Viral Lagi Remaja Dikeroyok, Akademisi Ini Menelaah Tajam Lewat Sosiologi Pengeroyokan

Caption : Pengeroyokan. (dok FB)

BACAMALANG.COM – Belum usai kasus pencabulan siswi SD di Blimbing Kota Malang disertai penganiayaan, kini jagad medsos Malang Raya viral lagi dengan adanya video seorang remaja ditawur sejumlah remaja lainnya.

Secara ringkas diketahui jika pemosting memakai akun bernama Laksamana Caping memperlihatkan seorang pemuda ditawur sejumlah remaja diperkirakan berlokasi di Jalan Merbabu Kota Malang pada Sabtu (20/11/2021), diduga dipicu persoalan pribadi. Si pemosting berharap adanya penegakan hukum atas terjadinya kasus tersebut dan postingan ini memantik ribuan netizen turut berkomentar.

Terkait adanya postingan dan video tersebut, menyita perhatian akademisi yang juga Direktur Program Pascasarjana IBU (IKIP Budi Utomo) Malang, Dr Sakban Rosidi.

Secara gamblang akademisi yang juga Penggagas Sekolah Indonesia Bernalar ini mengulas fenomena kekerasan tersebut dengan pendekatan Sosiologi Pengeroyokan. Berikut telaah selengkapnya.

Sosiologi Pengeroyokan:
Bukan seperti Texas, tetapi Hutan Rimba

Sebelum membahas sifat dasar, tingkat bahaya, dan penegakan hukumnya, mari kita buat dulu tipologi pertikaian sosialnya.

Kalau satu lawan satu, dengan daya dan kuasa tak setara, yang terjadi penindasan atau penganiayaan.

Satu lawan satu, dengan daya dan kuasa setara, yang terjadi pertikaian atau perkelahian.

Kalau satu lawan kelompok, yang tentu daya dan kuasa jadi tak setara, yang terjadi adalah pengeroyokan.

Tetapi, kalau kelompok lawan kelompok, yang tentu daya dan kuasa jadi setara, yang terjadi adalah tawuran.

Secara sosiologis, pengeroyokan tergolong kejahatan sangat berbahaya dan luar biasa.

Berbahaya karena perangai dan tindak pengeroyokan menyerupai perangai dan perilaku predator kolektif.

Dalam dunia hewan, mereka ini adalah kawanan Singa, kawanan Orca, gerombolan Hienna tutul, gerombolan Serigala kelabu, dan anjing liar Afrika.

Menindas, menyerang dan membunuh secara beramai-ramai individu yang lemah adalah kebiasaan mereka.

Tidak ada yang lebih membahayakan di dunia ini, kecuali para pemangsa yang berburu dalam kerjasama kelompok.

Ini semacam kejahatan terorgaisasi (organized crime). Tak hanya cenderung begitu kuat karena korbannya perseorangan, tetapi juga sangat jahat dan terbilang tanpa ampun.

Jadi, kalau seseorang menyelesaikan perbedaan kepentingan dengan kekerasan fisik sudah bisa disebut membinatang, maka sekelompok pemuda yang menyelesaikan perbedaan kepentingan dengan kekerasan fisik secara kolektif, bisa menjadi cikal-bakal gerombolan serigala.

Bahkan lebih dari itu. Mengapa? Kolektiva predator bergerak karena dorongan biologis, secara naluriah, berburu karena harus makan.

Betapa pun rakus mereka, niscaya berhenti apabila semuanya sudah kenyang.

Lha manusia? Sangat jelas memiliki nafsu tak terbatas. Ingat kan? Sumberdaya bumi ini sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia, tetapi tidak pernah cukup untuk memuaskan nafsu seorang Sakban Rosidi.

Selain itu, manusia tidak didorong semata-mata oleh naluri, tetapi juga oleh cara berpikir mereka.

Cara berpikir ini akan menular berdasarkan pengamatan dan pengalaman.

Bila pengamatan dan pengalaman membuktikan tindak pengeroyokan tidak ditindak secara hukum, akan berkembang suatu bentuk kesesatan nalar, yang disebut two wrongs make a right.

Akan berkembang kesesatan cara berpikir bahwa kejahatan yang dilakukan banyak orang, tidak bisa dijatuhi hukuman, alias menjadi benar.

Justru karena dilakukan secara kolektif, maka polisi harus segera mengusut dan menindak secara hukum.

Jangan sampai menjadi preseden buruk yang menjadi pembenar bagi kelompok lain untuk melakukan hal yang sama.

Bahkan, seandainya berlaku hukum rimba pun, pengeroyokan suatu kelompok terhadap satu individu, kita rasakan sebagai ketidakadilan, sebagai kedzaliman. (had)