Unik dan Khas, Merawat Tradisi Metri Desa di Sumbersuko Wagir

Caption : Merawat tradisi, Metri Desa Sumbersuko, Wagir, Kabupaten Malang. (dok pribadi)

BACAMALANG.COM – Nusantara adalah negara yang kaya raya dan cantik, bak ratna mutu manikam, terbentang di sepanjang garis khatulistiwa.

Negeri yang diberkahi dan dikenal mempunyai banyak warisan budaya, adat istiadat yang adi luhung, yang layak disyukuri, dirawat dan dilestarikan. Salah satu tradisi tersebut adalah Metri atau slametan desa.

“Setiap bulan Suro pada penanggalan Jawa Kejawen, umumnya desa-desa di Jawa masih menjalankan ritual Bersih Desa, atau juga dikenal dengan Metri Desa,” tegas Founder Dial Foundation Pietra Widiadi, Kamis (9/9/2021).

Hal yang sama dilakukan di Desa Sumbersuko, Wagir, Kabupaten Malang. Kali ini sesuai dengan penanggalan yang telah ditetapkan oleh tetua Desa, ritual Metri Desa jatuh pada Senin Kliwon, tanggal 6 September 2021.

Kegiatan utama yang dilakukan adalah ucapan rasa syukur dimana dalam 1 tahun telah berlalu Desa mendapatkan keberkahan dan keselamatan.

Upacara ini memberikan makna pada rasa syukur pada alam semesta yang sudah memberikan kehidupan 1 tahuan sebelumnya.

Meski pada dasarnya sebagian dari warga sudah tidak lagi menggantungkan kehidupannya dengan kegiatan Bertani atau tergantung pada alam sepenuhnya.

Makna bergantung pada alam kemudian harus disematkan pada raya syukur bahwa bumi alam semesta masih memberikan berkah berupa limpahan air yang dihasilkan dari Hutan yang ada di Kawasan Desa Sumbersuko.

Air, air adalah kehidupan yang tentu ini memberikan makna bahwa ketergantungan warga pada alam masih tetap kuat.

“Dengan upacara bersih desa, atau Metri Desa ini diharapkan pada tahun mendatang kehidupan warga harus berorientasi pada upaya perlindungan dan pelestarian sumber daya alam, dalam hal ini adalah air dan kehidupan pertanian serta perkebunan (agro-forestry),” tandas pria alumnus FISIP Universitas Airlangga ini.

ENCEK, ORGANIK, MURAH, PRAKTIS

Pada Metri Desa kali ini, ada yang baru namun sudah lama dilakukan dalam keseharian masyarakat, yaitu menggunakan encek atau wadah makanan yang dibawa ke Punden Desa, untuk dijadikan sesaji untuk diberikan doa, dan kemudian ditukarkan satu sama lain dan dinikmati dalam keluarga masing-masing sebagai sebuah berkat dari sara syukur dan berbagi sesama tetangga.

Wadah encek yang bisanya menggunakan karton/kertas dan plastik tahun ini sudah kembali pada penggunakan pelepah batang pisang yang dirangkai menjadi nampan sesaji, atau encek sesaji.

Demikian juga dengan tutup dan alas makanan dibuat dari daun pisang. Dengan demikian maka encek yang dipakai sangat organik, dibuat dari bahan tanaman yang bisa diambil dari lahan sendiri.

Langkah ini adalah langkah mengembalikan pada bagaimana kita memberikan makna perlindungan pada alam dan sekaligus memberikan upaya pemeliharaan alam dengan membuat sampah organik yang mudah diurai.

Kedua dengan langkah itu, maka terdapat penghematan bahwa penggunaan encek dilakukan tanpa mengeluarkan biaya.

Dan pada saat daun-daun pisang dan pelepah pisang diambil, maka itu menyehatkan batang-batang pisang karena dirawat diambil yang tidak digunakan kerena sudah menua, untuk kemudian ada peremajaan.

Sampah yang diproduksi ketika dibuang ke tegal, dengan sendirinya akan segera menyatu dengan tanah dan sekaligus menjadi pupuk.

Upaya mengembalikan makna sebenarnya tentang Metri Desa dan upaya pelestarian sebagai desa yang merupakan desa penyangga hutan di lereng Gunung Kawi.

“Ini langkah awal, awal sekali untuk mengembalikan ingatan bahwa kehidupan sehari-hari harus bersahabat dengan alam untuk melestarikan kehidupan manusia itu sendiri. Jadi tidak akan sia-sia melaksanakan tradisi dan bagian dari budaya laku Jawa bagi masyarakat Jawa,” pungkasnya.

Untuk mengetahui berbagai hal terkait Dial Foundation silahkan kunjungi :

Dial | Drive Innovations For Alternative Livelihood” https://dial.or.id

https://instagram.com/pendopo_kembangkopi?utm_medium=copy_link

https://instagram.com/dialfoundation?utm_medium=copy_link. (*/had)