Wisata Alas Pakis Makin Ngehits, Founder Dial Foundation Jlentrehkan Rahasianya

Caption : Alas Pakis. (ist)

BACAMALANG.COM – Wisata Alas Pakis menjadi destinasi wisata yang akhir-akhir ini semakin ngehits (terkenal/populer) berkat adanya sentuhan dan polesan menambah daya magnit kuat menarik wisatawan berkunjung.

Destinasi wisata baru Alas Pakis kini semakin disukai wisatawan berkat sentuhan Dial Foundation yang sukses memberikan pendampingan. Secara istimewa Founder Dial Foundation Pietra Widiadi menjlentrehkan (menjelaskan) rahasia mengelola wisata yang asri dan eksotik tersebut.

“Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang merupakan desa yang berbatasan dengan tanah negara berupa hutan yang dikelola oleh Perhutani,” tegas Founder Dial Foundation, Pietra Widiadi, memulai bercerita.

Desa ini merupakan Desa yang paling ujung dan tinggi menuju puncak Gunung Kawi, di Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Desa yang tersusun dari 6 dusun ini, memiliki keragaman mata pencaharian dari warganya.

Umumnya warga bermata pencaharian petani (tegal), petani Kawasan hutan, pekerja pabrikan dan sektor informal di kota maupun di desa.

Dari kegiatan mata pencarian warga di 6 dusun ini, memiliki kekhasan masing-masing.

Dari Dusun Sumberpang Kidul yang dekat dengan Gunung (Rabut) Katu, yang dapat dikategorikan Kawasan wisata budaya karena terdapat peninggalan sejarah masa Kerajaan Singhasari.

Lalu di Dusun Sumberpang Lor terdapat usaha pembuatan bakso yang terkenal, di Dusun Kenongo yang memiliki kekhasan usaha sapi perah dan di Dusun Ngemplak dan Glagahombo yang mewakili lahan tegal dan dapat dikembangkan menjadi wisata berkebun dan terdapat Pendopo Kembangkopi yang merupakan warung dan fasilitas belajar.

Lalu Dusun Precet, dusun ini berbatasan dengan hutan negara yang dikelola oleh Perhutani pada ketinggian di atas 1.000 dpl.

Keragaman aset ini merupakan bekal untuk membangun desa. Di Kawasan dusun Precet, dimana disana juga ada wisata hutan Precet yang masih dikelola apa adanya dan merupakan pintu masuk menuju pucak Gunung Kawi di Batu Tulis.

WISATA ALAS PAKIS

Juga terdapat lokasi wisata baru, yang awalnya sudah dikelola oleh Pokdarwis desa Sumbersuko, namun dalam kondisi mati segan dan hidup pun enggan. Awalnya disebut dengan Jurang Sikut, karena pada posisi tikungan.

“Lokasi ini sekarang diubah dengan nama Alas Pakis, karena kawasannya bertumbuhan berbagai jenis Pakis yang umumnya hidup di hutan dan Kawasan yang dingin. Alas Pakis menjadi lokasi wisata baru, posisinya dibenahi, hijauan hutan dikembangkan dan tegakan dirawat,” terang Pietra yang juga alumnus FISIP Universitas Airlangga ini.

Pengelolaannya masih bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Malang dan Perhutani. Lokasi ini ditata indah, sealami mungkin dengan sajian kopi (tanpa digunting). Kopi Robusta dan Arabika Gunung Kawi khas Sumbersuko dan sekitar.

Dalam masa pandemi ini, dengan menerapkan prokes yang ketat lokasi dibuka untuk umum, sekedar ngopi dan berswafoto sendiri ataupun bersama keluarga dan kerabat.

Dalam keadaan alam terbuka di bawah naungan pohon Pinus yang berusia antara 20-30 tahun serta dengan hiasan pohon pakis besar dan kecil.

Selain itu, lokasi ini juga memanfaatkan arus air untuk menyalakan listrik melalui kincir air, turbin pembangkit listrik.

Tidak kalah asiknya main kecek-kecekan di arus kali kecil yang hampir sepanjang tahun diairin (dialiri air).

Meski pada kemarau puncak, air bisa saja nyaris menghilang. Tahun ini dalam kemarau yang basah dalam periode El Nino, air terus mengalir.

Dari pendapatan mengelola lokasi wisata ini, sekitar 20-30% dialokasikan untuk memelihara lingkungan, termasuk merawat sumber air diatasnya dan menanam pohon pelindung supaya air terus dapat mengalir.

Upaya ini sebagai bagian dari komitment dari pengelola Alas Pakis yang dalam upaya pembangunannya, didampingi oleh DIAL Foundation.

“Upaya pendampingan ini sebagai bagian untuk pelestarian sumber daya alam, berupa ketersedian air,” tutur Pietra.

Dengan mengalokasikan pendapatan daru usaha wisata yang menghadirkan alam terbuka sebesar 20-30%, diharapkan tumbuh kesadaran bahwa alam adalah sumber daya hidup manusia.

Dalam jangka panjang hal ini akan dikembangkan menjadi upaya jasa lingkungan.

BERKEMBANG PESAT

Pendampingan yang hampir berjalan 2 tahun ini, Nampak berkembang dengan pesat dalam 3-4 bulan terakhir. Usaha pelestarian, pengelolaan dan pembatasan pengunjung menjadi komitmen bagi pengelola, yang dipimpin oleh Supri, Prayit, dan Djoemari ini, pemuda desa Sumbersuko.

Selain untuk upaya pelestarian sumber daya alam, juga mendorong pengelolaan desa yang mandiri.

Diharapkan dengan berkembangnya usaha desa yang tepat dan konstruktif, pemuda desa tidak perlu jauh-jauh mengembangkan mata pencarian.

“Mereka cukup mengembangkan aset yang ada dan mengelolanya dengan tepat. Dengan demikian diharapkan, akan berkembang ekonomi gotong-royong di tingkat desa,” tandas Pietra.

Kebanggaan akan desanya dan sebagai pemuda desa yang berkarya menjadi motivasi utama dalam pengembangan lokasi wisata Alas Pakis.

Upaya Dial dalam pengembangan dan pembangunan desa dilakukan secara kesukarelaan, ini diharapkan tidak dibebani target segera jadi tetapi pemahaman pengelolaan di tingkat desa terjadi.

“Dengan demikian, Sumbersuko lestari menjadi tujuan utama dalam pembangunan Desa. Adanya pelestarian, pengelolaan dan kesadaran akan kemanfaatan sumber daya alam, terutama ketersedian air dengan tidak merusak sumber air dan Kawasan tangkapan air di Gunung Kawi,” pungkasnya. (had)