Utamakan Toleransi, Paslon LaDub Paparkan Konsep Kerukunan Umat Beragama

Foto: Kegiatan kampanye Bu Nyai Lathifah. (ist)

BACAMALANG.COM – Dengan mengutamakan toleransi antar umat beragama, pasangan calon (Paslon) Lathifah- Didik Budi Mulyono (LaDub) memaparkan konsep kerukunan umat beragama.

“Pancasila dan UUD 1945 memberikan amanah kepada masyarakat termasuk negara untuk saling menghormati antar umat beragama,” kata Lathifah Shohib saat berdialog dengan Tokoh Katolik Wonosari baru-baru ini.

Sekilas informasi, LaDub ingin meneguhkan kerukunan umat beragama menjadi salah satu komitmen penting.

Lathifah Shohib, mengatakan, Indonesia merupakan negara yang menghormati keberagaman baik suku, ras dan agama.

Program Dialog Bersama

Wanita yang akrab disapa Bu Nyai itu menambahkan, dalam konteks pemerintah daerah, kerukunan antar umat beragama harus dilakukan dengan merangkul segala pihak termasuk memperkuat FKUB.

“Apalagi Kabupaten Malang ini memilki jumlah warga 2 juta lebih dengan berbagai latar belakang, sehingga forum kerukunan umat beragama bisa menjadi jembatan terciptanya masyarakat yang damai dan unggul,” tandasnya.

Cucu Pendiri NU KH Bisri Syansuri itu mengatakan ke depan pihaknya akan terus memperkuat kerukunan umat beragama di Kabupaten Malang dengan program dialog bersama para pemuka agama baik dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha serta penganut aliran kepercayaan.

“Harus ada forum dimana para pemuka agama duduk bersama, membahas visi besar agar Kabupaten Malang bisa menjaga toleransi antar umat beragama, termasuk musrenbang keagamaan” ucapnya.

Mengutip Kalimat Mantan Presiden ke IV Abdurrahman Wahid, Bu Nyai menegaskan jika perbedaan adalah fitrah dan harus diletakkan dalam prinsip kemanusiaan yang universal.

“Gus Dur pernah bilang memuliakan manusia berarti sama dengan memuliakan Tuhannya, sebaliknya merendahkan manusia berarti merendahkan Tuhannya. Karena itu ke depan toleransi antar umat beragama di Kabupaten Malang harus dilandaskan pada prinsip prinsip kemanusiaan,” urai Lathifah mengakhiri. (*/had)