BACAMALANG.COM – SMPN 1 Malang menghadirkan terobosan baru di bidang pendidikan dengan meluncurkan ADIPATI (Asesmen Digital Terpadu dan Inovatif). Platform berbasis website ini dirancang sebagai solusi terintegrasi untuk mengelola proses ujian, absensi, hingga distribusi materi ajar dalam satu sistem yang efisien dan mudah diakses.
Kepala SMPN 1 Malang, , S.Pd., menjelaskan bahwa inovasi tersebut lahir dari kebutuhan akan sistem yang lebih fleksibel dan efektif dibandingkan metode ujian berbasis kertas.
“Pelaksanaan ujian berbasis kertas masih menimbulkan berbagai kendala, terutama dari sisi efektivitas. Melalui ADIPATI, kami merangkum berbagai fitur dalam satu sistem terintegrasi agar pekerjaan Bapak dan Ibu guru menjadi lebih praktis,” ujarnya saat ditemui di lingkungan sekolah, Selasa (3/3/2026).
Berbeda dengan aplikasi ujian daring pada umumnya, ADIPATI dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan ekosistem sekolah secara menyeluruh. Fitur yang tersedia tidak hanya sebatas pembuatan soal, tetapi juga mencakup manajemen nilai secara komprehensif serta akses materi pembelajaran yang dapat dibuka siswa kapan saja.
Terkait potensi kesenjangan perangkat di kalangan siswa, pihak sekolah memastikan tidak ada peserta didik yang tertinggal. Bagi siswa yang tidak memiliki smartphone atau laptop, sekolah menyediakan fasilitas ujian di laboratorium TIK sehingga seluruh siswa tetap mendapatkan akses yang setara.
Sementara itu, guru SMPN 1 Malang, , S.Pd., mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam ujian daring adalah potensi kecurangan. Namun, ADIPATI telah dilengkapi sistem pengamanan berlapis.
“Kami menggunakan Exam Browser Client untuk Android dan Safe Exam Browser untuk iPhone serta laptop. Dengan konfigurasi ini, keamanan sistem lebih terjaga karena siswa tidak bisa berpindah aplikasi saat ujian berlangsung,” jelasnya.
Selain aspek keamanan, ADIPATI juga memudahkan guru dalam memetakan kemampuan siswa. Sistem secara otomatis menganalisis bobot soal dan menampilkan data tingkat kesulitan berdasarkan hasil pengerjaan siswa secara real-time. Dengan demikian, guru dapat segera mengetahui materi mana yang perlu pendalaman lebih lanjut.
Inovasi ini pun mendapat respons positif dari peserta didik. Salah satu siswa, , mengaku merasa lebih nyaman mengikuti ujian digital.
“Menurut saya lebih adil karena sistemnya ketat. Jika ada yang mencoba menyontek, bisa langsung terdeteksi. Kita juga dapat menandai soal yang masih ragu untuk dicek kembali sebelum mengakhiri ujian,” tuturnya.
Ia menambahkan, hasil ujian yang dapat diketahui lebih cepat membantunya memahami bagian materi yang perlu diperbaiki berdasarkan evaluasi guru.
Sebagai langkah antisipasi, sekolah juga telah menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) apabila terjadi kendala teknis, seperti baterai lemah atau gangguan sinyal. Karena jawaban siswa tersimpan otomatis di server, progres ujian tetap aman. Jika perangkat pribadi mengalami gangguan, siswa dapat langsung melanjutkan ujian di laboratorium TIK sekolah.
Penulis: Ganes Danastri Pratista Aura Afra
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































