BELAJAR DARI ISRA' MI'RAJ (Spirit Kepemimpinan Amanah di Tengah Krisis Kepercayaan) - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

OPINI · 17 Jan 2026 09:43 WIB ·

BELAJAR DARI ISRA’ MI’RAJ (Spirit Kepemimpinan Amanah di Tengah Krisis Kepercayaan)


 ilustrasi. (ist) Perbesar

ilustrasi. (ist)

Oleh: Dr. H. Susilo Surahman, S.Ag., M.Pd., MCE.

Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika sosial-politik yang kian kompleks, bangsa Indonesia menghadapi satu persoalan mendasar: krisis kepercayaan. Kepercayaan publik terhadap pemimpin dan institusi negara kerap diuji oleh berbagai peristiwa yang mempertanyakan integritas, konsistensi, dan keteladanan moral. Dalam konteks inilah peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ pada 16 Januari 2026 menemukan relevansi sosialnya, bukan hanya sebagai peristiwa spiritual, tetapi juga sebagai momentum refleksi kepemimpinan.

Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa luar biasa yang menuntut keimanan dan kepercayaan penuh umat kepada Rasulullah ﷺ. Kisah perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga ke Sidratul Muntaha tidak hanya menguji kepercayaan umat pada masa itu, tetapi juga menegaskan kualitas pribadi Nabi sebagai pembawa amanah. Dalam peristiwa Mi’raj, Nabi menerima perintah shalat—sebuah amanah agung yang menjadi fondasi pembentukan karakter umat Islam hingga hari ini.

Konsep amanah menempati posisi sentral dalam ajaran Islam. Al-Qur’an menegaskan perintah untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak dan menegakkan keadilan (QS. An-Nisa: 58). Amanah bukan sekadar kejujuran administratif, melainkan kesanggupan moral untuk memikul tanggung jawab dengan penuh kesadaran spiritual. Nabi Muhammad ﷺ dikenal sebagai al-Amīn, sosok yang dipercaya bahkan sebelum beliau diangkat sebagai rasul. Inilah teladan kepemimpinan yang berakar pada integritas, bukan pencitraan.

Shalat, sebagai buah utama Isra’ Mi’raj, sesungguhnya memiliki dimensi sosial yang kuat. Al-Qur’an menyatakan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-‘Ankabut: 45). Artinya, ibadah tidak berhenti pada ritual personal, tetapi membentuk kesadaran etis dalam kehidupan publik. Pemimpin yang menjaga shalat secara substansial semestinya tercermin dalam sikap adil, rendah hati, dan konsisten antara ucapan dan tindakan.

Sayangnya, dalam realitas Indonesia hari ini, jarak antara nilai ideal dan praktik kepemimpinan masih terasa lebar. Fenomena rendahnya kepercayaan publik menunjukkan bahwa banyak jabatan dipersepsikan sebagai kekuasaan, bukan amanah. Ketika keteladanan memudar, masyarakat menjadi skeptis, dan ruang publik dipenuhi kecurigaan serta polarisasi. Dalam situasi seperti ini, pesan Isra’ Mi’raj menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati selalu berpijak pada nilai transenden.

Sebagai bangsa religius, Indonesia sejatinya memiliki modal spiritual yang kuat. Namun modal tersebut hanya akan bermakna jika nilai agama diterjemahkan dalam etika kepemimpinan yang nyata. Di sinilah peran kaum intelektual dan akademisi menjadi penting. Kampus tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk karakter amanah, kritis, dan berorientasi pada kemaslahatan publik.

Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa perjalanan spiritual harus bermuara pada tanggung jawab sosial. Kenaikan derajat seseorang, termasuk pemimpin, bukan diukur dari seberapa tinggi jabatan yang diraih, melainkan dari seberapa besar amanah yang ditunaikan. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat membutuhkan pemimpin yang layak dipercaya.

Pada akhirnya, peringatan Isra’ Mi’raj hendaknya menjadi cermin bagi kita semua, terutama para pemegang amanah publik. Krisis kepercayaan tidak dapat diselesaikan dengan retorika, melainkan dengan keteladanan. Dari Isra’ Mi’raj, kita belajar bahwa kepemimpinan yang amanah lahir dari kesadaran spiritual yang kokoh dan komitmen moral yang konsisten. Dari sanalah harapan pemulihan kepercayaan publik dapat tumbuh kembali.

*)Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi BacaMalang.com

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

“Pokoknya Ada” dan Ilusi Partisipasi Anggaran

24 April 2026 - 11:08 WIB

Melukis Malang dalam Busana

21 April 2026 - 18:27 WIB

Refleksi Hari Kartini: Perempuan dan Pendidikan, Warisan Kartini di Era Modern

21 April 2026 - 15:29 WIB

Etika Politik yang Makin Tidak Elok

17 April 2026 - 15:54 WIB

Permisif terhadap Perubahan yang Merusak

23 Maret 2026 - 12:00 WIB

Alun-Alun Kepanjen, Ujian Administrasi Sekda, dan Pertanyaan Sunyi tentang Bank Jatim Sebagai Bank Persepsi

24 Februari 2026 - 17:01 WIB

Trending di OPINI

©Hak Cipta Dilindungi !