factor. Didapatkan nilai Transformasi Digital sebesar 0,715; Pola Perilaku Konsumen sebesar 0,873; dan Perubahan Bisnis Model sebesar 0,791 maka dapat disimpulkan bahwa model tersebut telah memenuhi discriminant validity. Kemudian dilihat dari hasil uji construch’s reabillity seluruh konstruk > 0,6.  Dengan demikian seluruh konstruk telah memenuhi construct reliability. berikut adalah hasil uji signifikansi hipotesis terhadap perubahan bisnis model perusahaan : a) H1 : Terdapat pengaruh signifikan Transformasi Digital terhadap Perubahan Bisnis Model.Transformasi Digital mempengaruhi Perubahan Bisnis Model dengan t statistik 4,420 dimana > t tabel 1,98. b) H2 : Terdapat pengaruh signifikan Pola Perilaku Konsumen terhadap Perubahan Bisnis Model.Pola Perilaku Konsumen mempengaruhi Perubahan Bisnis Model dengan t statistik 7,765 dimana > t tabel 1,98. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa Transformasi digital berpengaruh signifikan terhadap perubahan bisnis model di dalam suatu perusahaan. Ketika perusahaan sedang mengalami proses transformasi digital dalam berbagai bidang operasi bisnisnya, perusahaan perlu untuk mengevaluasi kembali bisnis modelnya. Hal ini disebabkan transformasi digital kerap kali membawa perubahan yang disruptif dalam cara sebuah bisnis berjalan dan memerlukan beberapa penyesuaian agar perusahaan dapat terus mempertahankan dan meningkatkan keunggulan kompetitifnya terhadap para pesaing yang lain. Perubahan bisnis model yang dimaksud sebaiknya dapat memaksimalkan manfaat dari berbagai teknologi yang telah di adopsi dalam kegiatan transformasi digital tersebut seperti adanya social media yang dapat menjadi media untuk berkomunikasi dengan lebih dekat dan interaktif dengan para konsumennya. Di sisi lain, perubahan pola perilaku konsumen juga dapat menjadi salah satu alasan utama yang membuat sebuah perusahaan perlu menyesuaikan bisnis model yang ada. Pada jaman modern ini, cara beraktivitas dari para konsumen telah mengalami banyak perubahan dari generasi sebelumnya, hal ini menyebabkan perusahaan harus dengan peka dan memberikan respon yang sesuai terhadap perubahan tersebut. Respon tersebut dapat berupa menghadirkan promosi atau iklan pada komunitas baru yang tempat para calon konsumen beraktivitas yang tidak jarang merupakan komunitas digital. Selain itu perubahan hal-hal yang mempengaruhi keputusan seorang calon konsumen sebelum membeli juga perlu menjadi perhatian, seperti perusahaan perlu sangat memperhatikan citranya di media sosial ataupun platform marketplace yang ada.

Penulis: Dwi Silviyah Hanum, Fika Fitriasari.