Ubah Limbah Jadi Biogas, Ide Menarik Dari Pabrik Tahu Sukun 73 Kota Malang

Fandi Prima. (ist)

Oleh : Fandi Prima, Mahasiswa Sosiologi FISIP UMM

Jika mendengar kata pabrik, mungkin banyak masyarakat yang mengira bahwa semua pabrik adalah tempat proses suatu barang besar yang pasti menghasilkan polusi dan pencemaran limbah dan banyak juga yang membayangkan bahwa pabrik adalah tempat yang kumuh dan kotor. Dampak yang sering dihasilkan dari pengelolaan tahu adalah pencemaran limbah, Pencemaran limbah merupakan salah satu penyebab kerusakan lingkungan hidup dan dapat menyebabkan penyakit kepada umat manusia.
Namun, sayangnya hal itu berhasil di sanggah oleh pabrik tahu Sukun 73 yang beralamat lengkap di Jl. S. Supriadi No.73, Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur. Pabrik tahu Sukun 73 sudah berdiri sejak lama, tepatnya sejak tahun 1950 yang dimiliki oleh pihak swasta atau perorangan dari suatu keluarga yang system kepemimpinanya melalui turun temurun antar generasi, saat ini pabrik tahu Sukun 73 dipimpin oleh bapak Feri Gunawan, dan sekarang mereka hanya memiliki karyawan yang berjumlah 4 orang di bagian pabrik, dan 1 orang karyawan penjaga toko, yang dimana sebelumnya ada 10 karyawan dibagian pabrik.

Seiring berkembanganya zaman, pabrik tahu Sukun 73 terus mengalami perubahan dan kemanjuan. Pabrik tahu Sukun 73 terus memiliki eksistensi dan terkenal di tengah masyarakat, karena memang memiliki kualitas produk yang baik sehingga menciptakan kepuasan bagi konsumen namun tidak hanya itu, pabrik tahu Sukun 73 juga berhasil menarik perhatian positif masyarakat dengan mengolah limbah cair menjadi biogas yang dinilai lebih bermanfaat dibandingkan dengan membiarkannya di tengah masyarakat. Bapak Feri selaku pemilik dari pabrik tahu Sukun 73 ini mengaku bahwa selama proses pembuatan tahu memang menghasilkan limbah, baik itu limbah padat maupun limbah cair namun yang lebih banyak adalah limbah cair, dan kalau limbah cair itu biarkan mengalir ke sungai, limbah akan menimbulkan pencemaran sungai dan akan menyebabkan gangguan kesehatan yang berupa penyakit gatal, diare, kolera, radang usus, dan penyakit lainnya. Oleh karene itu, bapak Feri berfikir bagaimana caranya agar limbah cair ini tidak terlalu mengkotori dan mencemari lingkungan, akhirnya dengan berbagai pertimbangan beliau membuat limbah cair itu menjadi sebuah energi alternatif yang bermanfaat berupa Biogas. “Karena memang ini berbahaya (limbah) bagi lingkungan dan masyarakat, maka dari itu saya berfikir bagaimana caranya agar limbah ini setidaknya tidak terlalu merusak, yah salah satu contohnya dengan mengubahnya menjadi biogas,” ujar bapak Feri saat di tanya mengenai limbah pabrik.

Jika di lihat dari sudut pandang Sosiologi penyebab adanya limbah yang dihasilkan pabrik adalah karena adanya tindakan atau aktivitas sosial yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Weber menyatakan bahwa tindakan sosial sejauh berdasarkan atas makna subjektif yang melekat pada individu yang bertindak,tindakan itu memperhitungkan tingkah laku orang lain dan dengan cara itu pelaksanaanya tearah. Sedangkan dalam sudut pandang hubungan industrial itu sendiri, pabrik tahu Sukun 73 ini memiliki ikatan bipartit antara pengusaha dan masyarakat materi mengenai bipartit telah lama penulis dapatkan melalui mata kuliah hubungan industrial yang ditempuh selama satu semester dengan dosen pengampu bapak Drs. Sulismadi, M.Si salah satu dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Univeristas Muhammadiyah Malang (UMM).