Vaksinasi Aman, Unisma Siap Perkuliahan Luring

Foto: Dr. Ir. Hj. Istirochah Pujiwati, M.P. Wakil Rektor 4 (kiri), Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si Rektor Unisma (tengah), dr. Rahma Triliana, M.Kes, P.hD Dekan Fakultas Kedokteran Unisma (kanan)

BACAMALANG.COM – Untuk persiapan perkuliahan luring semester ganjil 2021-2022, Universitas Islam Malang (UNISMA) melakukan pengamanan kepada semua civitas akademika lewat vaksinasi tahap satu dan tahap dua.

“UNISMA telah melakukan vaksinasi tahap satu dan tahap dua, jadi kepada pimpinan, karyawan dan dosen. Semuanya InshaAllah sekarang ini sampai besok jadi tahap 1 sudah selesai kira-kira setengah bulan yang lalu dan sekarang sedang penyelesaian tahap 2 dan sudah dipersiapkan konkrit dosen, karyawan, pimpinan untuk vaksinasi,” tegas Rektor Unisma, Prof. Dr. H. Maskuri.

Ia mengatakan, vaksinasi dalam rangka persiapan pembelajaran luring, semester ganjil 2021-2022 untuk memberikan pengamanan kepada para mahasiswa, para dosen, karyawan dan seluruh masyarakat. Unisma akan tetap mengikuti kebijakan pemerintah, apapun yang diputuskan oleh pemerintah.

Ia menjelaskan pihaknya bersinergi dan disupport fakultas kedokteran, rumah sakit Islam Unisma yang menfasilitas dosen, karyawan dan pimpinan untuk vaksinasi, serta kontribusi walikota dan dinas kesehatan.

Pihaknya mengapresiasi terhadap capaian fakultas kedokteran yang telah mengantarkan mahasiswanya untuk mengikuti ujian profesi dokter yang disebut dengan Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi (UKMPPD). Pihaknya selalu memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara untuk UKMPPD ini, kelulusannya terutama hampir mencapai 100% dan berada di peringkat kedua nasional.

Hal ini tidak bisa lepas dari mutu pendidikan, yang ada di fakultas kedokteran dan pihaknya berterimakasih kepada dekan fakultas kedokteran, para dosen, laboran, karyawan dan pihak terkait termasuk juga RS mitra yang menjadi tempat coass (co-assistant) yaitu di RSU Bangkalan Madura, RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang, RS Mardi Waluyo Blitar, kemudian di Blambangan Banyuwangi, RS di Porong, RSJ Lawang dan RSI Unisma sendiri yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk bisa meningkatkan kualitas SDM terutama untuk dokter-dokter muslim yang dikeluarkan dari fakultas kedokteran Unisma ini.

Pihaknya senang testimoni dari sebagian orang tua wali, ketika dia Lulus dari fakultas kedokteran Unisma dia mengatakan tidak hanya dapat dokter dari Unisma ini, tetapi dia keluar juga dapat menjadi mubaligh, jadi asalnya dulu mengkuliahkan untuk supaya putra putrinya menjadi dokter muslim atau dokter sesuai dengan agamanya masing-masing. Tetapi yang jelas etika dokter muslim itu diberikan, karena ada yang dari Nasrani, Hindu, Budha tapi pada saat mengambil sumpah sebagai dokter sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

Etika sebagai dokter muslim selalu dikedepankan, menunjukkan bahwa fakultas kedokteran kredibel untuk dititipi oleh masyarakat untuk mengantarkan menjadi dokter muslim.

“Jadi dia bukan sekadar dokter tetapi dia juga mubaligh bahkan orang tuanya kadang kala juga bilang, ‘pak rektor ternyata saya tidak hanya dapat dua tapi dapat tiga’ apa tiga itu? Dapat mantu dokter juga disitu, itu yang luar biasa yang sering dikatakan oleh orang tua ketika pelepasan dan dia bangga dengan putra putrinya dari Unisma, karena satu tahun penuh mereka harus berada di pondok pesantren dan ketika dia di pondok pesantren melakukan suatu kajian-kajian keagamaan. Dan dia juga harus hafal Al-Quran,” jelasnya.

Ha ini menjadi bekal mereka untuk menjadi seorang mubaligh, menjadi imam bahkan menjadi dokter pada saat sebelum dia mengambil tindakan tentu diiringin dengan doa.

“Bu dekan akan menyampaikan kiat bagaimana bisa mengantarkan putra putrinya ini menjadi dokter yang memang qualified dan masuk di 2 besar fakultas kedokteran dan kita masuk 5 besar itu biasa, sudah biasa masuk 5 besar terbaik lulusan dari UKMPPD itu,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pembelajaran dibuat senyaman dan seaman mungkin. Kalau misalkan semester ganjil nanti diperbolehkan luring semuanya pihaknya akan luring. “Kita mengikuti kebijakan pemerintah, Kita tidak ingin berseberangan dengan kebijakan pemerintah. Kita menunggu SOP dari pemerintah nanti dan pemerintah juga nunggu vaksinasi tentunya,. Jadi vaksinasi selesai semuanya, bisa jadi nanti luring juga kalau pemerintah mengatakan demikian pihaknya mengikuti,” tuturnya.

Diungkapkanya, dirinya juga sudah vaksinasi dan sudah kedua kalinya bahkan sudah mendapatkan sertifikat.

Yang didaftarkan ke dinas kesehatan ada 747, kemudian sampai hari ini sudah total 632 sudah divaksin tahap 2, karena masih ada waktu sampai tanggal 29 Maret, karena usia 58 itu jarak dari vaksin satu dengan vaksin dua itu 28 hari. (*/had)