Wacana Pergantian Nama Kabupaten Malang, Adeng Sangat Setuju

Cak Adeng saat berbicara kepada wartawan beberapa waktu lalu (ist)

BACAMALANG.COM – Wacana perubahan nama Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen, mendapat sambut positif dari Politisi PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Abdul Qodir.

Ia menilai, wacana itu tidak masalah justru perubahan itu mendukung akar sejarah di wilayah Kepanjen. “Intinya dalam sistem demokrasi, semua boleh menyampaikan ide, apalagi demi kemajuan. Belum lagi bagi orang jawa nama mengandung doa, dan menurut pemahaman saya munculnya wacana pergantian nama itu hanya sebagai salah satu implementasi dari Undang-undang Otonomi Daerah (Otoda),” kata Cha’ Adeng, sapaan akrabnya, Jumat (24/9/2021).

Menurutnya, selama ini memang ada kerancuan saat menyebut daerah antara Kota Malang dan Kabupaten Malang. “Fakta di lapangan, tidak sedikit pandangan masyarakat luar kota kerap sekali terjadi kerancuan bahwa Kota Malang dianggap sebagai ibu kota Kabupaten Malang, padahal keduanya merupakan wilayah yang berbeda secara administrasi.

Lanjut dia, agar dua daerah ini tidak selalu disamakan, mungkin ada baiknya, wacana penggantian nama pemerintahan itu sebagai solusi. “Saat ini beberapa instansi di Kabupaten Malang sudah memakai nama Kepanjen, seperti Polres Kepanjen, Kejaksaan Kepanjen dan PN Kepanjen,” paparnya.

Menurutnya lagi, wacana yang dilontarkan Bupati Sanusi ini bagus juga. Hanya kemudian memang perlu kajian akademis. “Tapi saya yakin, Bupati Malang sebelum melontarkan wacana Kabupaten Kepanjen sudah melewati beberapa kajian, bahwa nama Kepanjen akar sejarahnya dari Raden Panji,” lanjut Cha’ Adeng.

Disinggung soal perubahan nama itu, Politisi PDI P itu menegaskan bahwa pihaknya sangat setuju dengan wacana penggantian itu, bahkan ia justru sangat mendukung. “Justru saya berharap bukan hanya sebatas wacana, harus direalisasikan, naif kalau ada yang menyikapi wacana itu hanya untuk memajukan satu kecamatan Kepanjen saja, karena faktanya hari ini Kepanjen sudah di sahkan sebagai Ibu Kota Kabupaten Malang” bebernya.

Cha’ Adeng berharap wacana ini terus berkembang, dan tidak masalah jika menimbulkan polemik. “Asal polemik yang mencerdaskan, bukan polemik buah dari ajakan ke pantai pada saat masa PPKM,” pungkas Abdul Qodir. (lis/red)