Dampak Ekonomi Festival Bantengan Nuswantara : Uang Berputar Rp 4,2 M di Kota Batu - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

OPINI · 9 Agu 2023 14:57 WIB ·

Dampak Ekonomi Festival Bantengan Nuswantara : Uang Berputar Rp 4,2 M di Kota Batu


 Ritual pembakaran dupa dan Bantengan berkumpul, mewarnai Festival Bantengan Kota Batu. (ist) Perbesar

Ritual pembakaran dupa dan Bantengan berkumpul, mewarnai Festival Bantengan Kota Batu. (ist)

Oleh: Mukhlis

Serangkaian kegiatan 15 tahun Bantengan Nuswantara yang puncaknya dihelat pada Minggu 6 Agustus 2023, dari pukul 08.00 WIB pagi sampai 23.00 WIB, menyedot animo publik luar biasa.

Rute sepanjang lima kilometer dari Stadion Brantas, Alun alun, sampai Pendopo Walikota Batu yang dirancang menjadi arena atraksi para kontingen penuh sesak para pengunjung.

Berbaur di tepi jalan, mulai dari anak sampai dewasa, saling berjubel menikmati hiburan rakyat berupa ekspresi kebudayaan khas masyarakat agraris yang berakar dari pencak silat yakni seni Bantengan.

Salah satu dampak langsung yang bisa terekam dari animo publik tersebut ialah terciptanya sirkulasi ekonomi diantara para pengunjung sebagai penonton, pedagang permanen di sepanjang rute dan pedagang kaki lima, serta rombongan seniman Bantengan per kontingen.

Berdasar pengamatan yang telah dilakukan, dengan rute perjalanan konvoi sepanjang 5 kilometer, asumsi keberadaan per 1 orang penonton memakan rentang per 1,5 meter maka bisa dilakukan perhitungan dengan hasil satu deret panjang 5000 meter sebanyak 3.333 orang.

Realita di lapangan pengunjung saling berhadapan di dua sisi jalan dan terdapat rata-rata dua baris, maka terdapat 4 baris depan belakang.

Hasilnya terdapat 3.333 orang dikalikan 4 shaf (baris) yakni 13.332 orang pengunjung baik penonton maupun pedagang.

Pendukung festival berfoto bersama usai kegiatan. (ist)

Apabila digunakan pendekatan asumsi terendah, bahwa setiap orang yang hadir belanja nominal 100 ribu per 8 jam, dan pelaksanaan Puncak Festival Bantengan diselenggarakan selama 15 jam, maka bisa disebut bahwa setiap orang yang hadir rata-rata merogoh koceknya hingga Rp 200 ribu.

Sehingga perputaran uang di satu hari kemarin dengan kehadiran 13.332 orang sebesar Rp 2,6 Milyar.

Selanjutnya modal belanja dari para peserta 107 kontingen. Dimana tercatat rata-rata pengeluaran yang harus dibelanjakan ialah sebesar Rp 15 juta.

Nominal ini untuk kebutuhan sewa kendaraan, peralatan, aksesoris, belanja ubo rampe, konsumsi, rokok, dan lain-lain.

Perkalian dari data dasar tersebut menghasilkan nominal Rp 1,6 M.
Sehingga dapat disimpulkan, bahwa puncak trance festival 15 Tahun Gebyak Bantengan Nuswantara yang menyedot perhatian 13.332 orang pengunjung serta keterlibatan 107 kontingen dari lintas daerah Jawa Timur berdampak pada berputarnya uang senilai Rp 4,2 M, tidak sampai hitungan hari (15 jam pelaksanaan) di Kota Batu.

Interaksi jual beli yang terjadi dengan kecepatan transaksi yang signifikan selama pelaksanaan festival Bantengan Nuswantara, menurut Irving Fisher, fenomena tersebut dapat mendorong pemerataan ekonomi, serta menjadi langkah pencegahan terhadap inflasi dalam satu kawasan inti, yakni Kota Batu.

Selain itu, terjadinya perputaran uang yang berdampak secara langsung terhadap pemerataan ekonomi ini juga memiliki singgungan di bidang sosial.

Peristiwa terjadinya interaksi antar penduduk dapat menumbuhkan jaring pengaman kerukunan masyarakat di sebuah kawasan.

Ribuan pengunjung yang tumplek blek menjadi satu sangatlah mungkin bertemu dengan kawan lama maupun yang baru dikenal. Disinilah terjadi surplus keakraban yang begitu melimpah ruah.

Sebenarnya, proses interaksi yang kuat antar masyarakat sebagai dampak dari perputaran ekonomi, pernah dipraktikkan oleh para generasi pendahulu dalam konsep pasar dinoan (Pon, Wage, Legi, Kliwon, Pahing).

Dengan waktu operasional buka berdasar pasaran hari serta lokasi pasar yang tidak terletak pada satu titik, maka pasar yang gilirannya buka, akan menyedot masyarakat dari asal tempat tinggal yang berbeda, untuk datang berbelanja di pasar tersebut.

Selain terjadi pemerataan ekonomi juga mengikuti proses penguatan relasi sosial melalui interaksi tatap muka dari masyarakat yang berasal dari asal desa/wilayah yang berbeda.

Begitupun bergilir di setiap pasaran harinya dampak ekonomi dan sosial menjadi kombinasi dari surplus keberkahan yang nyata.

Ke depan, panitia pelaksana hendak meneliti lebih dalam dan jauh terkait dampak lingkungan sosial budaya ekonomi dari Bantengan Nuswantara.

Bagaimana keterkaitannya terhadap citra kota Batu sebagai kota wisata. Relasi ekonomi Seni Bantengan sebagai kalender event rutin tahunan, konsisten 15 tahun apakah memberi manfaat terhadap citra kawasan serta dampak turunannya.

Terlebih saat ini ekosistem global sedang gencar membahas Keberlanjutan (Sustainibility).

Pariwisata berbasis budaya (Cultural Tourism) adalah jenis kegiatan pariwisata yang terbukti bertahan dalam jangka panjang, lestari, sekaligus mensejahterakan.

Relasi sosial surplus keakraban dan indeks kebahagiaan, pengaruh perubahan jaman kemasan seni Bantengan.

Pun, beban lingkungan baik sampah yang berserakan pasca acara, serta beban noise suara yang timbul dan yang berlebihan berpotensi muncul gangguan.

*) Penulis : Arek Mbatu, Relawan Bantengan Nuswantara 2023, Mukhlis.

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan bukan bagian dari BacaMalang.com.

Artikel ini telah dibaca 1,319 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Alun-Alun Kepanjen, Ujian Administrasi Sekda, dan Pertanyaan Sunyi tentang Bank Jatim Sebagai Bank Persepsi

24 Februari 2026 - 17:01 WIB

Warkop Grajen Kepanjen, Tebarkan Kebahagiaan sembari Ngopi, dan Ngaji tentang Kehidupan

15 Februari 2026 - 20:58 WIB

Bahan Obrolan Hari Pers Nasional 2026: Kala Algoritma Memilihkan Berita

9 Februari 2026 - 14:14 WIB

Warkop Grajen: Ruang Dialog dan Spiritualitas di Tengah Masyarakat Kepanjen

21 Januari 2026 - 11:59 WIB

Menimbang Dampak Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 Bagi Guru, Siswa, dan Sekolah

19 Januari 2026 - 12:58 WIB

BELAJAR DARI ISRA’ MI’RAJ (Spirit Kepemimpinan Amanah di Tengah Krisis Kepercayaan)

17 Januari 2026 - 09:43 WIB

Trending di OPINI

©Hak Cipta Dilindungi !