Oleh : Wawan Eko Yulianto *)
BACAMALANG.COM-Tahun ini, Imlek datang berdampingan dengan datangnya bulan Ramadan. Di grup WA yang saya ikuti, banyak yang saling mengucapkan selamat memasuki Ramadhan dan meminta maaf. Namun tidak sedikit pula yang mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek dan berbagi status WA dengan gambar tersebut. Tentu ini suatu momen yang langka karena meskipun sama-sama menggunakan hitungan lunar, penanggalan Tiongkok juga ada campuran penanggalan matahari sehingga tahun baru selalu dimulai sekitar bulan Januari dan Februari.
Momen hari ini memanggil pengalaman beberapa waktu lalu, di sebuah hari Minggu di akhir tahun 2025. Ketika itu, saya perlu melakukan aktivitas di Surabaya dan siangnya, sebelum balik ke Malang, kami memutuskan mampir sejenak ke Masjid Muhammad Cheng Hoo. Meskipun sudah sangat terkenal, saya sendiri belum berkesempatan mengunjungi masjid tersebut. Saya hanya pernah melihat deskripsi Masjid Muhammad Cheng Hoo di buku 100 Masjid Terindah Indonesia karya Teddy Tjokrosaputro Aryananda terbitan 2011.
Masjid di balik gedung yayasan
Matahari kota Surabaya hari itu memelototi kami. Di peta, lokasi yang kami tuju tidak terlalu jauh dari pusat kota. Saya dan keluarga baru tiba di titik yang disarankan Google Maps tak lama setelah orang-orang mestinya turun dari masjid setelah jamaah sholat dhuhur. Namun, kami hanya melihat bangunan besar warna putih dan hijau.
Tidak seperti masjid yang pernah saya lihat di buku, batin saya.
Saya lihat juga suasana lengang. Di selasar gedung ada pujasera tak terlalu besar dengan meja-meja kosong. Hanya satu warung yang buka. Di halaman saya lihat seorang satpam duduk di balik meja kecil. “Masjid Cheng Ho di sini ya, Pak?” tanya saya. Langsung dijawab dan dipersilakan parkir di tempat saya berhenti.
Ternyata ini adalah gedung serbaguna PITI (Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia) Jawa Timur. Saya tahu ini organisasi yang mendirikan Masjid Muhammad Cheng Hoo dan yayasannya—yang juga membawahi SD Islam Cheng Hoo. Tapi belum terlihat tanda-tanda masjid. Saya tetap jalan sesuai arah yang diberikan pak satpam. Yang terlihat justru lapangan basket dengan lantai hijau yang bagus.
Setelah berjalan sedikit, sampailah saya di lapangan basket luas (mungkin untuk dua court) dengan lantai hijau. Di sisi barat lapangan basket, terdapatkan bangunan bergaya arsitektur Tiongkok yang sekilas tampak melebar. Atapnya menyerupai pagoda tiga tingkat dan di ujungnya terdapat tulisan lafadz “Allah.”
Ini yang pernah saya lihat di buku, sorak saya.

Mimbar Masjid Muhammad Cheng Hoo. (Dok. Pribadi)
Masjid yang tak biasa
Lapangan basket di depan masjid ini terasa jauh lebih lebar dibandingkan luas masjidnya, dan ada atap lengkung di atasnya yang terlihat ramping tapi kokoh. Di sisi utara dan selatan lapangan jajaran panel-panel baliho terpasang rapi, yang masing-masingnya menampilkan masjid dari berbagai penjuru dunia: ada masjid kudus, masjid di Tiongkok, dan masjid di negara-negara lain. Di bawah masing-masing gambar masjid itu, tampak nama-nama perusahaan yang sebagian sangat saya akrabi. Perusahaan ekspedisi, produsen semen, produsen kopi, produsen makanan hewan piaraan dan lain-lain. Namun , di kiri atas, ada satu panel berisi tiga logo sekaligus: Nadhatul Ulama, Majelis Ulama Indonesia, dan Muhammadiyah.
Tampak seolah Ibu berjalan meninggalkan tempat wudhu di sebelah utara lapangan basket menuju masjid.
Dalam perjalanan ke masjid, di sebelah kanan masjid tampak miniatur kapal tiga layar berbahan beton. Di dinding terdapat relief sosok Cheng Ho dengan latar alam dan pedesaan bergaya Tiongkok. Pastinya ini representasi Cheng Ho. Saya bayangkan kalau melihat versi aslinya kapal ini saya pasti harus mendongak, seperti saat saya mencoba melihat tulisan atap masjid.
Bagian dalam masjid Cheng Hoo sebenarnya tidak terlalu besar. Menurut buku 100 Masjid Terindah Indonesia, bagian utama masjid Cheng Hoo memiliki ukuran 9m x 11m, dengan penjelasan “Angka 11 adalah ukuran Kabah saat baru dibangun dan angka 9 adalah simbol wali songo.” Lantai masjid ini memiliki kontur agak unik. Ada bagian utama yang tinggi, tapi bagian-bagian tepinya rendah, jadi bagian utamanya seperti mezanin.
Ada orang yang sedang bersantai di dekat pintu masjid, menikmati hembusan kipas angin besar di beberapa titik. Memang, hembusan kipas angin dan angin dari luar yang bisa keluar masuk dengan mudah lewat banyaknya ventilasi gedung ini menjadikan masjid ini tempat yang sangat nyaman di siang yang hangat ini.
Dari dalam bagian utama masjid, kalau kita melihat ke utara tampak wajah laksamana Cheng Hoo di dinding seperti memandang jauh ke arah mihrab. Di sisi lain, terdapat gulung-gulungan karpet yang mungkin disiagakan untuk alas bagian jamaah ketika jamaah saking banyaknya sampai luber ke lapangan basket. Mungkin begitu.
Satu hal yang menarik perhatian adalah di bagian mihrab. Di situ, terdapat podium kayu yang tampak kokoh. Di agian depannya, tampak logo PITI yang khas dengan kesan aksara Mandarin namun disertai kedua singkatan yang pernah dipakai, yaitu “Persatuan Islam Tionghoa Indonesia” dan “Pembina Iman Tauhid Islam.”
*) Blogger & Dosen Sastra Inggris Universitas Ma Chung




















































