Trend Bisnis Rage Room Kala Pandemi, Akademisi Ini Uraikan Analisis dan Sejarah yang Menarik

Direktur Program Pascasarjana IBU (IKIP Budi Utomo) Malang, Dr Sakban Rosidi. (ist)

BACAMALANG.COM – Pandemi tak hanya melahirkan ragam kisah yang memilukan dan menyayat hati. Namun pandemi jika dilihat dari perspektif positif, ternyata bisa juga menjadi hal positif semisal ladang/peluang bisnis baru yang menjanjikan.

Bisnis baru yang sedang ngetrend di era new normal ini adalah persewaan Rage Room/ anger room/ break room, yakni ruang untuk pelampiasan stress dan amarah berbayar.

Fenomena ini sudah mendunia dan menyita banyak perhatian publik. Fakta uniknya, Rage room bisa dijumpai di Nottingham, The Break Room di Melbourne, The Wrecking Club di New York, Rage Ground di Los Angeles AS, Jepang, China, dan Brazil. Menariknya Rage room, kini sudah merambah ibukota DKI Jakarta Indonesia.

JAKARTA

Anger Room ada di kawasan Jakarta Utara, namanya Breakroom. Lokasinya ada di Jalan Muara Karang Barat. Breakroom ini cukup unik karena bukan hanya menawarkan Anger Room di lantai 2, mereka juga punya restoran di lantai 1 gedungnya. Setelah lega mecahin barang-barang kastamer bisa langsung isi perut.

Dulu tarif mahal. Mereka, kini menerapkan new normal rate dengan harga Rp 50 ribu aja per player. Kabarnya juga, mereka menawarkan barang-barang bekas lain untuk bisa dihancurkan. Seperti printer, monitor, kulkas, dan banyak lagi lainnya.

BRAZIL, CHINA dan JEPANG

Di Brazil rage room ada di Cidade Tiradentes, pinggiran Sao Paulo. Banyak pelanggan yang ingin melampiaskan emosinya terutama selama pandemi Virus Corona (Februari 2021).

Rage Room juga ada di China. Yakni berbayar’ seharga US$ 23 atau setara dengan Rp 323 ribu. Duit itu dibayarkan untuk waktu selama 30 menit menyewa ‘ruang kemarahan’ di Beijing, China.

Menariknya, Jepang ternyata merupakan negara yang pertama kali memperkenalkan konsep rage room sejak tahun 2008 silam.

MISKIN IMAJINASI

Keberadaan rage room sebagai sebuah fenomena sosial dan psikologi, menarik perhatian Direktur Program Pascasarjana IBU (IKIP Budi Utomo) Malang, Dr Sakban Rosidi.

Pada intinya ia mengatakan pemicu adanya rage room bukanlah pandemi. Hal ini karena keberadaan rage room sudah ada sejak tahun 2008 jauh sebelum Covid 19 menyerang dunia.

“Aplikasi paling kasar Freudian Catarsis. Kalau beradab dan imajinatif, cukup dengan vicarious experiences (pengalaman wakilan). Misalnya nonton film, atau paling banter nge-game fighting. Imajinasikan diri sebagai tokoh fighternya. Tapi ya begitulah, break room for anger itu memang cocok bagi orang miskin imajinasi, semuanya harus tampak real bahkan vulgar. Ini seperti mereka yang biasa nonton film porno triple X, dengan seks eksplisit,” terang Direktur Program Pascasarjana IBU (IKIP Budi Utomo) Malang, Dr Sakban Rosidi, Selasa (2/11/2021).

“Mereka ini sudah tidak berkembang imajinasinya saat, misalnya membaca novel-novel percintaan yang implisit. Tetapi di lain sisi, itu juga menunjukkan keperkasaan gagasan Freud, yang saya juga menyebutnya sebagai diskontinuitas ketiga, setelah revolusi Copernicus dan Evolusionisme Darwin,” papar akademisi yang juga pegiat seni ini.

“Psikoanalisis dan determinisme biologis (seksual) Freud adalah diskontinuitas ketiga yang kawin dengan diskontinuitas keempat, yakni: perpasangan manusia dengan mesin (artificial intelligence). Era pasca-modern dipenuhi wewujudan hasrat, kalau nggak tanathos, ya eros (kalau tidak agresi ya seks).
Kekerasan dan seks menjadi komoditas paling laku. Jangankan yang beneran, yang gambar dan sekadar gosip saja laris manis,” urainya.

Ia mengatakan break room tidak ada kaitan dengan pandemi. “Tidak. Di Jepang dan negara-negara liberal sudah ada lama sekali. Biasanya di ruang bawah tanah, dengan boneka besar berwajah para bos yang sangat mungkin telah menyakiti para pegawai. Nah setelah dimarahi bosnya, para pegawai boleh turun ke ruang itu dan memukuli, menonjok atau menendang boneka berwajah si bos,” pungkasnya.(had)