Hengki Herwanto, Pendiri Museum Musik Indonesia, Berpulang - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 3 Mar 2026 22:25 WIB ·

Hengki Herwanto, Pendiri Museum Musik Indonesia, Berpulang


 Jenazah Hengki Herwanto (inzet), pendiri Museum Musik Indonesia (MMI) saat diberangkatkan ke TPU Samaan dari rumah duka Jalan Citarum Kota Malang, Selasa (3/3/2026). (Nedi Putra AW) Perbesar

Jenazah Hengki Herwanto (inzet), pendiri Museum Musik Indonesia (MMI) saat diberangkatkan ke TPU Samaan dari rumah duka Jalan Citarum Kota Malang, Selasa (3/3/2026). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Berbicara tentang sejarah musik di Malang, nama Hengki Herwanto menjadi salah satu sosok yang tak terpisahkan. Mantan jurnalis majalah musik Aktuil ini dikenal luas sebagai pendiri Museum Musik Indonesia (MMI). Pada bulan suci Ramadan, tepatnya Selasa, 3 Maret 2026 pukul 07.15 WIB, Hengki Herwanto berpulang ke haribaan Sang Pencipta.

Pria kelahiran Palembang ini meninggal dunia di RS Mayapada Surabaya. Hengki yang genap berusia 69 tahun pada 26 Februari 2026 lalu, kemudian disemayamkan di rumah duka di Jalan Citarum, Kota Malang—yang juga menjadi embrio berdirinya MMI. Jenazah dishalatkan di Masjid Al-Hidayah dan dimakamkan di TPU Samaan, Kota Malang, dengan iringan doa keluarga, kerabat, serta para kolega.

Pemilik nama lengkap Herwanto bin Soewarsono ini meninggalkan seorang istri, dua anak, dan seorang cucu. Hengki dikenal sebagai sosok pekerja keras yang mendedikasikan hidupnya bagi pelestarian sejarah musik Indonesia. Kecintaannya pada musik mendorongnya merintis sebuah ruang dokumentasi yang kelak menjadi rujukan nasional.

Berawal dari garasi rumah, Hengki mendirikan Galeri Malang Bernyanyi (GMB) pada 2009. Galeri ini menampilkan berbagai karya musik Indonesia dan terbuka bagi masyarakat umum. GMB didirikan saat Hengki menjadi Ketua Komunitas Pecinta Kajoetangan (Kapeka), bersama sejumlah tokoh musik nasional seperti Bens Leo dan Ian Antono sebagai Dewan Penasihat, serta Donny Hardono, Prasetyo Sudomo, lady rocker Sylvia Saartje, dan Sigit Hadinoto sebagai Badan Pendiri Kehormatan. Hengki sendiri tercatat sebagai anggota Badan Pendiri bersama Pongki Pamungkas dan rekan-rekannya.

Koleksi awal GMB didominasi kaset pita, disusul piringan hitam, CD, buku, majalah, poster, dan foto-foto musik. Seiring waktu, galeri ini berkembang menjadi Museum Musik Indonesia pada 2015, dengan koleksi yang terus bertambah. Beragam konser digelar, menghadirkan musisi legendaris seperti Guruh Soekarnoputra, Ermy Kullit, Grace Simon, hingga grup band Cockpit. MMI juga menerbitkan sejumlah buku, di antaranya Traditional and Ethnic Music in Indonesia dan Lady in Melody.

“Pendokumentasian musik tradisi melalui buku penting dilakukan agar warisan budaya tidak hilang ditelan zaman,” ujar Hengki dalam salah satu peluncuran buku MMI. Komitmen inilah yang mengukuhkan MMI sebagai pusat dokumentasi musik Indonesia.

Perjalanan MMI tidak selalu mulus. Museum ini sempat berpindah lokasi, mulai dari kawasan Griya Shanta, Gedung Kesenian Gajayana, Museum Mpu Purwa, hingga terakhir di Jalan Soekarno Hatta Indah, Kota Malang. Setelah tak lagi sebagai ketua, Hengki—yang juga pernah berkarier di PT Jasa Marga Tbk periode 1982–2015—menjadi penasihat MMI.

Kepergian pria yang hampir selalu tampil dengan bandananya ini meninggalkan duka mendalam. Budi Fatoni, rekan sesama anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, menyebut Hengki sebagai figur orang tua yang sarat pengalaman dan bijaksana. Hal senada disampaikan Isa Wahyudi, Ketua Forum Komunikasi Pokdarwis Kota Malang, yang menilai peran Hengki sangat besar dalam mengangkat Malang sebagai kota musik Indonesia.
“Melalui beliau akhirnya MMI membuat Malang diperhitungkan sebagai kota musik indonesia. Supervisi yang dilakukan pak Hengki juga membuat Ambon ditetapkan Unesco sebagai kota musik dunia. Selain itu MMI juga menghidupkan kembali festival anak-anak melalui tembang dan nyanyian,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua MMI saat ini, Ratna Sakti Wulandari, menyebut Hengki bukan sekadar pendiri, melainkan jiwa dari MMI. “Warisan lintas budaya yang beliau kumpulkan akan terus kami jaga agar tetap hidup dan bercerita bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Hengki Herwanto telah berpulang. Selamat jalan, Sang Penjaga Nada.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Polisi Buru Pelaku Begal Gondanglegi, Motor Korban Ditinggal Terjatuh

4 Maret 2026 - 04:56 WIB

Para Penghafal Al-Qur’an Pikat Perhatian di Hari Kedua Pekan Islami ke-XIX PT ACA

3 Maret 2026 - 21:17 WIB

Ditinggal Salat Subuh, Motor Jemaah di Pagelaran Digasak Maling

3 Maret 2026 - 14:56 WIB

Usai Ibadah Umroh, Kepulangan Inisiator Hari Santri Nasional Tertahan Akibat Gejolak di Timur Tengah

2 Maret 2026 - 22:06 WIB

Jelang Lebaran, Sindikat Uang Palsu Rp 94 Juta Dibongkar di Kota Malang

2 Maret 2026 - 21:29 WIB

Tim Resmob Singo Mbatu Satreskrim Polres Batu Ringkus Pelaku Curanmor Avanza Kurang dari 24 Jam

2 Maret 2026 - 21:12 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !