Oleh: Imam Sodikin
Segala sesuatu di dunia ini tidak pernah berdiri sendiri. Selalu ada kaitan, selalu ada jalinan antara satu dengan yang lain. Begitu pula warkop dengan pemiliknya, pemilik dengan para tamu yang hadir, dan suasana yang terbentuk dari iklim serta budaya tempat ia berada.
Bagi saya, warkop bukan sekadar tempat menjual kopi. Ia hanyalah jembatan menuju dialog. Sejak awal berdiri tiga tahun lalu, niat saya sederhana: menciptakan ruang di mana orang bisa bertemu, berbincang, dan merasakan kehangatan kebersamaan.
Walau secara lahiriah berbentuk warung kopi, di hati saya sesungguhnya ia adalah ruang silaturahmi—tempat lahirnya tawa, keakraban, dan gairah untuk bertemu lagi esok hari. Kini, setelah tiga tahun berjalan, suasana itu benar-benar tercipta. Setiap pertemuan di Warkop Grajen selalu saya dorong agar penuh kegembiraan.
Saya percaya, sudah sewajarnya jika pertemuan antar manusia melahirkan tawa, rasa dekat, dan syukur atas nikmat Allah yang mempertemukan kita. Saya sadar, saya hanyalah manusia biasa. Bukan penulis, bukan penyair, bukan cerpenis, bukan mubaligh, bukan artis. Saya tidak punya panggung seni untuk berekspresi. Namun saya punya warkop, dan di situlah orang datang, duduk, ngopi, lalu berdialog.
Bahkan setiap malam, dari jam sembilan hingga tengah malam, kerapkali kedatangan dulur ngaji. Tema obrolan pun tak terbatas: agama, tauhid, kehidupan sehari-hari, atau sekadar cerita ringan. Dalam bahasa sederhana, saya bukan siapa-siapa. Tapi justru dari posisi itu saya merasa bebas menyampaikan aspirasi, berbagi hal-hal terbaik dalam hidup, dan mendengar suara orang lain.
Warkop menjadi media komunikasi saya dengan masyarakat Kepanjen, bukan dengan orang luar kota, melainkan dengan mereka yang hidup berdampingan sehari-hari. Itulah makna Warkop Grajen bagi saya: bukan sekadar tempat menjual kopi, melainkan ruang perjumpaan, ruang keakraban, ruang di mana manusia bisa saling menyapa tanpa sekat.
Sebuah jembatan kecil menuju dialog yang hangat, penuh makna, dan inshaAllah bernilai ibadah.
*) Penulis Imam Sodikin, pemilik Warkop Grajen di Kepanjen, Kabupaten Malang, dan kontributor aktif Baca Malang
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis




















































