Walhi Anggap Banjir dan Longsor Malang Barat Akibat Bencana Ekologis

Foto: Badan jalan di wilayah Malang Barat yang tertutup longsor. (ist)

BACAMALANG.COM – Dewan Daerah Wahana Lingkungan (Walhi) Jawa Timur, Purnawan D Negara menyebut bahwa penyebab terjadinya tanah longsor dan banjir yang menimpa beberapa wilayah di Kabupaten Malang Barat merupakan bencana ekologis.

Sekalipun banjir dan tanah longsor ini konotasinya bencana alam, pada prinsipnya Walhi lebih cenderung menyebutnya bencana ekologis karena bisa dipastikan diakibatkan adanya keterlibatan manusia. Sama halnya dengan bencana yang terjadi diberbagai wilayah di Indonesia.

Ia menjelaskan, alam tidak bisa sepenuhnya disalahkan dalam peristiwa banjir dan longsor yang terjadi di Batu, Pujon, Ngantang dan Kasembon. Seperti diketahui, banyak yang memperkirakan bahwa bencana ini akibat intensitas curah hujan sangat tinggi dan ekstrem.

“Dan (bencana, red.) itu tidak akan terjadi dalam periodik pertahun ,ke-ekstriman (cuaca, red.) ini berganti – ganti. Sekarang ini sudah dalam kondisi iklim yang global warming , dimana  keadaan lingkungan yang global warming seperti ini, maka  kemudian curah hujan tidak bisa diprediksi turun  merata,” tegasnya.

Gambaran curah hujan yang ekstrim, lanjut dia, seperti pada musim kemarau masih ada hujan dan pada saat musim penghujan justru terkadang hujan tidak turun- turun di beberapa daerah. “Kebetulan Malang Raya kondisi sekarang sedang ketiban sampur, curah hujan yang cukup tinggi,” jelasnya.

Pria yang juga dosen Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang ini mengatakan, air di muka bumi ini berdasarkan hukum siklus hidrologis itu adalah tetap. Artinya air laut diuapkan oleh sinar matahari turun ke bumi dan siklusnya tetap jumlah air tidak bertambah dan tidak berkurang .

Menurutnya , hujan diistilahkan lewat sebuah saluran seperti  shower yang panjangnya dari Sabang sampai Merauke. Dimana ketika suatu daerah mengalami musim kemarau, akan berhenti bersama-sama. Tetapi pada saat musim penghujan, mengucur secara bersamaan dan merata.

“Tetapi sekarang yang terjadi hujannya tidak merata. Tetapi ada suatu daerah saat ini curah hujannya bukan main, khususnya di Malang Raya cukup deras. Tetapi daerah lain yang mestinya hujan, tidak turun hujan,” paparnya.

Selain itu, lanjut dia, curah hujan di Malang Raya airnya dihabiskan pada satu titik sehingga yang terjadi adalah intensitas hujan yang besar dan yang terjadi adalah kemampuan lingkungan daya dukung dan daya serap lingkungan tidak seimbang.

Ketika curah hujan mengalir secara merata, alam lingkungan bisa mengendalikan secara normal. Tetapi curah hujan yang begitu tinggi, memicu tanah tidak bisa menyerap secara normal. Maka yang terjadi adalah sisa air hujan akan dilimpaskan diatas permukaan tanah yang menimbulkan banjir dan tanah longsor.

“Intensitas hujan yang deras tidak lagi mampu meresapkan air ke tanah, sehingga proses penyerapanya  tidak optimal. Dan inilah yang akan dilimpaskan diatas permukaan tanah yang memicu banjir dan tanah longsor,” ungkapnya.

Sementara itu, Camat Ngantang Akhmad Taufik mengatakan bahwa banjir dan tanah longsor yang menimpa kecamatan Ngantang terjadi di dua desa yakni Tulungrejo dan Jombok. Tanah longsor yang paling parah di Dusun Gagar karena ada 4 rumah sedang, dan di Dusun Ngaten ada 1 rumah rusak berat.

Selain itu, dilaporkan bahwa ada warga yang mengalami luka luka akibat longsor. Yakni Totok Hariato (56), Kasiati (50), Irawan (40), Hariasih (32), Refan (11) dan Lisdiya Ayu Pratiwi yang masih berusia 17 bulan. (yon/red)